16 September 2016

Mitra Bidan dalam Memberi Penyuluhan



Judul: Bahagia Ketika Ikhlas
Penulis: Rena Puspa
Tebal: 186 halaman
Cetakan: I, 2014
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
ISBN: 978-602-02-4557-7
Tema: Parenting


“Aduuuh, sakiit... Aduuuh ...!” rintih seorang ibu. Berkali-kali ia melengkungkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tangannya sibuk mengelus pinggang dan perutnya.

Saya mendekat, memberikan sentuhan lembut padanya seraya berujar, “Tarik nafas panjang, hembuskan perlahan lewat mulut. Istighfar ya, Bu. Berdoa dalam hati, minta bantuan Allah agar dikuatkan dan dimudahkan persalinannya.”

Ibu tersebut kemudian mengangguk. Lega hati melihatnya menuruti anjuran saya.

Masa persalinan memang sangat menyakitkan. Pembukaan jalan lahir yang sedikit demi sedikit menimbulkan rasa nyeri yang amat sangat. Apalagi ambang batas nyeri setiap wanita berbeda-beda. Ada yang tahan sakit, ada yang tidak tahan sama sekali. Ada yang ikhlas menghadapi masa antara hidup dan mati ini, ada yang lupa akan kodratnya sebagai wanita yang melahirkan sang buah hati. Di sinilah peran bidan dibutuhkan, sebagai pengingat agar wanita dapat bersalin secara ikhlas dan dan menolong persalinan secara aman - nyaman.

Saya jadi teringat pada buku Bahagia Ketika Ikhlas yang menjadi teman saya dalam memberikan penyuluhan kepada para wanita yang menjadi mitra saya. Mereka, para wanita yang dalam masa reproduksi, hamil, melahirkan, menyusui dan merawat buah hatinya hendaknya turut jua membaca buku ini. Ada banyak tips yang membantu wanita dalam menuntaskan setiap masalah dengan ikhlas sebagai jurus jitu utamanya. Gaya bahasa yang mudah dipahami oleh semua kalangan, tidak memandang dari faktor lulusan jenjang pendidikan apapun, niscaya isinya akan mudah diserap dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

“... Masih sedikit wanita yang benar-benar mampu merasa bahagia dalam menjalankan tugas kesehariannya menjadi seorang ibu. Lalu mengapa komponen ikhlas harus masuk ke dalam definisi bahagia? Karena hanya dengan hati ikhlas maka bahagia mudah diraih. ...” begitulah cuplikan isi Bahagia Ketika Ikhlas di halaman 2.

Takdir seorang wanita adalah menjadi ibu, baik ibu kandung maupun ibu asuh. Ibu kandung ialah ia yang hamil, melahirkan, menyusui dan merawat buah hatinya hingga tumbuh dewasa. Sedangkan ibu asuh adalah mereka yang hanya merawat serta membesarkan sang anak dengan kasih sayang. Ibu tiri, bunda di panti asuhan, ibu guru, para pengasuh anak, ataupun seorang Tantik (tante cantik) seperti saya dapat disebut sebagai ibu asuh. Walau belum pernah merasakan bagaimana rasanya jadi ibu di masa hamil, melahirkan dan menyusui, namun bila berandil dalam membantu pembentukan karakter anak maka bisa juga disebut ibu asuh.

Seperti yang dijelaskan dalam buku bergambar sampul ibu dan anak berbalut nuansa merah muda ini, di balik sifat lembut dan rasa ingin menyayangi yang ada dalam naluri keibuan seorang wanita, ternyata kebanyakan berpotensi dilanda stres. Seperti kejadian yang saya gambarkan sebelumnya, seorang ibu bersalin merasakan kesakitan yang amat sangat bukan saja karena ambang nyerinya rendah, tetapi juga karena faktor stres yang meliputinya. Bisa karena takut gagal dalam mengejan sempurna sehingga bayi dapat lahir secara normal, ataupun karena cemas akan bentuk tubuhnya setelah memiliki anak.

Padahal apabila melakoninya dengan ikhlas, niscaya seorang ibu akan berbahagia dalam menanti bayinya lahir ke dunia. Rasa sakit yang dirasa juga mampu dihapusnya dengan metode pengalihan rasa sakit setelah merasakan sakit itu sendiri, bukan dengan penolakan rasa sakit yang disertai dengan keluhan yang menghabiskan tenaga. Justru penolakan rasa sakit yang disertai dengan erangan, emosi karena pembukaan jalan lahir kurang cepat, serta menyalahkan para penolong persalinan malah menimbulkan rasa trauma dan wanita jadi kurang merasakan nikmatnya proses menjadi seorang ibu.

