31 Oktober 2014

Novel "Wonder"

Judul: Wonder, don’t judge a boy by his face
Penulis: R. J. Palacio
Penerjemah: Harisa Permatasari
Penerbit: Atria
Cetakan: 1, September 2012
Tebal: 430 halaman
ISBN: 978-979-024-508-2


“Kuharap, setiap hari adalah Halloween. Kita semua bisa memakai topeng setiap saat. Lalu kita bisa berjalan-jalan dan saling mengenal sebelum melihat penampilan kita di balik topeng.”

August (Auggie) Pullman lahir dengan kelainan Mandibulofacial Dysostosis, sebuah kondisi rumit yang membuat wajahnya tampak tidak biasa. Meskipun dia sudah menjalani serangkaian operasi, penampilan luarnya tetap saja terlihat berbeda. Namun, bagi segelintir orang yang mengenalnya, dia adalah anak yang lucu, cerdas dan pemberani.

Auggie mengalami petualangan yang lebih menakutkan daripada operasi-operasi yang dijalaninya ketika dia menjadi murid kelas lima di Beecher Prep. Kalian pasti tahu menjadi murid baru itu bukanlah hal yang mudah. Ditambah lagi Auggie adalah anak biasa dengan wajah yang sangat tidak biasa.


Terenyuh saat tahu bagaimana nasib Auggie. Usianya baru 10 tahun, tapi cobaan hidupnya begitu berat. Banyak orang yang ngeri ketika memandang wajahnya juga takut bersentuhan dengannya. Wabah, istilahnya demikian. Bahkan ada beberapa orang yang dengan tega mengoloknya, walau yang lebih menyakitkan ialah teman yang bersikap baik tetapi itu hanya kepura-puraan.

Ia menderita suatu penyakit yang namanya cukup sulit dihapal oleh anak seusianya. Mandibulofacial dysostosis atau Sindrom Treacher Collins ialah kelainan genetik langka -hanya 1 dari 10.000 kelahiran- yang ditandai dengan perubahan bentuk wajah seperti letak mata miring ke bawah, rahang kecil di bawah, dan perubahan bentuk telinga, atau bahkan tidak adanya telinga. Satu penyebab sindrom ini yang diketahui adalah mutasi pada gen.

Kehidupannya yang begitu tentram karena selalu tinggal di rumah, tiba-tiba berubah saat ibunya memutuskan kalau Auggie harus bersekolah di sekolah ‘yang sebenarnya’. Sebelumnya ibu Auggie berperan menjadi guru dan mengajarinya banyak hal di rumah. Itu karena sejak kecil, Auggie harus menjalani 27 kali operasi untuk menangani bentuk fisiknya. Jadi ia tidak sekolah bukan karena penampilannya yang membuatnya takut dipandang orang lain dengan tatapan menusuk.

Hingga akhirnya ayah dan ibunya menyebut nama Mr. Tushman, kepala sekolah tempat Auggie bersekolah nantinya, Beecher Prep. Terdengar lucu dan Auggie langsung berkata, “Ya”. Ketiganya lalu mengunjungi calon sekolah Auggie. Mr. Tushman sungguh baik dan memahami kondisinya, beliau lalu mengutus 3 orang siswanya untuk menjadi teman pertama Auggie dan mengajaknya berkeliling sekolah. Sikap ketiganya lumayan baik, walau Julian, salah satu dari ketiga teman barunya, sempat membuat Auggie kesal.

“Apa yang terjadi dengan wajahmu? Maksudku, apa kau terluka dalam kebakaran, atau semacamnya?” (halaman 40)

Setelah kunjungan tersebut, Auggie tetap pada pendiriannya, ingin sekolah. Ayahnya yang awalnya berpendapat bahwa Auggie sebenarnya tidak perlu bersekolah, mengatakan sangat bangga pada cara Auggie dalam menghadapi Julian. Katanya putranya itu sudah berubah menjadi pria kuat. Sebaliknya, sang ibu malah cemas dan tidak yakin kalau keputusannya menyekolahkan Auggie ialah tindakan yang benar. Ia tak mau putranya terluka.

