07 November 2017

Ketika Bidan Menghadiri Acara Bidan:: Sosialisasi Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA) pada Ibu Hamil (bagian 2)



Setelah kekecewaan pada pemeriksaan kehamilan yang telah saya kisahkan pada postingan sebelumnya (baca link ini), saya duduk di kursi yang disediakan kantor kelurahan. Hari semakin siang. Jam menunjukkan angka 11. Para panitia yakni bidan-bidan Puskesmas Krian lalu meminta para ibu hamil untuk duduk manis mendengar sosialisasi yang akan diberikan. Saya berharap semoga sosialisasi yang diberikan tidak mengecewakan dan dapat dipahami oleh para ibu hamil yang datang. Kegiatan ini penting, materi yang disampaikan pun harus diberikan sebaik-baiknya. Percuma kan bila yang datang tidak memahami apa yang disampaikan?


Bu Ernyadi, seorang bidan dari Puskesmas Krian menyampaikan materi yang pertama. Ia memberi gambaran mengapa acara Sehat Selamat dengan antenatal care (ANC) atau pemeriksaan kehamilan terpadu ini diadakan. Harapannya agar dapat menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB), sebab ANC dapat mendeteksi komplikasi kehamilan dan mencegahnya sehingga dapat terjadi persalinan yang aman dan selamat. Asal tahu saja, Sidoarjo merupakan penyumbang tertinggai AKI. Pada bulan September 2017 saja sudah ada 24 ibu meninggal. Innalillahi … Di sini saya berdoa semoga persalinan saya nanti bisa normal, sehat dan selamat. Saya dan bayi dapat bersua dengan bahagia. Untunglah Kecamatan Krian tempat saya tinggal tidak ikut menyumbangkan angka kejadian tersebut, dan diharapkan tidak akan pernah menyumbangkan.


Dinamakan “terpadu” karena berkolaborasi dengan bidang kesehatan gigi dan laboratorium. Sebelumnya saya memang diperiksa giginya oleh drg Aini, katanya ada gigi saya yang miring dan ditakutkan akan mengganggu dan menimbulkan nyeri karena terkena saraf pada gusi. Saya juga mendengar ada ibu hamil yang mengalami karies atau gigi berlubang, dan ini bisa berbahaya bila tidak segera ditambal. Kesehatan gigi sangat penting dalam kehamilan karena keduanya sangat berhubungan. Apabila ibu hamil sakit gigi, tentunya akan malas makan dan berakibat kurangnya pemenuhan gizi dalam kehamilan.

Saya juga diambil darahnya oleh Mbak Kristin, staf laboratorium di Puskesmas Krian. Rasanya tidak sakit, jarum langsung pas masuk di pembuluh vena lengan. Proses pengambilannya pun cepat. Karena saya sudah tahu apa golongan darah saya, Mbak Kristin bilang tinggal diperiksa berapa kadar hemoglobin (Hb), gula darah acak (GDA), cek adakah penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Hepatitis B Surface Antigen (HbsAg) dalam tubuh saya. Untuk periksa air kencing / urine, karena saya sudah pernah periksa dan hasilnya tidak ada masalah maka tidak dilakukan lagi. Sedangkan ibu-ibu hamil lainnya diminta contoh urine-nya yang dimasukkan dalam wadah kecil yang telah diberi nama masing-masing, gunanya untuk dilihat apakah punya kencing manis dengan tes reduksi ataukah ada keracunan kehamilan yang menyertai dengan dicek albumin urine-nya.

Bu Ernyadi mengatakan bahwa bila ada ibu hamil yang positif hasil tes HbsAg-nya maka artinya menderita penyakit hepatitis. Kalau istilah awamnya: sakit liver atau sakit kuning. Pengobatannya dengan pemberian vaksin. Masalahnya harganya cukup mahal, sekitar 3 juta. Tapi syukurlah pemerintah telah menetapkan program pemberian vaksin gratis menggunakan kartu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Bagi yang tidak punya kartu tersebut, dapat ke tempat rujukan dengan diantar bidan desa setempat dengan rekomendasi Dinas Kesehatan. Dengan memakai cara ini juga bisa mendapat vaksin hepatitis gratis. Untuk penderita hepatitis itu sendiri, terutama pada ibu hamil, tidak perlu minum obat. Cukup jaga daya tahan tubuh dengan pola hidup sehat dan konsumsi makanan bergizi.

Lalu bagaimana dengan penderita HIV yang sedang hamil? Memang angka kejadian penularan penyakit ini dari ibu hamil ke bayinya cukup tinggi mengingat penularannya bisa lewat darah ibu yang juga mengalir ke janin melalui plasenta, ketuban serta Air Susu Ibu (ASI). Nah info inilah yang harus diketahui oleh ibu hamil. Sayang sekali di acara ini tidak fokus pada info tentang Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA) pada ibu hamil, padahal banner sebesar itu sudah berjudul demikian. Lalu bagaimana tindakan PPIA-nya? Hmm… Padahal sudah semangat datang dan mendengarkan, tapi ternyata … nihil. Kapan-kapan saya buat sendiri postingan tentang ini ya berdasar apa yang saya pahami.

Kecewa?
Sama!

Semoga acara selanjutnya bisa lebih baik. Mungkin kurang koordinasi, jadi inti acara tidak tersampaikan dengan baik. Syukurlah sebelum acara ditutup, ada senam hamil. Walau jauh melenceng dari tema sosialisasi yang diharapkan, namun lumayan nambah pengetahuan para ibu hamil. Saya juga ikut gerak badan, mengingat materi senam hamil yang dulu sering saya praktekkan semasa masih bekerja sebagai bidan pelaksana. Jadi baper kangen kerja …

Sampai di sini dulu ya…


Salam manis,

tha_




2 komentar:

  1. jadi yang dijelaskan apa mbak kalau bukan yang PPIA??? kok saya jadi penasaran mereka sosialisasi apa yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di pemeriksaan kehamilan lengkap sih yang lumayan menurut saya. Pengarahannya malah global, gak sesuai tema. Hihi. Yaaa yg saya sampaikan ini deh, hanya demikian

      Hapus

terima kasih sudah membaca ^^
tolong berkomentar dengan sopan yaaa... saya suka membaca komentar kalian semua :*