11 Januari 2018

Siapa Suruh Jadi Bidan?


Bagi sebagian orang, masa remaja ialah masa terindah yang tidak akan dilupakan. Di saat itu terjadi banyak perubahan fisik dan emosi, muncul perasaan-perasaan yang berbeda lalu datanglah cinta pertama. Namun bagi saya, masa remaja akhirlah yang merupakan masa tak terlupa. Meski tak selalu indah, tapi selalu dikenang. Pembelajaran menjadi manusia dewasa dimulai di titik ini.



Ada banyak hal yang saya pelajari di bangku kuliah semasa berada pada usia remaja akhir. Bagaimana memahami diri sendiri, mencintai keputusan yang diambil dan bahagia dalam menjalani garis kehidupan. Tentu hal-hal yang terkesan sepele ini tidak saya dapatkan secara mandiri, tetapi dari warisan ilmu dan pengalaman dari para dosen. Yang paling saya ingat adalah apa yang disampaikan oleh Bu Evi.

Saya kuliah di jurusan kebidanan. Tentu ini bukan jurusan yang mudah dijalani oleh orang yang lemah dalam menghapal seperti saya. Banyak tugas aneka mata kuliah yang harus dituntaskan tiap harinya. Ada banyak istilah yang wajib dihapal dan mengerti. Ada banyak aturan yang wajib dipatuhi dalam keseharian.

Mengeluh?
Di tahun pertama, saya hampir menyerah. Nilai indeks prestasi (IP) saya pun terendah. Saya putus asa, merasa jurusan ini benar-benar di luar kemampuan saya. Mengingat pula bagaimana saya masuk di jurusan ini atas anjuran Mama.

Karena terlanjur masuk, saya jadi asal-asalan. Yang penting kuliah, nilai tak jadi masalah. Apa ilmu yang didapat, urusan nanti. Yang penting absen penuh. Yaa memang tidak bisa membolos juga, sih. Sebab saya tinggal di asrama, tidak ada alasan sakit yang membuat bolos ikut mata kuliah.

Hingga suatu hari kelas diisi Bu Evi. Saat itu beliau mengisi tentang pendokumentasian dalam kebidanan. Alih-alih membagikan materi, beliau malah bertanya apa motivasi kami kuliah jurusan kebidanan. Dan jawaban disuruh orang tua menjadi mayoritas. Sama seperti jawaban saya.

"Siapa suruh jadi bidan?" Bu Evi berkata sambil tersenyum. "Bidan tugasnya banyak. Kurang istirahat juga karena sering begadang untuk merampungkan menolong persalinan. Gajinya kecil. Resikonya segunung. Resiko kehilangan nyawa pasien yang ditolong, nyawa bayi dan nyawa diri sendiri yang bisa saja tertular penyakit dari pasien."

"Siapa suruh jadi bidan?" lanjutnya. "Biaya kuliahnya mahal. Begitu lulus, belum tentu langsung dapat kerja."

Pamungkas! Argumen tersebut membuat kami mengangguk dan berniat segera keluar dari kampus. Lebih baik cari jurusan lain sebelum terlambat. Mumpung masih semester awal.

"Tapi... Pahalanya banyak. Bisa menolong orang lain itu rasanya luar biasa, loh. Ada kepuasan batin tersendiri. Jadi merasa senang karena bisa bermanfaat bagi orang lain. Sebaik-baiknya manusia ialah yang bermanfaat bagi sesama, kan?"

Kami mengamini kata-katanya.

"Paling utama, dengan berada di jurusan kebidanan dan nantinya menjadi bidan, jadi lebih mengerti tentang kesehatan. Dapat menjaga kesehatan diri dan keluarga. Tidak terlalu panik jikalau ada keluhan kesehatan. Setidaknya bisa atasi pertolongan pertama."

Kami terdiam. Yang awalnya 100% ingin 'cabut' dari kebidanan, mendadak jadi cinta mati dan bersyukur mendapat ilmu di jurusan ini. Benar sekali... Tidak semua orang punya kesempatan baik seperti saya dan teman-teman. Yang penting terus belajar agar dapat menyerap banyak ilmu hingga nantinya diaplikasikan setelah lulus.

Alhamdulillah...
Sudah lebih dari 5 tahun saya menjadi bidan. Bersyukur sekali bisa menyandang profesi mulia ini. Hati berbunga usai tuntas menolong persalinan. Lega rasanya melihat ibu dan bayi yang saya tolong sehat selamat.

Siapa suruh jadi bidan?
Orang tua!
Namun jauh di dalam lubuk hati, diri inipun ingin menjadi sosok yang berguna bagi orang lain. Dan menjadi bidan adalah salah satu caranya.


1 komentar:

  1. Alhamdulillah, semoga gak jenuh jadi bidan. Aku mah gak bisa liat darah... langsung pengsan duluan... ahhahaha

    BalasHapus

terima kasih sudah membaca ^^
tolong berkomentar dengan sopan yaaa... saya suka membaca komentar kalian semua :*