06 April 2015

Soul Reflection, Renungan Jiwa

Judul Buku: SOUL Reflection, Renungan Jiwa
Penulis: Arsaningsih
Penerbit: Penerbit BIP
Cetakan: I, Desember 2014
Tebal: x + 231 halaman
ISBN: 602-249-857-0

Kehidupan yang sarat dengan problema di zaman modern ini, membuat manusia mengalami pendangkalan makna hidupnya. Tujuan hidup menjadi terbatas pada pemenuhan kebutuhan fisik semata, sehingga banyak orang melupakan pentingnya memenuhi hidup dengan cinta dan kasih sayang.

Menjadi pribadi yang penuh cinta sangat dibutuhkan untuk menghadapi tantangan era mendatang maupun saat ini. Koreksi batin atau perenungan yang lebih dalam sangat diperlukan untuk membantu kita senantiasa sadar dan dapat menjadi pribadi yang lebih baik. Perenungan akan menuntun kita menuju kesadaran jiwa yang lebih tinggi.

Dengan kesadaran jiwa yang lebih tinggi, kita akan lebih mudah menjaga pikiran tetap positif, kemudian melahirkan kata-kata positif dan perbuatan positif. Semua hal tersebut akan membuat kehidupan menjadi jauh lebih indah serta penuh dengan kedamaian.

Buku ini menuntun kita untuk memahami kehidupan, bagaimana menciptakan hari-hari penuh cinta dan menyikapi setiap proses kehidupan serta mengolah setiap rasa yang muncul. Memahami dan menerima segala sesuatau yang datang pada diri kita apa adanya, dan secara sederhana menerapkannya dalam keseharian kita.

Buku ber-hard cover dengan latar warna putih disertai potret penulisnya ini membuat saya terhenyak. Secara tidak langsung, ada tamparan keras yang membuat saya berkali-kali mengaca dan bergumam, "Apa yang telah saya pikirkan selama ini? Tuhan begitu Baik, tapi seringkali saya mengingkarinya." Tekad mengubah diri jadi lebih baik kian bertambah usai menamatkannya.

Walau membutuhkan waktu yang lumayan lama, karena biasanya novel ringan hanya saya baca dalam 3 kali duduk, buku setebal 231 halaman ini hampir sebulan ada di tangan tapi dampaknya luar biasa! Bagaimana tidak? Di tiap harinya selalu ada kisah baru dalam kehidupan. Selalu ada kegalauan mendera hingga butuh semacam suplemen sebagai penguat jiwa. Beruntung karya Bunda, panggilan akrab penulis, bak dewa penolong. Di tiap bab selalu ada quote dan uraian pesan yang kembali mendongkrak pikiran positif.
quote
"Setiap langkah adalah semangat untuk mencapai tujuan akhir, menyelesaikan hutang cinta yang belum terselesaikan untuk dapat berbagi cinta dengan penuh kesadaran.

Setiap langkah adalah pencarian cinta untuk melakukan semua tindakan dengan penuh cinta, untuk sampai pada pelabuhan cinta yang terakhir yaitu cinta Tuhan."

Penggalan paragraf dalam Kata Pengantar ini saja sudah menyejukkan hati. Bagaimana tidak akan tertarik pada lembaran berikutnya? Ada quote tentang kerendahan hati yang kemudian disambung dengan petuah rendah hati di halaman 9, dengan sebelumnya kita disadarkan akan tidak baiknya iri hati pada halaman 7.

"Jalanilah kehidupan dengan penuh kesabaran, tanamlah lebih banyak kebaikan, dan penuhi diri kita saat ini dengan kedamaian." (halaman 156)

Karya ibu dengan 2 putra ini menuliskan 75 perenungan pada volume 1 SOUL Reflection ini. Karya ini sebagai bentuk nyata akan kepeduliannya untuk menuntun jiwa sesama umat manusia agar lebih tergugah untuk belajar dan membentuk 'karakter jiwa'. Bonus audio CD-nya pun menetramkan, layak dinikmati sebelum terlelap ke alam mimpi sebagai 'obat' dari hati yang 'sakit'. Atau didengarkan kala pagi agar pikiran dipenuhi perasaan suci dan terdorong mengisi hari dengan berbuat baik pada sesama.

