07 Oktober 2017

Pantangan Ibu Hamil Menurut Adat Jawa




Jadi kapan nih kita belanja?” kemarin sore tiba-tiba Mas Boz, julukan bagi suami saya, melontarkan pertanyaan tersebut.
Belanja apaan?
Baju-bajunya ‘dedek’ …” jawabnya bersemangat.
Saya diam sejenak, lalu berujar, “Bulan depan aja deh. Sekalian langsung dicuci dan di-pack dalam tas. Jadi sewaktu-waktu butuh bisa langsung dibawa.


Usia kandungan saya sudah lebih dari 7 bulan. Namun untuk menyiapkan segala hal bagi sang jabang bayi, saya masih khawatir. Katanya gak ilok kalau sudah siap-siap sebelum waktunya, takut terjadi sesuatu pada kandungan ibu. Tapi banyak juga yang menyarankan setelah 7 bulan bolehlah membeli segala keperluan si ‘dedek’ bayi. Agar tidak repot saat lahiran nanti dan ibu bisa fokus dalam usaha mengejan.


Mama dan Mamih (mamanya suami) meskipun orang jawa tulen tetapi tidak terlalu terpaku pada adat. Yang penting harus ada neloni (selamatan 3 bulanan) dan mitoni (selamatan 7 bulanan). Itupun dibalut suasana Islami, ada pengajian yang menjadi acara utama. Tujuannya mendoakan agar sang ibu dan janin sehat, selamat, dan lancar hingga persalinan nanti. Saya sampai terharu loh, Mama dan Mamih sangat bersemangat menyiapkan kedua acara tersebut. Heboh masak dan enak-enak, yakni untuk sajian para tamu yang datang mendoakan kesehatan saya dan si ‘dedek’.

Saya yang saat ini tinggal di lingkungan keluarga suami, di daerah dimana para adik Mamih tinggal, harus bisa menyesuaikan diri. Jauh dari orang tua membuat saya menjadikan para Tante sebagai panutan pengganti orang tua. Beliau-beliau masih menjunjung tinggi mitos jawa yang beredar. Tujuannya sih baik, agar saya dan suami lebih bisa jaga diri sehingga kehamilan berjalan dengan baik dan terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Ada beberapa pantangan ibu hamil yang harus saya pegang, diantaranya:
1. Membawa benda tajam kemana-mana
--- mitosnya: agar terhindar dari marabahaya dan gangguan makhluk halus.

Para Tante mengingatkan saya agar selalu membawa peniti bila keluar rumah. Ini lebih aman daripada membawa silet, gunting atau pisau kecil. Lebih baik bila juga diberi irisan bawang putih lalu direkatkan pada baju yang dipakai. Saya ‘iya-iya’ saja, meletakkan peniti kecil pada dompet yang selalu saya bawa. Kalau ke luar rumah bersama suami dan saya malas membawa barang, suami yang heboh cari peniti dan disimpan di dompetnya. Mas Boz jadi punya sugesti harus bawa peniti demi keamaan sang calon bayi.


2. Ibu hamil tidak boleh keluar rumah di malam hari
--- mitosnya: di malam hari banyak roh jahat yang suka mengganggu jabang bayi

Mau ke mana malam-malam gini? Jangan suka keluyuran!” salah satu Tante kontan berteriak lantang saat memergoki saya dan Mas Boz yang sudah duduk nyaman di atas motor, bersiap beranjak mau beli martabak di keramaian Krian.

Kami yang mupeng ingin menikmati sajian dari telur tersebut, meringis.


Sudah bawa peniti kok, aman!” seloroh Mas Boz.

Jangan sering keluar malam, kasihan ‘dedek’!

Kalau secara medis, ibu hamil dilarang terlalu sering keluar malam hari karena udaranya kurang baik, banyak karbon dioksida (CO2) dan di jalanan juga banyak asap kendaraan yang tak tampak. Namun saya juga butuh refreshing, sesekali jalan-jalan keliling kawasan rumah sudah cukup membuat saya senang. Apalagi kalau ditambah beli camilan. Kalau hati senang, si janin pasti juga ikut merasa senang. Hihi.



3. Dilarang duduk di tengah-tengah pintu
--- mitosnya: proses persalinan jadi sulit karena proses keluarnya bayi yang macet

Jadi ingat saat sebelum menikah dulu, juga tidak boleh duduk di tengah pintu. Katanya bisa bikin sang pelamar tidak kunjung datang, sulit jodoh. Nah saat hamil, mitos tersebut juga ada. Namun kali ini dampaknya bisa membuat macet dalam proses persalinan karena gangguan di jalan lahir.