Pada hari pertamanya, Auggie mendapat sambutan yang sudah diduganya. Ya, tidak ada yang mau duduk di sampingnya selain Jack, salah satu dari ketiga teman barunya. Pun saat makan siang di kantin, bahkan Charlotte, gadis malaikat yang juga menamaninya menjalani tur kecil di awal mengenal sekolah, tidak tampak. Hingga kemudian ada seorang gadis yang menyapanya, “Hei, apa ada yang menempati kursi ini?”

Dialah Summer, salah seorang yang sebelumnya memperhatikannya sambil berbisik kepada teman-temannya. Summer baik padanya, tapi Auggie lalu mengira bahwa sikap baiknya itu karena disuruh oleh kepala sekolah, sama seperti yang terjadi pada Jack. Karena kesalahpahaman itu, Auggie sempat berjauhan dengan Summer dan semakin merasa bahwa dirinya buruh, sangat buruk.

Ini pendapatku: kami semua menghabiskan terlalu banyak waktu untuk membuat August merasa dirinya normal hingga dia sungguh-sungguh merasa normal. Dan masalahnya adalah, dia tidak normal. (halaman 127)

Via, kakak Auggie, sebenarnya sangat menyayangi adiknya. Namun karena sikap kedua orangtuanya yang terlalu memperhatikan Auggie, membuat dirinya harus menahan diri dan semakin pintar bermain peran kalau kondisinya selalu baik-baik saja. Di masa sekolah menengahnya, Via menemui banyak kesulitan. Hingga kemudian terucaplah kalimat yang membuat hubungannya dengan sang ibu dan Auggie memburuk.

Novel ini dikemas dengan konsep yang menarik. Sudut pandang tidak hanya diambil dari sang tokoh utama, August Pullman, namun juga dari sudut pandang Via, Summer, Jack dan beberapa tokoh lainnya. Bagaimana hingga kemudian orang lain dapat menerima kondisi Auggie, diceritakan dengan alur tak tertebak. Begitu menyentuh, hingga mampu mengoyak emosi di beberapa bagian.

Problema remaja memang banyak macamnya. Bukan hanya masalah fisik, bagaimana memperoleh kepopuleran pun membuat pusing banyak remaja. Hingga banyak cara dilakukan, termasuk menghasut teman-teman dan akhirnya ditasbihkan sebagai tokoh sentral. Bagaimana peran orang tua dan guru, dicontohkan dalam novel berkover merah ini.

Auggie yang malang. Di dunia ini masih banyak yang menilai seseorang dari kondisi fisik. Saya kecewa dengan sikap para pengolok Auggie, tidakkah mereka membayangkan apabila berada di posisi Auggie? Tidak ada yang minta diciptakan tidak sempurna. Tapi Auggie begitu kuat. Ia memiliki kodrat kebaikan hati, kuatnya karakter dan keberaniannya menghadapi kenyataan. Banyak pelajaran yang bisa kita ambil, salah satunya tentang kebaikan.

“Jika semua orang yang ada di ruangan ini berpegang pada aturan bahwa di mana pun kalian berada, kapan pun kalian bisa, kalian akan berusaha lebih berbaik hati dari yang seharusnya ... dunia ini sungguh-sungguh bisa menjadi tempat yang lebih baik,” pesan Mr. Tushman di halaman 410.

Bersedia menikmati kisah untuk menguatkan jiwa dan menggugah rasa syukur? Novel ini layak kalian buru!


3 komentar:

  1. Sepertinya menarik..
    Sayang resensinya cuma sejumput,Hehe

    BalasHapus
  2. wah jadi penasaran nih, mksh ya reviewnya belum baca soalnya

    BalasHapus

terima kasih sudah membaca ^^
tolong berkomentar dengan sopan yaaa... saya suka membaca komentar kalian semua :*