"Kita tahu, kita tidak dapat memuaskan orang lain seperti yang mereka inginkan, tetapi paling tidak kita telah melakukan semua kerja dengan pelayanan terbaik yang kita miliki. Kita pun belajar untuk lebih ikhlas menerima apapun penilaian orang lain atas diri kita." (halaman 226)
layout kece
Saya suka layout-nya yang simpel. Bunga teratai di pojok halaman dengan ukuran lumayan besar mempercantik isinya. Kertasnya juga tidak terlalu mencolok, sehingga membuat mata betah berlama-lama membacanya. Ukuran tulisan juga lumayan besar, tidak seperti buku lain yang memakai font 12. Pada tiap bab, selalu ada hari dan tanggal penulisan, buku ini benar-benar curahan hati Bunda yang berupa perenungan untuk kita semua.

Sayangnya, kalau boleh saya meralat, ada bagian yang dibenahi. Saya lebih suka apabila quote-quote yang berupa satu-dua paragraf yang dicetak dalam ukuran huruf yang lebih besar dari ukuran judul bab, dijadikan satu. Kemudian pesan utama yang dibahas juga hendaknya dijadikan satu. Misalnya:

* Kegagalan
Damai - Melepas Ikatan | Kegagalan | Kesedihan & Sakit Hati | Melepas Keterikatan | lainnya

* Kasih Sayang
Kasih Sayang | Indahnya Berbagi | Cinta Kasih | lainnya

* Bersyukur
Bersyukur | Rejeki Akan Datang Apabila Kita Telah Layak Menerimanya | lainnya

Jadi apabila poin pesan utamanya tidak tersebar, maka akan lebih memudahkan dalam menikmati tiap renungan jiwanya.
daftar isi

daftar isi menurut saya

Daftar istilah yang disajikan di bagian akhir buku memiliki alternatif lain dalam penulisannya. Menurut saya akan lebih baik bila penulisan arti kata asing ditulis pada foot note. Mungkin penulis dan tim penyunting memilih opsi disatukan karena sesuai dengan penulisan ilmiah. Yah, hal ini bukan suatu masalah besar.
kalau ada foot note, lebih asyik
saya dan SOUL Reflection

Saya menyukai buku ini dan menantikan volume selanjutnya. Semoga akan lebih baik dalam penataan tiap bab-nya. Penggunaan kata yang baku sudah apik, tapi andai bahasanya lebih 'ringan' dan disertai sedikit humor, akan lebih mudah dinikmati kalangan remaja dan membuat SOUL Reflection dapat diterima semua kalangan.


Terima kasih atas karyanya, Bunda ^^

24 Maret 2015

Terpikat Dahsyatnya Ibadah Haji


Judul: Dahsyatnya Ibadah Haji (Catatan Perjalanan Ibadah di Makkah dan Madinah)
Penulis: Abdul Cholik
Penerbit: PT Elex Media Komputindo, Jakarta
Tahun Terbit: 2014
Tebal: ix + 233 halaman
ISBN: 978-602-02-4810-3

Buku ini berisi kisah perjalanan ibadah haji penulisnya. Diawali semenjak persiapan, saat mendaftarkan diri untuk menjadi calon jemaah haji, proses manasik haji, ketika di asrama haji, maupun saat keberangkatannya. Secara sitematis dan berurutan diceritakan aktivitas selama di tanah suci, baik itu pengalaman beribadah sesuai dengan yang disyariatkan, maupun pengalaman sehari-hari yang penting untuk dicermati, hingga kepulangan kembali ke tanah suci.

Secara umum, dalam buku ini diceritakan tahap demi tahap pelaksanaan ibadah haji yang disertai gambar keadaan dan kegiatan yang mencakup:
1.    Ibadah thawaf, sa’i, tahallul
2.    Pelaksanaan wukuf di Arafah dan mabit di Muzdalifah
3.    Menetap di Mina dan ibadah lempar jumrah
4.    Thawaf wada’
5.    Kegiatan di Madinah, termasuk Shalat Arbain
6.    Ziarah dan rekreasi di Makkah, Madinah dan Jeddah.

Beberapa tip juga diberikan agar para calon jemaah haji mendapat tambahan ilmu pengetahuan praktis berdasarkan pengalaman penulis.

---

Siapa yang menyangka bahwa pengalaman bertahun-tahun lalu masih terekam apik dalam memorinya? Bahkan terangkum dalam sebuah buku yang membawa banyak hikmah bagi pembacanya. Bukan hanya bisa dijadikan sebagai hadiah bagi mereka yang akan melakoni ibadah haji, buku Dahsyatnya Ibadah Haji ini mampu menyadarkan kaum muda seperti saya untuk lebih dini mempersiapkan diri mengunjungi tanah suci. Ya, seperti judul bab pertama dalam buku ini, tak perlu surat rekomendasi untuk bisa segera mendapat porsi atau jatah kursi ibadah haji. Yang penting niatnya ada, nanti jika Allah berkehendak pasti tidak akan ada lagi yang menghalangi.