4. Dilarang menjahit
--- mitosnya: menutup jalan lahir sehingga sulit lahir, juga menimbulkan banyak jahitan di proses persalinan

Seminggu lalu saya beli mesin jahit mini portable secara online. Langsung saya praktekkan membuat pouch, rencananya bikin banyak sebagai souvenir kelahiran bayi. Saat pamer ke Mama dengan mengirimkan potret hasil jahitan saya via whatsapp, Mama tiba-tiba komentar, “Jangan jahit-jahit lagi. Bahaya!” Tumben.

Saya keukeh ini aman. Lalu saya lanjut membuat pouch yang kedua. Kemudian apa yang terjadi? Mesin jahitnya mendadak rusak! Iya, RUSAK! Padahal baru jadi sebuah karya spektakuler, mengingat saya tidak pernah berhubungan dengan alat jahit apapun.

Karena takut kualat, saya tak lagi menjahit. Rencana membuat souvenir kelahiran saya tunda hingga masa nifas tiba. Toh cara membuatnya mudah. Semoga setelahnya tidak ada pantangan demikian bagi ibu yang telah melahirkan. Huhuhu.

Baca Juga :




5. Ibu hamil dan suaminya dilarang membunuh / menyakiti binatang
--- mitosnya: menimbulkan cacat pada janin. Misalnya memancing ikan membuat sang bayi jadi sumbing. Memotong kaki hewan membuat bayinya pincang atau malah tak punya kaki, dan sebagainya. Dikhawatirkan janin yang dikandungnya akan mengalami hal seperti hewan yang diperlakukan ‘jahat’ oleh ayah atau ibunya.

Secara medis, kecacatan pada janin disebabkan oleh kekurangan gizi selama kehamilan atau adanya kelainan genetik. Namun menyakiti atau bahkan membunuh hewan memang tidak dibenarkan, kasihan. Mas Boz pernah gregetan dengan tikus yang berkeliaran di rumah. Rencananya membuat jebakan tikus, kalau sudah tertangkap lalu dibakar. Sadis!

Saya ingatkan padanya agar jangan melakukan hal tersebut. Kasihan tikusnya. Kalau dia seorang ayah yang harus cari makan untuk istri dan anak-anaknya, gimana? Toh tikusnya tidak merusak makanan kita, hanya suka ke sana-ke mari mencari jalan ke luar-masuk rumah. Jika ingin menikmati ikan goreng, saya juga membeli ikan yang sudah siap untuk digoreng. Tidak perlu menyayat dan membersihkan sisiknya, karena sudah tersedia di welijo tempat saya biasa belanja. Mungkin welijo-nya juga paham pantangan menyayat ikan bagi ibu hamil.


6. Meletakkan handuk di leher
--- mitosnya: janin bisa terlilit tali pusar dan menyulitkan persalinan

Secara medis terlilit tali pusar pada janin diakibatkan gerakan janin yang telalu aktif, sehingga tali pusatnya melilit tubuh janin. Terlalu banyak air ketuban juga berpengaruh pada gerakan janin, ia jadi bebas muter-muter sehingga peluang terlilit tali pusat jadi lebih besar. Oleh karenanya diperlukan pemeriksaan secara utrasonografi (USG) untuk mengetahui kondisi janin di dalam kandungan. Tempat USG murah di Sidoarjo bisa dibaca dilink ini.


Sementara itu dulu beberapa pantangan ibu hamil yang bisa saya ceritakan. Lain kali disambung lagi, ya. Silakan juga share pengalaman selama hamil, pernah dilarang apa saja oleh ibu kandung dan atau ibu mertua? Hihi.



Salam manis,


tha_


8 komentar:

  1. banyak ya Mbak, pantangannya..
    anara percaya nggak percaya sih kayak gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyah. Tapi akhirnya jadi percaya, haha

      Hapus
  2. wah karena aku sih sudah lebih gak ngikuti tradisi jd gak pernah deh pantangan macam2 krn mitos

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya karena faktor pengaruh "orang sekitar"

      Hapus
  3. Kalau mamaku lucu lagi. Katanya jangan pegang pinggang pas hamil nanti bayinya hidungnya pesek. Heu

    BalasHapus
  4. adanya mitos dan pantangan seperti ini kadang juga bisa dijelaskan dengan dengan logika.. namun semua kembali kepada kepercayaan masing-masing.. yang penting tetap berdoa.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyah. Semoga dedek selalu sehat dan normal...lahir dengan selamat

      Hapus

terima kasih sudah membaca ^^
tolong berkomentar dengan sopan yaaa... saya suka membaca komentar kalian semua :*