Wednesday, November 5, 2014

Kumcer: "Segitiga"

Judul: Segitiga, setiap sudut punya cerita
Penulis: Dian Nafi dan Nessa Kartika
Penerbit: Hasfa Publishing
Cetakan: 1, 2012
Tebal: vi + 120 halaman
ISBN: 978-602-225-073-9


Aku diculik!

Kesadaran menyergap begitu saja saat dua laki-laki asing bertopi menghempaskanku ke jok belakang mobil Kijang tua. Aku melihat mobil ini di depan kantor cukup lama. Tak mengira mereka ternyata menunggu aku keluar.

Begitu aku keluar kantor, seorang laki-laki setengah baya berkacamata hitam dengan perawakan biasa keluar dari mobil, dan menanyakan arah ke Malioboro. Sebagai seorang warga Jogja yang bangga, aku memberitahunya arah ke Jalan Malioboro dengan tanpa curiga apapun. Jantungku hampir berhenti ketika ia menunjukkan sebuah pisau belati terselip di pinggang dan menyuruhku masuk ke mobil.

“Jangan berani teriak!” seorang laki-laki lain bertopeng di jok belakang mengancamku dengan suara tertahan. Tangan kanannya mencengkeram lengan atasku dengan keras. Tangan kirinya menghunus pisau tepat di urat leherku. Mereka pikir aku akan bertindak bodoh? Berteriak hingga urat leherku yang cantik tergores pisau dingin tanpa dia perlu menggerakkan tangan satu centi-pun?

No way!



Saya gemas dengan wanita yang cintanya berpaling dengan alasan LDR, long distance relationship! Seperti Nuning, tokoh utama novel Segitiga ini. Saya yang bertahun-tahun pacaran jarak jauh karena pekerjaan masing-masing, Alhamdulillah baik-baik saja. Seperti Nuning dan Ryan, hubungan saya dan kekasih juga pernah terpisah jarak antara Jogja – Surabaya. Tapi mungkin karena Nuning galau menunggu hari dilamar Ryan, ia jadi lebih sensitif.

“Aku rindu.”

“Rindu tak menyisakan apapun bagi kita kecuali kehilangan.”

“Tidak mungkin aku tidak merindukanmu.”

“Aku juga rindu, tapi ada saat kita harus menahan diri. Pertemuan kita akan lebih indah.”

Aku tak mampu berkata apa-apa lagi. Ryan sudah memutuskan bahwa pertemuan kami selanjutnya adalah di hari ia melamarku. Jogja – Surabaya sejauh apa sih? Menyebalkan. (halaman 17)

Seakan alpa cita-cita mulia membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah bersama Ryan ... Nuning malah terpesona oleh kharisma atasannya, Faisal. Benar kata orang tua, trisno jalaran soko kulino, cinta ada karena terbiasa. Awalnya hanya pura-pura jadi pacar bosnya, sekedar menutupi gosip miring yang menyebutkan bahwa Faisal adalah pasangan gay Pamungkas, seorang yang berkiprah di partai politik. Namun ternyata lama-lama Nuning terbius pikat ragawi lelaki yang 10 tahun lebih tua darinya ini.

Aku terpanggang oleh pesonanya, setelah berjumpa beberapa bulan ini. kharisma Mas Faisal tak terbantahkan. Dan permintaannya yang aneh itu ... ah. Dalam dekap sekuntum senyum aku dininabobokan tembang nyanyian menggoda. (halaman 49)

Tapi ternyata kedekatan tersebut malah menimbulkan masalah besar bagi Nuning. Bukan hanya berdampak pada hubungannya dengan Ryan, tapi juga mengancam keselamatannya. Nuning sampai diculik oleh orang tak dikenal dan disekap di lereng Gunung Merapi. Tak kapok, Nuning malah kian memantapkan diri karena hati kecilnya mengatakan bahwa ia menyayangi Faisal dan berniat akan selalu di sisinya.

Akankah hubungan Ryan dan Nuning berakhir begitu saja karena Faisal? Lalu bagaimana dengan Pamungkas yang rumornya menyukai bos Nuning di LSM tersebut? Benakan dalang penculikan Nuning ialah Pamungkas? Tapi untuk apa apabila kemudian Nuning dilepaskan kembali dengan selamat dan sehat walafiat? Temukan jawabnya dengan menuntaskan novel ukuran 11 x18 cm ini.


Seperti judulnya, Segitiga bertemakan tentang cinta segitiga, seorang wanita yang galau akan pilihannya yakni Ryan atau Faisal. Sebuah tema yang sering disajikan, namun dikemas lebih unik karena mengupas dunia politik dan sekelumit tentang kegiatan LSM. Cocok dibaca di musim pemilu seperti saat ini.

Tokoh utama ialah Nuning, gadis yang kritis namun juga melankolis. Rasa cintanya pada Ryan memudar seiring seringnya ia menghabiskan waktu di luar jam kerja bersama bosnya. Sosok Faisal tidak dijelaskan secara detail, sehingga kehidupan pribadinya bagai misteri yang menimbulkan banyak praduga. Apakah ia single karena menunggu seseorang yang mungkin Nuning, ataukah ia memang gay?

Setting novel ini berada di sekitar Jogja. Ada latar shelter Trans Jogja yang menjadi tempat bertemunya kmebali Nuning dan Faisal, walau latar spesifik lainnya hanyalah disebutkan berada di kantor LSM dan rumah Nuning. Alur cerita ditulis secara maju mundur, diawali tentang penculikan Nuning lalu flashback pada pertemuan Nuning dan Faisal. Karena sudut pandang menggunakan orang pertama, pembaca jadi lebih mudah memahami gejolak emosi sang tokoh utama dan ikut gregeran dengan sikap 2 lelaki istimewa: Ryan dan Faisal.

Sayangnya ... saya merasa novel ini terlalu singkat. Entah dibatasi oleh ketebalan penerbitan mengingat ini diterbitkan secara indie, ataukah karena digarap oleh 2 orang dengan 2 otak yang berbeda sehingga menimbulkan kesan ‘menggantung’ yang kurang klop. Juga alur yang kesannya terburu-buru, kurang detail penjabaran romantisme sehingga bagaimana hilangnya ‘rasa’ Nuning pada Ryan dapat disebut sebagai kejadian yang terlalu’dipaksa’.

Bersiap menikmati setiap sudut cerita? Nikmatilah setiap lembar novel Segitiga ini.




0 komentar:

Post a Comment