“Katanya naik haji itu panggilan. ...,” ujar Pakdhe Cholik, panggilan akrab sang penulis Dahsyatnya Ibadah Haji, seperti yang saya kutip pada halaman pertama dari buku setebal 233 halaman ini.

Dahulu, saya berpikir bahwa mereka yang beribadah haji adalah mereka yang telah sepuh. Entah karena saking mahalnya ongkos ke sana atau karena kesadaran menambah ibadah makin terasah di usia senja, kebanyakan para haji memang golongan usia lebih dari setengah abad. Hingga akhirnya Mama bisa ke tanah suci di usianya yang ke-44 tahun, itupun karena sebagai Tenaga Kerja Haji Indonesia (TKHI). Alhamdulillah gratis. Tapi karena faktor usia, Mama berkisah kalau badannya sedikit keletihan walau kemudian tugas dan ibadahnya lancar jaya.

Dari situ, saya jadi berpikir ... sebaiknya saya bisa lebih dini ke Makkah dan Madinah. Ah bagaimana caranya? Tentu dengan cara menabung dan berniat pergi ke tanah suci. Pun dengan berdoa serta mempelajari tentang ibadah haji dari orang lain. Karena itulah saya paling suka kalau diajak berkunjung ke kerabat yang baru datang dari tanah suci, entah pergi haji ataupun umroh, saya paling suka mendengar ceritanya. Ada kisah seru, haru, lucu yang terangkum jadi satu. Sayangnya, kadangkala saya lupa setelahnya. Beruntung kemudian saya punya buku Dahsyatnya Ibadah Haji. Segala hal terkumpul di dalamnya, mulai persiapan hingga kepulangan, dari hal penting hingga hal kecil yang ternyata sangat bermanfaat namun banyak terlupa. Buku ini bak pengingat yang kuat!

Pada bagian persiapan keberangkatan, selain biaya yang disiapkan, juga harus siap dan tahu apa-apa yang nantinya dikerjakan di tanah suci. Itulah mengapa penulis Dahsyatnya Ibadah Haji mengingatkan akan perlunya mengikuti manasik. Rukun, sunnah, wajibnya proses pelaksanaan ibadah haji diajarkan di kegiatan tersebut. Juga cara pakai baju ihram, thawaf, sa’i, dan tahallul. Kalau sekedar membaca buku sih sepertinya mudah, tapi tanpa latihan praktek tentu kurang mantap. Takutnya nanti terlupa atau malah kurang sah karena tidak memahami cara yang benar. Selain itu, dengan ikut manasik, maka para jemaah akan saling mengenal kawan seperjalanannya. Tambah teman, tambah saudara.

Pada buku ini diceritakan bahwa Pakdhe Cholik pergi ke tanah suci bersama istri dan rombongan KBIH Multazam pada tahun 2006/2007. Walau sedasawarsa berlalu, saya rasa masih banyak kesamaan dengan ibadah haji baru-baru ini. Seperti para jemaah yang di tahun itu dibekali beberapa buku oleh Departemen Agama, seperti: Panduan Perjalanan Haji, Hikmah Ibadah Haji, dan buku Tuntunan Keselamatan, Doa dan Dzikir Ibadah Haji. Baru-baru ini pun Kementerian Agama masih mengeluarkan buku-buku serupa untuk para jemaah. Jadi, walaupun buku ini mengisahkan perjalanan yang sudah lampau, tapi manfaatnya masih terasa karena masih banyak kesamaan situasi dan kondisi.

Justru karena ditulis berdasar pengalaman, Dahsyatnya Ibadah Haji ini dirasa sangat besar manfaatnya. Ada beberapa hal kecil yang malah kadang dianggap remeh, eh ternyata kalau tidak dilakukan malah berakibat fatal. Contohnya ialah membuat checklist barang bawaan seperti yang Pakdhe Cholik ajarkan. Untuk persiapan keberangkatan, harus dipastikan lagi apa-apa yang sekiranya dibutuhkan di tanah suci, berapa jumlah kebutuhannya dan apakah sudah masuk koper atau belum. Lelaki yang pensiun dengan pangkat Brigadir Jenderal TNI di tahun 2006 ini juga mengingatkan agar para calon jemaah tak perlu repot bawa cobek dan munthu karena terbiasa makan sambal terasi di rumah. Kan sekarang zaman praktis, sudah ada saos sambal dan sambal bajak olahan yang tahan lama dan ringan dibawa.

