16 November 2017

Seputar Impian Mama dan Kenyataan yang Ada



Seorang wanita pada kodratnya adalah menjadi ibu, entah itu dengan melahirkan sendiri buah hatinya dan atau dengan mengasuh serta mendidiknya hingga menjadi generasi yang lebih baik lagi. Seperti Mama saya, beliau melahirkan, mengasuh dan mendidik saya hingga menjadi seperti sekarang ini. Harapan beliau, lepas sekolah 3 tahun di akademi kebidanan, saya bisa menjadi bidan profesional sesuai impiannya yang dulu tidak kesampaian. Mama saya seorang perawat, dulu sempat ingin lanjut sekolah bidan karena seringnya menolong persalinan. Karena terbatas pada kondisi perekonomian kala itu, dana yang inginnya beliau kucurkan untuk melanjutkan pendidikan harus teralihkan menjadi sebuah bangunan kokoh bernama rumah.


Sebagai anak perempuan satu-satunya, Mama sangat berharap saya menjadi bidan. Dengan ilmu kesehatan yang dipunya, minimal bisa menjaga kesehatan diri sendiri serta keluarga. Bahkan juga bisa membantu orang lain, terlebih bila bekerja pada instansi kesehatan seperti rumah sakit dan Puskesmas. Bisa merasakan serunya menolong persalinan dan mengerti cara menangani aneka kasus reproduksi lainnya. Impian Mama tersebut sempat saya wujudkan, sayangnya tak lama.

Sebelum menikah, selama beberapa tahun saya mengabdikan diri pada instansi Rumah Sakit Pemerintah Kota Pasuruan. Seragamnya ditentukan. Padahal saya sendiri punya keinginan memakai baju kerja yang eye catching seperti yang dipakai peran sekretaris di beberapa sinetron. Begitu elegan dan cantik, koleksi baju kerja wanita cek di sini. Tetapi karena saya bekerja di bidang kesehatan, tentunya pakaian harus sopan dan tidak menyolok. Biasa saja, yang penting kerjanya bagus dan memuaskan para pasien.

Seragam kerja hari Jumat - Sabtu di rumah sakit Pasuruan

Seragam itu sendiri fungsinya agar bisa membedakan mana petugas kesehatan, petugas kebersihan, petugas rekam medik, dan pihak manajemen rumah sakit. Jikalau para bidan pakai baju bak sekretaris, bisa-bisa dikira pihak manajemen yang melakukan malpraktek pada para pasien. Pun seragam ini sebagai bentuk kekompakkan tim, sama semua dan tidak ada kesenjangan antara yang pegawai kontrak dan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Kami juga bisa lebih konsentrasi bekerja tanpa berangan, “Baiknya besok pakai baju kerja yang mana ya?”

Gaji pertama saya kala itu untuk makan-makan bersama Mama, sisanya ditabung. Inginnya beli dompet kulit wanita branded seperti teman-teman, tapi pesan Mama lebih baik sisanya disimpan agar punya tabungan. Iya sih¸ wajib punya tabungan. Usia sudah kepala 2, mau beli apa-apa mestinya pakai uang sendiri. Jangan sampai minta Mama, malu! Masa terus merepotkan beliau?

Hingga kemudian saya memutuskan hendak menikah dan saat itu calon suami meminta saya resign. Sempat galau … kalau saya tidak bekerja lagi, apa tidak apa? Saya pun bertanya pada Mama, sebab beliau yang menyekolahkan saya dan sangat berharap saya jadi bidan. Saya tidak ingin mengecewakannya.

“Istri adalah tanggung jawab suami. Kalau kamu menikah, sudah bukan tanggung jawab Mama lagi. Ganti suamimu yang menjagamu. Kamu harus lebih menurut padanya,” inilah jawaban Mama yang membuat saya menitikkan air mata.

