28 November 2017

Sumber Karbohidrat Bukan Hanya Nasi



Walau kami tinggal beda kota, hampir tiap minggu Mama mengunjungi saya. Katanya jaga-jaga, kuatir kalau saya tiba-tiba melahirkan tapi tidak ada yang menemani. Ah Mama … padahal Pasuruan – Sidoarjo jaraknya lumayan, namun rela nyetir sendiri ke sini. Kasih seorang ibu sungguh luar biasa.


Tiap Minggu pagi, selalu Mama yang meracik sarapan. Mungkin tujuannya agar saya bisa melepas rindu akan rasa masakan beliau. Mama selalu menghalau saya yang ikut sibuk membantu, hanya diberi tugas yang ringan seperti mencuci dan memotong sayur buah. Katanya biar tak capai, kasihan yang di dalam perut. Padahal minggu-minggu ini memang sudah masanya melahirkan, banyak aktivitas bukan masalah dan malah baik agar badan tidak kaku.

“Kita sarapan apa, Ma?” tanya saya pada Mama.

Mama tak menjawab. Beliau sibuk dengan perabot dapur ukuran besar yang disebut dandang atau periuk. Asap mengepul di sela tutupnya. Tak lama, Mama mematikan api, mengangkat tutup periuk lalu terciumlah aroma wangi yang membuat perut makin keroncongan. Aroma khas, antara campuran bawang putih, garam dan ... singkong!

“Sarapan pohong, ya?” Sepiring singkong rebus lantas tersaji manis di atas meja. “Enakkk!” seru Mama ketika mencoba makanan sederhana buatannya sendiri.


Saya terbengong-bengong melihatnya. “Memangnya bisa kenyang, Ma?”

“Memangnya yang bisa membuat perut kenyang hanya nasi? Singkong juga mengandung karbohidrat, sama seperti nasi, jagung, ubi, dan juga sagu. Jangan pilih-pilih makanan begitu. Syukuri apa yang ada. Yang penting kan kandungan gizi tercukupi, lagipula rasanya tidak kalah sedapnya dengan nasi.”

Ah ya ... Benar kata Mama. Bersyukur saya masih bisa makan makanan yang sesuai dengan kebutuhan tubuh. Makannya juga bukan itu-itu saja, tapi beraneka ragam dan tidak membuat lidah ini bosan mengecapnya. Perut juga kenyang. Kandungan gizinya juga ada, karbohidrat komplek. Selain untuk sarapan, juga bisa sbagai kudapan lezat. 

Bersyukur negara ini begitu subur sehingga beragam tanaman dapat tumbuh, berkembang, hingga berbuah aneka rupa. Beberapa waktu lalu saya membaca berita yang menyebutkan bahwa ada negara yang tidak sekaya Indonesia. Untuk mencukupi kebutuhan pangan, masyarakatnya sampai berubah menjadi suku kanibal. Adalah Republik Kongo, salah satu tempat yang memiliki suku pemakan sesama manusia. Negara ini kondisinya porak-poranda karena perang di tahun 1998. Kelaparan begitu merajalela, hingga pada 2010 diperkirakan ada 45.000 orang Kongo tewas tiap bulannya.

Masih di benua Afrika, Nigeria juga merupakan negara yang tidak memiliki keanekaragaman makanan sekaya Indonesia. Wilayahnya yang hampir 80% tertutup luasnya gurun sahara, menjadi sebab utama. Maka, kurang sayang apa Allah pada kita? Negara kita dijuluki zamrud khatulistiwa. Ada sawah dan ladang sarat makanan yang terbentang dari ujung barat hingga timur, utama hingga selatan.

Keanekaragaman pangan adalah anekaragam kelompok pangan yang terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, sayuran dan buah-buahan dan air serta  beranekaragam dalam setiap kelompok pangan. Masyarakat kita terbiasa makan dengan lebih dari satu jenis makanan. Walau dalam kondisi kekurangan sekalipun, masyarakat kita pasti makan dengan makanan pokok yang disertai lauk. Misalnya makan dengan sepiring nasi dan lauk tempe goreng. Atau makan sagu dengan sayur daun singkong. Atau mungkin makan singkong rebus dengan kacang rebus. Selalu ada kombinasi, karena sejak dini masyarakat kita telah terdidik dengan anekaragam makanan untuk dikonsumsi.

Makanan yang cukup menjamin kelanjutan hidup manusia. Kata “cukup” ini bisa ditilik baik dari segi kualitas maunpun kuantitas. Dari segi kualitas, masyarakat kita memikirkan juga bagaimana gizi makanan yang dikandung. Sedangkan dari segi kuantitas dinilai dengan menggunakan Parameter Tingkat Konsumsi Energi (TKE) dan Tingkat Konsumsi Protein (TKP). Bila kedua hal tersebut terpenuhi, niscaya tidak akan ada masalah dalam pemenuhan kebutuhan gizi.