Kalau di tempat saya, masih banyak para calon jemaah yang menyelendupkan ikan asin dan teri dalam tumpukan bajunya. Katanya khawatir rindu dengan makanan khas pesisir ini. Pun karena katanya makanan Arab kurang cocok di lidah orang Indonesia, hingga ikan asin bisa dijadikan alternatif lauk yang murah meriah nan nikmat. Padahal yaa ... kalau kurang hati-hari menyimpan, bisa-bisa baju para calon jemaah berbau kurang sedap dan digigiti kucing serta tikus. Hiii...! Pakdhe Cholik sudah bilang kalau ada banyak penjual makanan Indonesia di Mekkah, makanya baca dong Dahsyatnya Ibadah Haji biar tidak terlalu lebay saay persiapan keberangkatan!

Saya semakin salut sebab buku ini memuat banyak foto yang menggambarkan kondisi di tanah suci. Foto-foto yang terpajang pun bukan sekedar narsis, tapi punya makna dan sebagai pengingat para pembaca. Bagaimana aneka busana yang boleh dipakai seperti yang termuat pada halaman 25, ada juga gambaran pedagang kaki lima yang berlimpah seperti pada halaman 26, aneka penjual makanan yang cocok untuk lidah warga Indonesia seperti yang diabadikan pada halaman 96 , 97 dan 99.

banyak penjual makanan

Bicara soal makanan, ada beberapa akibat dari pola makan. Diantaranya adalah soal hajat. Saking pentingnya hal tersebut karena merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia, Pakdhe Cholik juga mengupasnya pada lembar buku ke 131. Di bagian ini, tawa saya tergelak saat membaca salah satu hal yang manusiawi, yakni tak peduli gelar atau jabatan apapun yang melekat pada individu, apabila sudah waktunya buang hajat maka reaksinya sama. Pasti akan lari dan segera menuntaskan hal mendesak tersebut. Oleh karena itu, penting sekai menjaga pola makan agar tidak berlebih dan sembarangan. Jangan sampai terkena diare. Untuk buang hajat biasa saja, perlu usaha ekstra dengan cara sabar antre. Akan sedikit merepotkan apabila diare menyerang dan tidak bisa diajak kompromi. Karena itulah Dahsyatnya Ibadah Haji ini mengingatkan untuk selalu sedia obatdiare yang cocok untuk tubuh. Apabila tidak punya, boleh minta pada para TKHI.

salah satu bab Dahsyatnya Ibadah Haji

Saat beribadah haji, secara otomatis para jemaah memiliki nyawa kedua yakni paspor. Itulah yang dituangkan Pakdhe Cholik dalam buku solo terbitan PT Elex Media Komputindo ini. Dokumen ini disimpan dalam tas kecil dan harus terus melekat pada badan. Kalau tertinggal, bahaya. Ini adalah identitas dan karena sedang berada di luar tanah kelahiran maka akan sulit apabila suatu waktu tersesat tanpa identitas. Bisa-bisa dideportasi atau malah ditahan karena disangka imigran gelap. Oiya, tambahan pengalaman nih. Mama pernah bercerita bahwa ada salah seorang jemaah yang lupa membawa paspor dan gelang identitas haji. Akibatnya? Beliau ditahan sementara waktu. Di saat rombongannya pulang ke Indonesia, beliau masih kelimpungan mengurusi izinnya di tanah suci. Ckckckc ... Jangan sampai hal terebut terjadi pada diri kita.

kumpulkan batu yuk!

Mempelajari rukun, sunah dan wajibnya ibadah haji akan lebih mudah lewat membaca Dahsyatnya Ibadah Haji. Tidak seperti buku-buku yang membahas dengan serius sehingga malah terkesan memusingkan, bahasa yang digunakan dalam buku ini sangatlah ringan dan mampu dipahami semua golongan. Mama saya yang kurang suka membaca buku saja mau menamatkannya dalam 2 hari. Beliau amat terhibur dengan uraian kisah dan gambaran potret yang menarik hati. Usai membacanya, jadi teringat kembali bagaimana masa indah selama di tanah suci. Ah, sungguh membangkitkan memori, rindu berat dan membuat ingin kembali ke sana. Kapan yaa saya dan wanita yang saya sayang ini bisa sampai sana? Semoga segera, kala Mama masih sesehat dan sekuat ini. Aaamiin.

Bagaimana cara melempar jumrah aqabah dijelaskan secara baik. Ada tips untuk mencari posisi dekat dengan sumur agar lemparan batu bisa masuk sasaran dan tidak mengenai kepala serta bagian tubuh orang lain. Juga tentang bagaimana cara melaui terowongan Mina yang konon merenggut banyak nyawa karena ketidaksabaran dan kurangnya disiplin saat melintasinya. Bagaimana lempar jumrah di hari kedua dan ketiga juga digambarkan secara sersan, alias serius tapi santai. Masuk kuping kanan, meresap dalam hati juga otak dan terkunci hingga tak akan keluar lewat kuping kiri. Pada bab sebelumnya, yakni mengenai wukuf, di Arafah dan Musdalifah pun demikian.

