Tuesday, March 24, 2015

Terpikat Dahsyatnya Ibadah Haji


Judul: Dahsyatnya Ibadah Haji (Catatan Perjalanan Ibadah di Makkah dan Madinah)
Penulis: Abdul Cholik
Penerbit: PT Elex Media Komputindo, Jakarta
Tahun Terbit: 2014
Tebal: ix + 233 halaman
ISBN: 978-602-02-4810-3

Buku ini berisi kisah perjalanan ibadah haji penulisnya. Diawali semenjak persiapan, saat mendaftarkan diri untuk menjadi calon jemaah haji, proses manasik haji, ketika di asrama haji, maupun saat keberangkatannya. Secara sitematis dan berurutan diceritakan aktivitas selama di tanah suci, baik itu pengalaman beribadah sesuai dengan yang disyariatkan, maupun pengalaman sehari-hari yang penting untuk dicermati, hingga kepulangan kembali ke tanah suci.

Secara umum, dalam buku ini diceritakan tahap demi tahap pelaksanaan ibadah haji yang disertai gambar keadaan dan kegiatan yang mencakup:
1.    Ibadah thawaf, sa’i, tahallul
2.    Pelaksanaan wukuf di Arafah dan mabit di Muzdalifah
3.    Menetap di Mina dan ibadah lempar jumrah
4.    Thawaf wada’
5.    Kegiatan di Madinah, termasuk Shalat Arbain
6.    Ziarah dan rekreasi di Makkah, Madinah dan Jeddah.

Beberapa tip juga diberikan agar para calon jemaah haji mendapat tambahan ilmu pengetahuan praktis berdasarkan pengalaman penulis.

---

Siapa yang menyangka bahwa pengalaman bertahun-tahun lalu masih terekam apik dalam memorinya? Bahkan terangkum dalam sebuah buku yang membawa banyak hikmah bagi pembacanya. Bukan hanya bisa dijadikan sebagai hadiah bagi mereka yang akan melakoni ibadah haji, buku Dahsyatnya Ibadah Haji ini mampu menyadarkan kaum muda seperti saya untuk lebih dini mempersiapkan diri mengunjungi tanah suci. Ya, seperti judul bab pertama dalam buku ini, tak perlu surat rekomendasi untuk bisa segera mendapat porsi atau jatah kursi ibadah haji. Yang penting niatnya ada, nanti jika Allah berkehendak pasti tidak akan ada lagi yang menghalangi.

“Katanya naik haji itu panggilan. ...,” ujar Pakdhe Cholik, panggilan akrab sang penulis Dahsyatnya Ibadah Haji, seperti yang saya kutip pada halaman pertama dari buku setebal 233 halaman ini.

Dahulu, saya berpikir bahwa mereka yang beribadah haji adalah mereka yang telah sepuh. Entah karena saking mahalnya ongkos ke sana atau karena kesadaran menambah ibadah makin terasah di usia senja, kebanyakan para haji memang golongan usia lebih dari setengah abad. Hingga akhirnya Mama bisa ke tanah suci di usianya yang ke-44 tahun, itupun karena sebagai Tenaga Kerja Haji Indonesia (TKHI). Alhamdulillah gratis. Tapi karena faktor usia, Mama berkisah kalau badannya sedikit keletihan walau kemudian tugas dan ibadahnya lancar jaya.

Dari situ, saya jadi berpikir ... sebaiknya saya bisa lebih dini ke Makkah dan Madinah. Ah bagaimana caranya? Tentu dengan cara menabung dan berniat pergi ke tanah suci. Pun dengan berdoa serta mempelajari tentang ibadah haji dari orang lain. Karena itulah saya paling suka kalau diajak berkunjung ke kerabat yang baru datang dari tanah suci, entah pergi haji ataupun umroh, saya paling suka mendengar ceritanya. Ada kisah seru, haru, lucu yang terangkum jadi satu. Sayangnya, kadangkala saya lupa setelahnya. Beruntung kemudian saya punya buku Dahsyatnya Ibadah Haji. Segala hal terkumpul di dalamnya, mulai persiapan hingga kepulangan, dari hal penting hingga hal kecil yang ternyata sangat bermanfaat namun banyak terlupa. Buku ini bak pengingat yang kuat!

Pada bagian persiapan keberangkatan, selain biaya yang disiapkan, juga harus siap dan tahu apa-apa yang nantinya dikerjakan di tanah suci. Itulah mengapa penulis Dahsyatnya Ibadah Haji mengingatkan akan perlunya mengikuti manasik. Rukun, sunnah, wajibnya proses pelaksanaan ibadah haji diajarkan di kegiatan tersebut. Juga cara pakai baju ihram, thawaf, sa’i, dan tahallul. Kalau sekedar membaca buku sih sepertinya mudah, tapi tanpa latihan praktek tentu kurang mantap. Takutnya nanti terlupa atau malah kurang sah karena tidak memahami cara yang benar. Selain itu, dengan ikut manasik, maka para jemaah akan saling mengenal kawan seperjalanannya. Tambah teman, tambah saudara.