Gizi terpenuhi dengan tersedianya sumber tenaga, protein, serta vitamin dan mineral. Sebagai sumber tenaga, dibutuhkan makanan yang mengandung karbohidrat. Kandungan ini ada dalam nasi, jagung, ubi, singkong, kentang, gandum dan juga sagu. Tidak harus dalam sehari 3 kali, manusia mengkonsumsi nasi sebagai sumber karbohidrat. Boleh juga kok dikombinasi, misalnya pagi sarapan ubi rebus, siangnya pakai nasi dan malamnya kentang goreng.

Protein merupakan zat pembangun tubuh. Memperbaiki sel-sel yang rusak, mengatur metabolisme tubuh, membantu proses tumbuh kembang anak, adalah sebagian dari fungsi protein bagi tubuh. Protein terdiri dari protein nabati dan hewani. Keduanya sama pentingnya. Protein nabati diperoleh dari kacang-kacangan sedangkan protein hewani diperoleh dari telur, susu dan daging.

Untuk vitamin dan mineral didapat dari mengkonsumsi sayur dan buah. Kedua zat ini berguna untuk membuat tubuh dapat menjalankan fungsinya masing-masing dengan normal. Pun dapat menambah kekebalan tubuh agar tidak rentan sakit. Indonesia yang beriklim tropis membuat sayur dan buah dapat tumbuh dengan baik. Maka tentu tidak akan kesulitan untuk mengkonsumsi kedua macam bahan pangan ini. Di halaman saya saja tumbuh dengan subur aneka sayuran seperti bayam, kelor, sawi dan singkong yang daunnya dapat diolah jadi masakan sedap. Pohon berbuah seperti mangga dan jeruk juga tumbuh subur.

Dengan makanan yang berselang-seling akan menjauhkan rasa bosan terhadap suatu makanan tertentu dan meningkatkan daya konsumsi. Cara ini juga bisa dipakai untuk mengenalkan makanan pada si kecil, agar anak mau makan dan tidak rewel. Anak mudah jenuh terhadap suatu hal yang monoton. Dengan pengenalan anekaragam makanan secara bertahap akan membuatnya mengenal bermacam makanan, menjauhkannya dari alergi, dan kebutuhan gizi akan perkembangannya jadi terpenuhi.

Jadi, masih memandang sebelah mata akan kekayaan negara kita?
Bersyukurlah wahai warga negara Indonesia ...
Tidak akan kau temui hangatnya  singkong rebus, serunya makan sagu, lezatnya nasi jagung, serta uniknya sate kentang di negara lainnya.




11 komentar:

  1. Aku suka singkong rebus, nasi jagung juga, kalo sagu belum pernah nyobain :)

    BalasHapus
  2. aku suka banget nasi jagung sama saturnya itu plus ikan wader
    duh... endes...

    BalasHapus
  3. Saya masih ingat betul saat di kampung halaman di samping rumah ada kebun singkong
    kalo lagi panen gitu di bikin getuk kadang hanya di rebus, di goreng untuk menikmati cemilan di pagi dan sore hari.

    memang bener bener harus bersykur kita, tanah ini begitu subur
    seprti kata lagu Tongkat dan kayu bisa jadi tanaman

    BalasHapus
  4. Indeed
    Aku udah nyobain semua dongs
    Nasi, kentang, singong, sagu, ubi jalar, gandum (roti/mi), dll
    Dan suka semuaaa

    BalasHapus
  5. Aku suka banget singkong rebus, tapi walaupun sudah makan singkong, tetep aja kudu makan nasi, rasanya rasa belum makan kalo belum makan nasi hihihi susah ya mindsetnya orang Indonesia XD

    BalasHapus
  6. Kalau pulang kampung, bisa makan singkong sepuasnya langsung ambil di pekarangan..memang karbo nggak hanya nasi saja ya mbak, sy justru lebih suka nasi jagung daripada nasi putih sebenarnya..tapi di Jakarta susah. Kadang ibu sengaja bawain tiap kali pulang.

    BalasHapus
  7. saya juga mulai belajar mengurangi nasi... lumayan, stamina lebih fit

    BalasHapus
  8. kentang dan singkong jadi favorit saYA kalo lagi males makan nasi.

    BalasHapus
  9. Enak tuh Mbak, aku sukak ubi, singkong, jagung. Kenyang jugak sik, tapi lebih nampol nasi :D

    BalasHapus
  10. alhamdulilah bersyukur tinggal di Indonesia apalagi skrg dikampung wkwkwk bisa nikmatin semuanya plus klo tetangga panes bisa kebagia dah 🤣

    BalasHapus
  11. 45.000 orang kongo tewas tiap bulannya , sadis ah beruntung tinggal dinegeri yg kaya seperti indonesia ini,

    BalasHapus

terima kasih sudah membaca ^^
tolong berkomentar dengan sopan yaaa... saya suka membaca komentar kalian semua :*