Bagian dari buku ini yang paling saya suka selain gambaran tanah sucinya ialah tentang bagaimana karakter manusia yang ada di sana. Ada banyak pemandangan unik yang disaksikan kemudian dikisahkan Pakdhe Cholik dalam buku ini. Coba saja buka halaman 51, diceritakan kalau ada seorang bapak yang buang hajat di tempat wudhu. Astaghfirulllah ... Selain itu juga ada yang repot-repot beli karpet ukuran beaer dan menghabiskan biaya mahal untuk ongkos kirimnya, padahal di Ampel (Surabaya) banyak juga kan yang jual alas lantai tersebut. Belum lagi ada yang berdesakan saat keluar masjid dan marah-marah pada petugas. Olala, benar kata Pakdhe. Butuh kesabaran ekstra yang harus dilatih dari sekarang agar perjalanan di tanah suci bebas dari hal-hal yang bisa saja mengurangi pahala ibadah haji. Shobar ... Shobar!
saya dan si-buku-kece

Bagian yang saya suka lainnya adalah tentang ziarah dan rekreasi. Saya baru tahu kalau ada yang namanya Masjid Kucing dan Masjid Jin. Apa di sana banyak kucing? Kucing Arab seperti apa sih? Apa segemuk dan selucu kucing-kucing saya? Lalu apa Masjid Jin seindah Masjid Tiban di Turen, Malang? Indahnya jalan-jalan di sana. Pakdhe Cholik saja sampai merasakannya bak honeymoon ketiga. Ih, saya jadi iri. Siapa ya lelaki beruntung yang nantinya bisa mengajak saya bulan madu di tanah suci? Hihi, ingin sekali seperti kedua insan ini yang selama 40 hari menyatu dalam kebersamaan yang suci nan berpahala.

Kekurangan pada buku ini hanyalah kurang cepat terbit. Bayangkan, pengalaman sekitar tahun 2006/2007 baru bisa dikonsumsi khalayak ramai pada 2014 dan baru dibikin lomba resensinya di tahun 2015. Tapi ya namanya jodoh terbit siapa yang tahu. Syukur bisa segera di-ACC penerbit terkemuka, ya kan? Selain itu juga kurang tebal. Pada tiap bab ditulis hanya ada maksimal sekitar 3-4 halaman. Namun itu yang terbaik, daripada terlalu panjang dan terkesan bertele-tele, ‘jatah’ per bab akhirnya membuat isi kian padat, to the point dan tidak mengurangi maksud yang pas sasarannya. Selain itu jadi lebih mudah diingat dan diaplikasikan pembaca.

Pakdhe, terima kasih sudah membuat karya spektakuler ini. Semoga kian banyak manfaat yang dipetik, makin banyak pula pahala yang dituai. Dahsyatnya Ibadah Haji benar-benar inspiratif. Bravo!

15 Januari 2015

FOBoekoe si Toko Buku Murah


Saya bukan maniak buku, sekedar penikmat dan peresensi buku. Kebanyakan buku yang saya punya adalah hadiah dari beberapa orang dan kuis yang saya ikuti. Saya jarang sekali membeli buku. Lucunya ... saya mendadak pusing ketika masuk toko buku. Bingung, mau beli apa. Karenanya, saya lebih menyukai membeli di toko buku online. Selain lebih efisien karena tinggal pilih buku, transfer uang dan menunggu buku datang ke rumah, membeli buku secara online akan membuat saya lebih hemat karena tidak terlalu memanjakan mata dengan beragam buku sehingga memperkeras kerja otak untuk memilih.

Saya sudah mencoba membeli di beragam toko buku online. Dengan demikian, saya bisa membandingkan bagaimana sistem kerjanya. Nah, baru-baru ini saya membeli 2 buah buku di Boekoe Factory Outlet (@FOBoekoe). Pertama kali mengenalnya saat Mbak Nia (@niafajriyani) bikin kuis dengan syarat terlebih dulu follow FOBoekoe. Saya gak menang, tapi bukan berarti langsung un-follow. Kemudian, selain karena harga buku di sana murah meriah, eh ada promo giveaway yang bikin jadi pengen nyoba beli.