Buku setebal 168 halaman yang berisi 6 bab ini, memberikan gambaran tentang 3 masa penting seorang wanita: hamil, melahirkan dan menyusui. Di ketiga masa itu tentunya ada masalah yang membuat stres wanita, untungnya penulisnya memberikan solusi untuk mengatasinya. Ada juga gambaran mengenai macam persalinan yang bisa dipilih, ini juga membantu tugas saya sebagai seorang bidan dan tinggal memberi arahan mana pilihan yang terbaik yang disesuaikan dengan kondisi ibu serta janin.

Saat yang mendebarkan selanjutkan ketika menjadi ibu adalah tentang bagaimana ibu dapat menjaga hubungan baik dengan anak dan suami. Anak akan terus tumbuh dewasa, dari bayi hingga remaja. Akan ada banyak pergolakan batin karena beberapa tingkah anak yang tidak sesuai dengan didikan seorang ibu. Pun pada kedekatan suami istri, akan mengalami perubahan karena kebanyakan terlalu fokus pada peran masing-masing: sebagai ibu yang mendidik dan mengasuh anak, dan sebagai ayah sang pencari nafkah.

Bidan tidak hanya menjadi penolong dalam 3 masa penting wanita, namun juga menjadi tempat curahan hati para ibu. Pertanyaan mengenai bagaimana kalau anak susah makan, bagaimana kalau anak kurang suka belajar, bagaimana agar dekat dengan anak yang sudah remaja, menjadi makanan saya sehari-hari. Beruntung buku Bahagia Ketika Ikhlas tidak memberikan gambaran dangkal tentang tugas ibu, tapi memberi solusi komplit tentang apa saja yang akan ibu hadapi. Jawaban dari segala pertanyaan tersebut dipecahkan dengan membaca bab 3 dari buku ini: Penyebab Stres Eksternal pada Ibu.

“... Bisa jadi karena kita mematok harapan terlalu tinggi terhadap anak, atau bisa juga komunikasi antara ibu dan anak tidak berjalan, sehingga si anak tidak paham apa yang diinginkan si ibu terhadap dirinya, dan si ibu menganggap si anak tidak menurut dengan apa yang sudah dia perintahkan yang sebenarnya untuk kebaikan si anak, sehingga biasanya berujung pada stres si ibu, yang akhirnya menular ke anak. ...” cuplikan dari halaman 41 yang bisa kita ambil hikmahnya.

Saya merekomendasikan buku ini kepada para wanita, entah yang sudah jadi ibu maupun yang nantinya akan menjadi ibu. Bukan hanya bisa sebagai kunci agar selalu ikhlas menjalankan peran, namun juga bisa menjadi acuan agar selalu bahagia. Penulisnya, Rena Puspa, membagikan kisahnya dalam masa menjalani peran sebagai ibu. Jadi buku ini bukan kisah rekaan yang diambil dari inti sari berbagai buku, namun benar-benar curahan hati seorang ibu yang ingin melihat wanita mengambil banyak ilmu dan berbahagia dalam hidupnya.

Para rekan sejawat, baik sesama bidan maupun perawat dan dokter, dapat pula memetik pelajaran dari Bahagia Ketika Ikhlas terbitan PT Elex Media Komputindo ini. Dalam memberikan penyuluhan kepada masyarakat luas, terkadang kita menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang kurang kita ketahui jawabannya karena belum pernah kita temui kasusnya atau karena belum pernah mengalaminya secara pribadi. Buku ini membantu kita dalam mencari jawaban dari berbagai pertanyaan seputar kehidupan wanita dan rumah tangga, juga membuat kita lebih memahami psikologis wanita. Banyak sekali keluhan yang menjadi penyerta sebuah penyakit, sebagian besar disebabkan oleh faktor psikologis. Dengan lebih memahami perasaan para pasien dan mampu memberikan gambaran untuk mengatasi masalah psikologisnya, niscaya akan lebih mudah memberikan pengobatan secara tepat dan efektif.

Tips dan trik sederhana tentang ikhlas juga membantu kita agar lebih ikhlas dalam melakoni profesi. Dengan quantum ikhlas yang juga bisa kita pelajari dari buku Bahagia Ketika Ikhlas, membuat kita menjadi insan yang lebih bisa mengaktualisasi diri. Ya, segala potensi dapat kita gali demi kebaikan masyarakat luas, tak terlalu terpacu pada materi dan lebih bisa menjadi tenaga medis profesional nan maksimal. Dengan langkah ini, InsyaAllah kita dapat meraih sukses dengan menjadi insan yang berguna untuk orang lain.

"Jadi raihlah cinta Allah, maka semesta pun akan mencintai dan menghargai kita," cuplikan kata mutiara di halaman 120.


0 kata para sahabat:

Posting Komentar

terima kasih sudah membaca ^^
tolong berkomentar dengan sopan yaaa... saya suka membaca komentar kalian semua :*