Pada buku ini diceritakan bahwa Pakdhe Cholik pergi ke tanah suci bersama istri dan rombongan KBIH Multazam pada tahun 2006/2007. Walau sedasawarsa berlalu, saya rasa masih banyak kesamaan dengan ibadah haji baru-baru ini. Seperti para jemaah yang di tahun itu dibekali beberapa buku oleh Departemen Agama, seperti: Panduan Perjalanan Haji, Hikmah Ibadah Haji, dan buku Tuntunan Keselamatan, Doa dan Dzikir Ibadah Haji. Baru-baru ini pun Kementerian Agama masih mengeluarkan buku-buku serupa untuk para jemaah. Jadi, walaupun buku ini mengisahkan perjalanan yang sudah lampau, tapi manfaatnya masih terasa karena masih banyak kesamaan situasi dan kondisi.

Justru karena ditulis berdasar pengalaman, Dahsyatnya Ibadah Haji ini dirasa sangat besar manfaatnya. Ada beberapa hal kecil yang malah kadang dianggap remeh, eh ternyata kalau tidak dilakukan malah berakibat fatal. Contohnya ialah membuat checklist barang bawaan seperti yang Pakdhe Cholik ajarkan. Untuk persiapan keberangkatan, harus dipastikan lagi apa-apa yang sekiranya dibutuhkan di tanah suci, berapa jumlah kebutuhannya dan apakah sudah masuk koper atau belum. Lelaki yang pensiun dengan pangkat Brigadir Jenderal TNI di tahun 2006 ini juga mengingatkan agar para calon jemaah tak perlu repot bawa cobek dan munthu karena terbiasa makan sambal terasi di rumah. Kan sekarang zaman praktis, sudah ada saos sambal dan sambal bajak olahan yang tahan lama dan ringan dibawa.

Kalau di tempat saya, masih banyak para calon jemaah yang menyelendupkan ikan asin dan teri dalam tumpukan bajunya. Katanya khawatir rindu dengan makanan khas pesisir ini. Pun karena katanya makanan Arab kurang cocok di lidah orang Indonesia, hingga ikan asin bisa dijadikan alternatif lauk yang murah meriah nan nikmat. Padahal yaa ... kalau kurang hati-hari menyimpan, bisa-bisa baju para calon jemaah berbau kurang sedap dan digigiti kucing serta tikus. Hiii...! Pakdhe Cholik sudah bilang kalau ada banyak penjual makanan Indonesia di Mekkah, makanya baca dong Dahsyatnya Ibadah Haji biar tidak terlalu lebay saay persiapan keberangkatan!

Saya semakin salut sebab buku ini memuat banyak foto yang menggambarkan kondisi di tanah suci. Foto-foto yang terpajang pun bukan sekedar narsis, tapi punya makna dan sebagai pengingat para pembaca. Bagaimana aneka busana yang boleh dipakai seperti yang termuat pada halaman 25, ada juga gambaran pedagang kaki lima yang berlimpah seperti pada halaman 26, aneka penjual makanan yang cocok untuk lidah warga Indonesia seperti yang diabadikan pada halaman 96 , 97 dan 99.

banyak penjual makanan

Bicara soal makanan, ada beberapa akibat dari pola makan. Diantaranya adalah soal hajat. Saking pentingnya hal tersebut karena merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia, Pakdhe Cholik juga mengupasnya pada lembar buku ke 131. Di bagian ini, tawa saya tergelak saat membaca salah satu hal yang manusiawi, yakni tak peduli gelar atau jabatan apapun yang melekat pada individu, apabila sudah waktunya buang hajat maka reaksinya sama. Pasti akan lari dan segera menuntaskan hal mendesak tersebut. Oleh karena itu, penting sekai menjaga pola makan agar tidak berlebih dan sembarangan. Jangan sampai terkena diare. Untuk buang hajat biasa saja, perlu usaha ekstra dengan cara sabar antre. Akan sedikit merepotkan apabila diare menyerang dan tidak bisa diajak kompromi. Karena itulah Dahsyatnya Ibadah Haji ini mengingatkan untuk selalu sedia obatdiare yang cocok untuk tubuh. Apabila tidak punya, boleh minta pada para TKHI.

salah satu bab Dahsyatnya Ibadah Haji

Saat beribadah haji, secara otomatis para jemaah memiliki nyawa kedua yakni paspor. Itulah yang dituangkan Pakdhe Cholik dalam buku solo terbitan PT Elex Media Komputindo ini. Dokumen ini disimpan dalam tas kecil dan harus terus melekat pada badan. Kalau tertinggal, bahaya. Ini adalah identitas dan karena sedang berada di luar tanah kelahiran maka akan sulit apabila suatu waktu tersesat tanpa identitas. Bisa-bisa dideportasi atau malah ditahan karena disangka imigran gelap. Oiya, tambahan pengalaman nih. Mama pernah bercerita bahwa ada salah seorang jemaah yang lupa membawa paspor dan gelang identitas haji. Akibatnya? Beliau ditahan sementara waktu. Di saat rombongannya pulang ke Indonesia, beliau masih kelimpungan mengurusi izinnya di tanah suci. Ckckckc ... Jangan sampai hal terebut terjadi pada diri kita.

kumpulkan batu yuk!