Foto buku yang saya beli

Usia FOBoekoe tepat 5 bulan di esok hari, 16 Januari 2015. Saya berharap toko buku online ini akan jadi semakin baik. Yang saya tahu, tim FOBoekoe terdiri dari beberapa orang. Pastinya ada Mbak Nia selaku pelaku promosi via online, baik di twitter, blog maupun facebook. Saya maklum kalau jarang online update buku-buku terbaru karena kesibukan kuliah. Namun baiknya tugas ini tidak hanya dimonopoli, namun juga dibagi dengan cara lain. Bagaimana? Nanti saya jelaskan.

Pada bagian pemesanan dan pengiriman dilakukan oleh Mbak Upi (@upiemeier). Entah mengapa rasanya tugas ini kurang pas dibebankan pada Mbak Upi seorang. Saya merasa ada baiknya tugas inipun tak dimonopoli. Bagusnya pun dibicarakan via Whatsapp Boekoe Factory Outlet, salah satu media yang katanya lebih aktif tim FOBoekoe dipakai dibanding media sosial yang dipunya.

Buku-buku yang tersedia di FOBoekoe adalah buku-buku berkualitas yang masih segel, belum dibuka dari plastik pembungkusnya. Isinya masih terjamin mulus, rapi, tidak ada lipatan maupun coretan. Harganya pun miring, murah banget! Apalagi ada diskon hingga 70%! Bayangkaaaan... ada potongan harga hingga lebih dari setengahnya, bikin ngiler plus mupeng abiiisss... Para pecinta buku pasti bakal nyerbu, nih!

Tapi ...
Kalau dibilang agak kecewa dengan pelayanan FOBoekoe, yaaa... memang begitu adanya. Pertama kali pesan buku di siang tanggal 30 Desember 2014. Saya SMS ke nomor yang diinfokan untuk order. Sayangnya ... responnya lambat sekali. Hingga akhirnya saya mention ke @FOBoekoe sekedar memberi tahu kalau saya pesan, biar buku pesanan saya tidak dipesan orang lain, mengingat ada kata “terbatas” dalam keterangan akun twitter @FOBoekoe.

SMS saya baru dibalas jam 15.10. Dikabari kalau pengiriman baru bisa di tanggal 5 Januari 2015 karena masih di luar kota. Artinya... harus menunggu hampir seminggu untuk pesanan saya. PHP nih, pemberi hubungan palsu... Saya konsumen, bukan sih? Katanya pembeli adalah raja, tapi masih pending nih statusnya. Ngegantung, kalau anak gawuuul bilang.

Nah, di tanggal yang dijanjikan, pihak @FOBoekoe (dalam hal ini mungkinMbak Upi) tidak memberikan informasi apapun tentang pesanan saya. Mungkin memang sistemnya harus pembeli yang aktif ya? Saran saya, kalau memang ingin banyak pembeli, harus pro aktif, jemput bola. Jangan mem-PHP para pemesan yang dijanjikan dilakukan pengiriman di tanggal yang ditentukan.

Saya sampai mengirim SMS dengan tulisan, “Halo, pesanan saya apa kabar?”. SMS yang dikirim tanggal 5 Januari 2015 jam 10.36 itu baru dijawab ESOK harinya. Langsung diberi total tagihan tanpa memberi nomor rekening untuk transfer uang. Akhirnya pembeli (yakni saya) harus kirim SMS lagi untuk konfirmasi sejelas-jelasnya. Ah, jadi kebanyakan SMS.

Kemudian setelah diinfokan nomor rekening, pembeli masih harus kirim bukti transfer via email! Ini ribet! Kenapa tidak pakai sistem e-banking yang bisa langsung mengabarkan kalau ada transferan yang diterima biar tidak merepotkan pembeli? Ada loh layanan BNI Syariah dan beberapa bank lainnya yang hanya menerapkan biaya SMS sebesar 500rupiah untuk sistem ini. Murah, gampang, gak pakai ribet.

Sorenya saya transfer dan baru mengabarkan kalau sudah transfer di malam harinya, sekaligus memberikan alamat pengiriman paket buku pesanan saya. Namun lagi-lagi, tidak ada respon. Baru ada di ESOK SORE HARINYA dengan tanpa memberikan nomor resi pengiriman. Di tanggal 8 Januari 2015 jam 11 siang, baru ada nomor resi pengiriman yang dikirim via SMS yang tanpa disertai keterangan pakai jasa pengiriman apa. Buku baru sampai di tanggal 14 Januari 2014, malam hari.

Jadi... butuh waktu 2 minggu dari awal pesan hingga 2 buku sampai di tangan saya.

