16 September 2016

Wisata Keliling Desa di Pasuruan

EmakBogor @dwinayusuf lagi bingung nih. Pas weekend (mari kita baca: wiken), ia sekeluarga cuma bisa DRS dengan agenda nonton film bareng a.k.a di rumah saja. Hihi, saya seringnya juga gitu sih. Bukan karena takut boros dengan budget ekstra (kan ada Wisata Murah Pasuruan), tapi memang kondisi fisik tidak memungkinkan. Mau keluar rumah, capai. Semingguan kerja di luar rumah, masih keluar rumah juga saat wiken? Aaaargh! Apalagi tidak semua wiken saya nikmati sebab seringkali kena tugas jaga, hiyaaa....

Tapi ... syukurlah bulan kemarin dan bulan ini, hoki saya gede. Pas wiken, saya libur! Horeee! Asyik-asyikkk... Karena saya hanya berdua dengan Mama di rumah, dan Mama juga liburnya hanya saat wiken, klop deh keberuntungan ini. Coba bayangkan... biasanya ketika saya libur (di hari aktif), Mama saya malah kerja. Yaaa saya sendirian di rumah, plonga-plongo kalau orang Jawa bilang.

Rumah saya berada di pinggiran kota. Masih ada sungai dan segala isinya, sawah, ladang, jembatan kayu, dan sebagainya. Jadi saat wiken, kami biasa keliling, menyusuri sungai, mengunjungi sawah tetangga, minta terong di kebun tetangga #eh, ikutan panen jagung di ladang jagung tetangga #ehlagi. Juga mengulik cara membuat batu bata. Naaah... asyik banget kan? Inilah keuntungan punya rumah yang berada di setengah desa dan setengah kota.


mau jalan-jalan, selfie dulu...
sungai dan jamban sungai
Inilah pemandangan rute yang kami jelajahi lewat Wisata Keliling Desa. Dimulai dengan menyusuri sungai yang banyak ditumbuhi kangkung. Rumah saya dan Mama ada di balik rumah yang tampak pada foto. 


Di Kota Pasuruan, masih ditemukan sekelompok masyarakat yang buang air besar di sungai. WC umum sempat dibuat, namun tidak dipergunakan secara layak. Katanya lebih enak buang hajat di sungai secara langsung. Engg... sebagai petugas kesehatan, edukasi telah diberikan. Tapi kembali lagi pada pribadi yang bersangkutan: mau melaksanakan atau tidak.


masih sudi makan kangkung yang dipetik dari sungai? Hihi...

jembatan kayu
Ini jembatan kayu yang usianya puluhan tahun. Sudah direnovasi, sebelumnya jauh lebih 'seram'.


banyak lubang, hati-hati...

Mama bersiap untuk melintainya. Bulatkan tekad!

Mama berhasil melewatinya, horeee...!

jagungnya masih kecil, belum bisa diminta #eh
Yang asyik pada Wisata Keliling Desa ialah bisa mengeksplor desa. Kami jadi tahu tentang apa saja yang ada di desa kami, jadi tidak kuper (kurang pergaulan). Mengapa harus mengunjungi dan mengelilingi tempat lain kalau tempat sendiri belum dijelajahi? Malah, daerah sendiri bahkan jauh lebih indah dan menyenangkan, bukan?


Mama dan saya (yang motret) berada di daerah pembuatan batu bata
Pada musim kemarau yang panjang seperti sekarang, sebagian penduduk desa kami memanfaatkan tanah yang ada di sawah untuk dibentuk menjadi batu bata. Jadi, tanah liat dibentung balok, lalu dijemur hingga kering. Biasanya memakan waktu maksimal seminggu. Ditumpuk, dibakar, kemudian dijual.

batu bata yang masih mentah

batok kelapa sebagai bahan bakar pembakaran batu bata
Wisata Keliling Desa membutuhkan waktu sekitar 3-5 jam. Tapi kami tidak letih sama sekali. Sebab sepanjang perjalanan, kami isi dengan mengorol, menikmati alam sekitar, duduk-duduk dan selfie. Asyik deh! Sisa waktu wiken kami gunakan untuk istirahat dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti biasa.

Berminat berwisata keliling desa saat wiken seperti saya dan Mama? Coba deh!



0 kata para sahabat:

Posting Komentar

terima kasih sudah membaca ^^
tolong berkomentar dengan sopan yaaa... saya suka membaca komentar kalian semua :*