16 September 2016

Menelusuri Benteng Vredeburg

Saat itu jalan-jalan ke Museum Benteng Vredeburg. Terletak di Jl. Jend. A. Yani no 6 Yogyakarta, sebelah pasar Bringharjo, di depan Gedung Juang. 

Salah satu obyek wisata menarik yang dapat dijangkau semua lapisan masyarakat ini pertama kali dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1760. Atas permintaan Gubernur Direktur Pantai Utara Jawa yakni Nicolaas Harting, benteng ini dibangun dengan dalih menjaga keamanan Kraton dan sekitarnya, padahal memudahkan pengontrolan segala perkembangan yang ada di Kraton. Jaraknya dari Kraton Ngayogyokarto hanyalah sejauh 1 tembakan meriam, tentu hal ini membuat Sri Sultan gusar. Sehingga pembangunan awal bangunan ini walau masih sangat sederhana tetapi memakan waktu lama.


Kemudian di masa Van Ossenberg, benteng dibangun lebih permanen. Selesai pada 1787, benteng ini kemudian disebut Rustenburg yang artinya benteng peristirahatan. Saat terjadi gempa hebat di tahun 1867, terjadi banyak kerusakan. Kemudian benteng diperbaiki dan dinamakan Vredeburg, artinya benteng perdamaian. Hal ini melambangkan hubungan antara Belanda dan Kraton yang tidak saling serang. Saat itu Kraton Ngayogyokarto memang disegani, sesuai dengan arti namanya: daerah yang damai dan baik.


Dengan harga tiket 2 ribu untuk dewasa dan setengahnya untuk anak-anak, Benteng Vredeburg bisa dinikmati jam 8 pagi hinggajam 4-5 sore, tutup hanya pada hari Senin. Sebelum memasuki pintu masuk, kita akan melewati sebuah jembatan dengan air mancur di sisi kanan-kirinya. Dahulunya berupa jembatan gantung, sebab selokan atau parit yang dibuat mengelilingi benteng dimaksudkan sebagai perlindungan dari serangan luar.

Ruangan pertama yang dikunjungi ialah ruangan terpojok sisi kiri. Ini adalah ruangan pengenalan, berfungsi sebagai mini studio yang memutar film dokumenter tentang sejarah Vredeburg. Dari sinilah, kita akan dibuat penasaran dengan isi benteng kokoh ini.

Berlanjut ke ruang diorama 1 hingga 4. Namun sebelumnya akan bertemu dengan patung pahlawan kita, bak mengisyaratkan kata,

 "Selamat datang! Kenali sejarah bangsamu. Sebab bangsa yang besar tidak akan melupakan sejarah bangsanya sendiri."

Dua meriam di kedua sisi menunjukkan sisa salah satu alat pertahanan benteng ini. Masih begitu kokoh, sepertinya bisa digunakan. Tetapi melawan siapa? Penjajah terbesar kini ialah bangsa sendiri. Korupsi, kemalasan, anti sosial, itulah yang hendaknya kita lawan. Bukan dengan meriam, tetapi dengan persatuan bangsa.


Di benteng perdamaian ini, ada 4 diorama, yakni:
1.  Diorama I: menggambarkan peristiwa sejarah yang terjadi sejak periode Diponegoro sampai masa pendudukan jepang di Jogja (1825 – 1942)

Sebelum memasuki diorama, ada gambaran denah Benteng Vredeburg. Jadi bisa tahu, setela dari diorama I, mau ke mana lagi. Benteng ini lumayan luas, awas tersesat! Karenanya mengetahui denah itu perlu.




2.  Diorama II: tergambarkan peristiwa sejak Proklamasi hingga Agresi Militer I (1945 – 1947) dalam 19 minirama.

Bagi yang pertama kali ke sini, ruangan ini mengingatkan akan museum Tugu Pahlawan. Terdapat beragam dokumentasi dalam bentuk potret di sisi kanan kirinya. Selain minirama, ada layar sentuh edukatif mengenai sejarah bangsa kita, terutama daerah Jogja.
Salah satu contoh minirama
Contoh alat kedokteran di masa lalu


3.  Diorama III: tentang perjanjian Renville hingga pengakuan kedaulatan RIS (1948 – 1949)

Ruangan ini terletak di sisi belakang diorama II. Jika kurang teliti, kadang tidak mengenali pintu menuju lokasi tersebut, sebab berada di dekat area permainana di diorama II yang lebih menarik mata.


Salah satu contoh papan keterangan minirama

4.  Diorama IV: peristiwa sejarah NKRI hingga Orde Baru (1950 – 1974)
Ruangan ini yang paling 'seram' menurutku. Mungkin jarang yang ke sini, sebab lokasinya agak jaduh dari 3 diorama lainnya. Selain itu, bangunannya kurang terawat. Hawa dingin menusuk langsung menyerang ketika pertama kali membuka pintu. Awalnya aku juga takut, sebab tertulis ada beberapa benda sisa G30S PKI. Tetapi ... Sudah sampai sini, sayang sekali bila terlewati.


Intinya di diorama terakhir, 'suram'.

Sangat menyenangkan menjelajahi benteng. Bisa juga menaiki tangga, menyusuri benteng dan menikmati pemandangan sekitar benteng dari sini.

Buat yang suka makan sepertiku, gak usah khawatir. Di Benteng Vredeburg juga ada cafe-nya. Lapar dan haus, bukan masalah! Asal bawa uang ... :p

0 kata para sahabat:

Posting Komentar

terima kasih sudah membaca ^^
tolong berkomentar dengan sopan yaaa... saya suka membaca komentar kalian semua :*