Dua paketan yang berbeda

Kebetulan paketan datang bersamaan dengan paketan buku pesanan dari toko buku online lainnya. Kemasannya sangat jauh berbeda. Paketan buku dari FOBoekoe dikemas dengan kertas ala kadarnya, tipis sekali pembungkusnya. Penulisan alamat juga dengan tulisan tangan dan menggunakan kertas sisa skripsi, sepertinya. Sedangkan dari toko buku online lainnya menggunakan ketikan dan ditempel rapi. Kemasannya juga tidak asal-asalan, tebal dan mengamankan isi buku.

Jadi kalau ditanya apa kesan saya terhadap FOBoekoe? Jawabnya adalah: murah dan terkesan murahan. Padahal harapan saya tidak demikian, dikarenakan saya mengenal Mbak Nia dan pernah dapat paketan buku dari Mbak Nia yang manis abis! Sangat amat berbeda sekali dengan paketan buku dari FOBoekeoe. Wah, lebay ya.


Kritikan saya terhadap FOBoekoe:
- Respon lambat
Ada baiknya tugas para tim FOBoekoe tidak dimonopoli satu orang. Untuk tugas promosi online, dikomando oleh Mbak Nia dengan upload stok buku yang ada. Saat Mbak Nia offline, tugas mengisi timeline twitter @FOBoekoe bisa digantikan anggota tim lainnya. Misalnya Mbak Upi mengisinya dengan aneka quote-quote unik dari beberapa buku yang dijual FOBoekoe. Atau sekedar menyapa para followers FOBoekoe biar TL tidak sepi, dan bisa juga dampaknya menambah jumlah followers.

Untuk tugas Mbak Upi yang melayani orderan juga begitu. Apa susahnya sih balas SMS? Kalau masalah tidak ada pulsa, bisa loh SMS para pemesan disalin lalu ditulis di whatsapp FOBoekoe yang katanya jadi media diskusi para anggota tim FOBoekoe. Jadi, pembalas SMS bisa aja nomornya Mbak Nia, biar para pemesan gak terkesan di-PHP. Apa para pembeli juga harus pakai whatsapp untuk order biar responnya cepat? Sayangnya saya tidak pakai layanan itu.

Pengiriman buku juga demikian. Saya tidak tahu apakah FOBoekoe ini punya gedung khusus atau bagaimana. Kalau misalnya stok buku hanya tersusun rapi dalam tempat tertentu, walau bukan gedung besar sekalipun, sebenarnya juga lebih memudahkan untuk pengiriman bukunya loh. Misalnya stok buku tersimpan dalam lemari Mbak Upi. Sedangkan kebetulan Mbak Upi ada di luar kota. Nah, di rumah Mbak Upi kan ada saudara Mbak Upi, atau Mbak Nia bisa datang ke rumah Mbak Upi untuk mengambil buku sesuai pesanan pembeli. Kemudian dibungkus dan dikirim, beres.

- Terkesan pasif
Entah ini memang selalu pasif atau kebetulan saja saat melayani pesanan saya. Kalau memang pesanan baru bisa dikirim tanggal 5 Januari, ada baiknya @FOBoekoe meng-tweet:
Pesanan baru bisa dilayani tanggal 5 Januari 2015. Silakan lihat-lihat dulu ya...
Kalau di twitter tidak ada keterangan demikian sedangnya nyatanya saat pemesanan demikian, artinya mungkin tim FOBoekoe kurang komunikasi. Nah ... sebaiknya jangan pasif yaaa kerja tim pengelola FOBoekoe-nya. Kalau Mbak Upi gak bisa kirim, ya silakan kasih tahu Mbak Nia kalau lagi sibuk dan ada di luar kota. Jadi pesanan bisa dialihkan ke nomornya Mbak Nia, pun sebaliknya. Sekedar saran sih.

Dan lagi, kalau sudah mengagendakan kalau pengiriman baru bisa dilakukan di tanggal yang ditentukan, sapalah para pembeli yang sudah menunggu tanggal tersebut. Misalnya, “Halo. Jadi order?” Gak pa-pa, tidak perlu jaim. Karena di mana-mana, yang namanya jemput bola di zaman sekarang adalah hal penting kalau tidak mau rezekinya diambil orang lain. Menyapa pembeli terlebih dahulu juga memberi kesan plus di mata pembeli: keramahan FOBoekoe.

Kemudian, untuk pemberian detail pembayaran juga lebih diperhatikan lagi. Jangan seperti kasus saya. Misalnya demikian:

Terima kasih untuk pemesanannya. Berikut saya sampaikan daftar buku pesanan Anda:
Huckleberry finn 20 K -- Dracula 15 K
Ongkir 20 K pakai JNE eko
Total 55 K

Mohon transfer ke : ...
Paket buku akan dikirim setelah pembayaran dilakukan.
Terima kasih untuk pesanannya.