Mempelajari rukun, sunah dan wajibnya ibadah haji akan lebih mudah lewat membaca Dahsyatnya Ibadah Haji. Tidak seperti buku-buku yang membahas dengan serius sehingga malah terkesan memusingkan, bahasa yang digunakan dalam buku ini sangatlah ringan dan mampu dipahami semua golongan. Mama saya yang kurang suka membaca buku saja mau menamatkannya dalam 2 hari. Beliau amat terhibur dengan uraian kisah dan gambaran potret yang menarik hati. Usai membacanya, jadi teringat kembali bagaimana masa indah selama di tanah suci. Ah, sungguh membangkitkan memori, rindu berat dan membuat ingin kembali ke sana. Kapan yaa saya dan wanita yang saya sayang ini bisa sampai sana? Semoga segera, kala Mama masih sesehat dan sekuat ini. Aaamiin.

Bagaimana cara melempar jumrah aqabah dijelaskan secara baik. Ada tips untuk mencari posisi dekat dengan sumur agar lemparan batu bisa masuk sasaran dan tidak mengenai kepala serta bagian tubuh orang lain. Juga tentang bagaimana cara melaui terowongan Mina yang konon merenggut banyak nyawa karena ketidaksabaran dan kurangnya disiplin saat melintasinya. Bagaimana lempar jumrah di hari kedua dan ketiga juga digambarkan secara sersan, alias serius tapi santai. Masuk kuping kanan, meresap dalam hati juga otak dan terkunci hingga tak akan keluar lewat kuping kiri. Pada bab sebelumnya, yakni mengenai wukuf, di Arafah dan Musdalifah pun demikian.

Bagian dari buku ini yang paling saya suka selain gambaran tanah sucinya ialah tentang bagaimana karakter manusia yang ada di sana. Ada banyak pemandangan unik yang disaksikan kemudian dikisahkan Pakdhe Cholik dalam buku ini. Coba saja buka halaman 51, diceritakan kalau ada seorang bapak yang buang hajat di tempat wudhu. Astaghfirulllah ... Selain itu juga ada yang repot-repot beli karpet ukuran beaer dan menghabiskan biaya mahal untuk ongkos kirimnya, padahal di Ampel (Surabaya) banyak juga kan yang jual alas lantai tersebut. Belum lagi ada yang berdesakan saat keluar masjid dan marah-marah pada petugas. Olala, benar kata Pakdhe. Butuh kesabaran ekstra yang harus dilatih dari sekarang agar perjalanan di tanah suci bebas dari hal-hal yang bisa saja mengurangi pahala ibadah haji. Shobar ... Shobar!
saya dan si-buku-kece

Bagian yang saya suka lainnya adalah tentang ziarah dan rekreasi. Saya baru tahu kalau ada yang namanya Masjid Kucing dan Masjid Jin. Apa di sana banyak kucing? Kucing Arab seperti apa sih? Apa segemuk dan selucu kucing-kucing saya? Lalu apa Masjid Jin seindah Masjid Tiban di Turen, Malang? Indahnya jalan-jalan di sana. Pakdhe Cholik saja sampai merasakannya bak honeymoon ketiga. Ih, saya jadi iri. Siapa ya lelaki beruntung yang nantinya bisa mengajak saya bulan madu di tanah suci? Hihi, ingin sekali seperti kedua insan ini yang selama 40 hari menyatu dalam kebersamaan yang suci nan berpahala.

Kekurangan pada buku ini hanyalah kurang cepat terbit. Bayangkan, pengalaman sekitar tahun 2006/2007 baru bisa dikonsumsi khalayak ramai pada 2014 dan baru dibikin lomba resensinya di tahun 2015. Tapi ya namanya jodoh terbit siapa yang tahu. Syukur bisa segera di-ACC penerbit terkemuka, ya kan? Selain itu juga kurang tebal. Pada tiap bab ditulis hanya ada maksimal sekitar 3-4 halaman. Namun itu yang terbaik, daripada terlalu panjang dan terkesan bertele-tele, ‘jatah’ per bab akhirnya membuat isi kian padat, to the point dan tidak mengurangi maksud yang pas sasarannya. Selain itu jadi lebih mudah diingat dan diaplikasikan pembaca.

Pakdhe, terima kasih sudah membuat karya spektakuler ini. Semoga kian banyak manfaat yang dipetik, makin banyak pula pahala yang dituai. Dahsyatnya Ibadah Haji benar-benar inspiratif. Bravo!