Kebetulan masa sebelum saya melangkah ke pelaminan ialah masa-masa perpanjangan kontrak bagi pegawai kontrak seperti saya. Dengan berat hati, saya menolak tawaran dari pihak manajemen. Mereka sempat mencibir, “Apa pekerjaan calon suami Artha sampai dia yakin tidak mau bekerja lagi?” Banyak rekan sejawat yang juga langsung bertanya pada Mama, mengapa memperbolehkan saya tidak lagi menjadi bidan di rumah sakit.

Apa mau dikata. Usai menikah, saya dan Mas Bos (suami) tinggal di rumah kami sendiri di luar kota. Jarak Sidoarjo – Pasuruan yang lumayan, tidak mungkin saya tempuh demi mencari nafkah yang bahkan bisa dipenuhi oleh Mas Bos. Apalagi ketika saya positif hamil sebulan setelah menikah, Mas Bos ingin saya benar-benar di rumah dan menjaga buah hati kami. Ia sosok yang bertanggung jawab dan siaga menjaga kondisi saya yang berbadan dua. Mengantar cek kondisi janin via ultrasonografi (USG), rajin mengingatkan saya agar rutin minum vitamin, menuruti segala keinginan saya dan lain sebagainya.

Sebagai istri, saya mengikuti pesan Mama agar menuruti apa keinginan suami. Rela tidak lagi mengamalkan ilmu di fasilitas layanan kesehatan. Harus ikhlas dan meminta maaf pada Mama karena tidak lagi menjadi bidan di rumah sakit. Namun bukan berarti impian Mama akan berhenti sampai di sini, sebab Mas Bos lebih menganjurkan saya membuka praktek bidan di rumah suatu saat nanti. Alhamdulillah …


Setelah ini semoga saya bisa membuat Mama bangga memiliki putri yang bermanfaat bagi orang lain. Menjadi bidan profesional yang tidak hanya berpatok mencari keuntungan secara finansial, tetapi bekerja dengan tulus ikhlas membantu sesama wanita. Bidan yang menjadi sahabat para wanita. Setelah ini … setelah saya dapat melahirkan dengan normal, lancer dan selamat. Semoga. Mohon doanya ya …


6 komentar:

  1. Amiiin...semoga terwujud bisa buka praktek dirumah ya. Semoga tetap menjadi istri pak su dan anak mama yg membanggakan

    BalasHapus
  2. Good choice mbak.
    Tapi... tetap harus mengamalkan ilmu yang sudah didapat, apalagi ilmunya sangat dibutuhkan banyak orang. Abis ini buka praktik sendiri di rumah ya.

    BalasHapus
  3. aamiin. Saya sendiri bukan bidan, tapi cita2 pengen ada anak yang jadi bidan atau dokter, padahal katanya cita2 kuno atau dikira ingin berbangga2. Sederhana aja, zaman sekarang merawat lansia aja udah mau pake robot, mosok pas sakit atau melahirkan juga harus dibantu robot? hiks *lah curhat

    BalasHapus
  4. Keputusan yang berat pastinya ya Mbak.

    Aku juga sempat kepikiran soal ini. Ketika ibuku diusianya yang sekarang masih bekerja, lantas besok kalau aku menikah, ndilalah dapat suami yang memintaku untuk tidak bekerja, gimana perasaan ibuku ya?!

    Kayaknya ibuku bakal sama kayak ibunya Embak, meminta kita mengikuti apa kata suami.

    Baru kepikiran aja rasanya berat gini. Tapi kalau udah dijalani, pasti bisa ya mbak? Hohoho

    BalasHapus
  5. Wah Mamanya bijak sekali ya, bun. Pasti tidak mudah untuk beliau jg menerima ketika bunda tidak akan bekerja lagi. Tetapi bisa ngasih saran yg bjak pada anaknya. Salam utk mamanya ya ��

    BalasHapus
  6. Salam buat Mama yg keren mbak, bisa membagi hati. Semoga persalinannya lancar ya, terwujud cita2 buka praktek sendiri. Amin.

    BalasHapus

terima kasih sudah membaca ^^
tolong berkomentar dengan sopan yaaa... saya suka membaca komentar kalian semua :*