- Kemasan Ala Kadarnya
Beruntung 2 buku pesanan saya masih segel, masih dibungkus plastik rapat. Beruntung juga JNE memberikan plastik pembungkus tambahan sehingga hujan badai tidak merusak isinya. Namun hal demikian jangan lantas membuat FOBoekoe asal membungkus pesanan pembeli. Judge a book by its cover  berlaku di dunia bisnis. Semua hal yang diperdagangkan pasti menonjolkan bentuk luarnya. Kalau memukau, akan membuat jumlah penjualan meningkat.

Ada baiknya tim FOBoekoe mengubah pembungkus buku pesanan pembeli. Saran saya, pakailah kertas kado dengan motif yang cantik untuk memberi kesan yang manis. Atau kalau ingin yang lebih murah, bisa pakai kertas sampul yang warnanya cokelat. Dibungkus agak tebal, minimal 2 putaran lah. Kalau yang kemarin saya terima kan hanya 1 putaran, itu biasanya sampai di tangan pembeli dengan kondisi sobek-sobek dan terlihat isinya. Ih! Kalau mau yang lebih murah lagi, paketan buku seukuran pesanan saya kemarin bisa dibungkus dengan 3 lembar kertas HVS putih bersih. Lebih baik, lebih elegan.

Contoh label alamat pengiriman

Kemudian untuk penulisan alamat, saya menganjurkan agar tim FOBoekoe punya beberapa label untuk penulisan alamat pengiriman. Boleh di-print biar bagus, atau difotokopi saja biar jadi banyak dan bisa disimpan untuk pengiriman-pengiriman selanjutnya. Untuk alamat pengiriman boleh ditulis tangan, asal rapi biar enak dipandang. Diletakkan di sudut bawah, sama seperti aturan penulisan surat via pos untuk memudahkan pencarian alamat. Jangan lupa sertakan nomor telepon pemesan. Itu penting, agar kurir tidak nyasar.

Jangan mikir, “Kemasan bagus akan menambah biaya dan membuat keuntungan berkurang.” Tidak sama sekali. Bisa kok paketan dibuat semanis mungkin dengan biaya minim. Ya seperti yang saya sampaikan: pembungkusnya pakai kertas HVS putih bersih, label alamat pengirimnya pakai print ketikan, lalu bisa juga diselotip memutar di bagian luar agar pembungkus jadi makin kuat bak dibungkus dengan plastik.

Yang namanya factory outlet kan kesannya elegan. Stok buku tidak pasaran, eksklusif. Jadi bentuk paketan pengirimannya juga harus elegan, tidak asal-asalan walau harganya murah meriah. Okay?

Untuk jasa pengiriman, tidak harus memakai jasa pengiriman terkenal macam JNE. Banyak kok jasa pengiriman murah terpercaya. Saya yang biasanya kirim-kirim hadiah giveaway, pakai jasa pengiriman murah berkualitas yang status pengirimannya bisa dicek. Saran saya FOBoekoe coba pakai jasa pengiriman Wahana dan KGP. Mungkin kurang terkenal, tapi benar-benar berkualitas walau harganya miring. Saya inginnya FOBoekoe juga demikian, harga boleh miring tapi kualitas tetap nomor 1.

- Kebanyakan menjual buku karya penulis luar Indonesia
Saya tidak tahu mengapa kebanyakan buku yang dijual FOBoekoe adalah buku-buku terjemahan. Kebanyakan masuk di 1001 books you must read before you die. Memang banyak yang berpikiran buku bagus sepanjang zaman adalah karya penulis luar, tapi saya inginnya FOBoekoe juga menambah stok buku karya penulis dalam negeri. Kan katanya cintai produk dalam negeri.

FOBoekoe

Lagipula, ada baiknya sasaran utama @FOBoekoe adalah para pelajar dan mahasiswa. Kebanyakan dari mereka lebih menyukai bacaan ringan macam teenlit dan novel komedi. Coba deh stok beberapa, lalu dipasarkan dengan menyenggol atau mention akun lain yang baik hati me-retweet pada followers-nya. Dengan demikian, FOBoekoe jadi lebih mudah dikenal luas oleh remaja yang hobi baca.


Maaf kalau banyak kritikan yang saya berikan. Harapan saya di usia FOBoekoe yang menapak ke arah setengah tahun ini bisa semakin lebih baik, laris manis dan benar-benar jadi factory outlet-ya buku. Tim FOBoekoe boleh anak kuliahan, tapi kualitasnya harus kayak pengusaha beneran. Moga saran dari saya memberikan gambaran pembangunan FOBoekoe menjadi lebih jreeeng ya ... Harga boleh murah, tapi soal kualitas jangan sampai murahan.