05 Februari 2018

Mudahnya Berdamai dengan Diri Sendiri




Damai itu indah, ada ungkapan populer demikian. Namun apabila ada konflik yang dirasa sangat keras, berdamai menjadi hal yang sulit dilakukan. Jangankan diimplementasikan, wacana pun hanya angan. Banyak yang mengira akan lebih sulit berdamai dengan orang lain dibanding diri sendiri. Padahal sebaliknya.



Bila kesal atau marah pada orang lain, pelampiasannya bisa dengan menghardik, memaki, mengumpat, menegur serta memarahi yang bersangkutan. Apabila sosok yang bersangkutan ternyata memiliki kuasa lebih, misalnya atasan atau guru, pelampiasannya pada benda mati. Bisa dengan merobek kertas, memukul meja, membanting gelas, yang terkadang malah melukai diri sendiri. Pelampiasan yang paling akhir ketika kekesalan dan kemarahan itu  memuncak yakni dengan berteriak ataupun menangis tersedu.

Bagaimana apabila kesal dengan diri sendiri? Haruskan memaki diri? Hal ini malah membuat diri sendiri down, semakin tidak bersemangat dan menambah penat. Rasa rendah diri akan makin parah, hidup makin tidak bergairah.

Ataukah lebih baik bila dengan menyakiti diri sendiri? Saya pernah membaca salah satu webtoon, sang tokoh memilih menyayat nadi ketika kecewa menyelimuti hati. Tentu hal ini membuat keluarga menjadi sedih. Jangan sampsi masalah diri sendiri malah mengganggu psikologi keluarga.

Berteriak histeris dan menangis tergugu menjadi hal yang mayoritas dilakukan saat kesal, marah serta kecewa pada diri sendiri menggerogoti hati. Kurang puas dengan prestasi sekolah, hasil kerja, putus cinta padahal sudah setia, terlalu lama membuat keputusan hingga kesempatan menjadi bayangan, merupakan beberapa hal yang menimbulkan rasa kesal pada diri sendiri. Wajar, memang. Sungguh manusiawi.

Namun jika manajemen hati telah terlatih, rasa ini dapat ditangani. Cara utamanya adalah berdamai dengan diri sendiri. Misalnya dengan belajar memaafkan, karena ini menjadi kunci agar pintu damai lebar terbuka. Pun ikhlas menerima keadaan, sebagai cikal bakal intropeksi diri sehingga bisa jadi lebih baik lagi.

Susah?

Tidak!

Apabila mau mengingat dan mencatat apa akar masalah rasa kesal dan kecewa tersebut. Hal ini bisa sebagai alarm utama yang akan nyaring berbunyi bila mengulang kesalahan yang sama. Minta pula orang terdekat untuk mengoreksi dan menasehati prilaku diri ini. Jangan marah padanya bila dikoreksi, malah perlu berterima kasih karena sudah ada yang peduli.

Jangan takut berdamai dengan diri sendiri. Hal ini bukan membuat diri lemah karena mengalah menerima kesalahan diri, tapi jadi penguat sehingga dapat berbuat yang lebih tepat. Jangan ragu berdamai dengan diri sendiri. Karena dengan demikian, maka suatu saat akan lebih ringan berdamai dan memaafkan orang lain. Menambah kawan, mengurangi rival, menjadi sebuah keuntungan sampingan setelah berdamai dengan diri sendiri dilakukan.

Sekian.





1 komentar:

  1. memaafkan itu buat aku bukan hal yang mudah, tapi kalau niat niat niat... Insya Allah bisa

    dan setelah hati mampu memaafkan, Insya Allah semua bakalan berasa lebih ringannn

    BalasHapus

terima kasih sudah membaca ^^
tolong berkomentar dengan sopan yaaa... saya suka membaca komentar kalian semua :*