14 November 2018

Cukup Aktivitas Cegah Obesitas





“Apaaaa?” Mata saya terbelalak tak percaya melihat angka timbangan yang bergerak 1 angka lebih besar dari biasanya. “Harus diet lagi... Diet ... Genduuut!” Saya jadi heboh sendiri.


Mama hanya terpingkal-pingkal seperti biasanya. “Lebay!”

“Bayangkan, Ma. Anak Mama ini obesitas! Obesitas!!!”

“Obesitas dari Hongkong? Badan begitu kok obesitas? Jangan lebay, plisss ... Kamu kan juga sudah rutin minum infused water, gak mungkin gendut lah.”

Ok, fix! Saya memang berlebihan. Menurut hitungan Indeks Massa Tubuh (IMT), badan saya termasuk proporsional. Ini semua berkat aktivitas fisik yang rutin dan cukup saya lakukan. Tidak berlebihan dan tidak terlalu jarang. Yah, namanya juga wanita. Pasti kalau ada kenaikan berat badan sedikit saja, walau hanya beberapa ons, sudah membuat jantung dag-dig-dug dan kembali memprogram pengurusan badan agar tetap ramping.

Aktivitas yang cukup membuat tubuh terhindar dari kelebihan berat badan yang berlebihan atau obesitas. Saat ini, badan kesehatan dunia atau WHO mendeklarasikan obesitas sebagai epidemik global. Rata-rata wanita memiliki lemak tubuh lebih banyak. Perbandingan yang normal antara lemak tubuh dengan berat badan adalah sekitar 25 – 30% pada wanita dan 18 – 23 % pada pria.  Mereka yang memiliki lemak tubuh melebihi angka tersebut dianggap menderita obesitas.

Obesitas terbagi 3 tingkatan, yaitu:
- Obesitas ringan : kelebihan berat badan antara 20 – 40 %
- Obesitas sedang : kelebihan berat badan antara 41 - 100 %
- Obesitas berat : kelebihan berat badan lebih dari 100 %, ditemukan pada 5 % orang-orang yang gemuk1.

Baca juga: 4 Jenis Diabetes dan Penyebabnya

Obesitas terjadi karena mengkonsumsi kalori yang lebih banyak dari yang diperlukan tubuh. Apabila pembakaran kalori terjadi dengan baik, hal ini tidak menjadi masalah karena kalori dibutuhkan sebagai sumber tenaga. Namun sebaliknya, apabila aktivitas fisik tidak banyak dilakukan tetapi mengkonsumsi makanan yang tinggi kalori dan lemak, maka pertambahan berat badan karena banyaknya penumpukan lemak menimbulkan bentuk tubuh yang kurang menarik.

Risiko kesehatan yang berhubungan dengan obesitas akan meningkat sejalan dengan meningkatnya IMT. Yakni:
- Risiko rendah bila IMT kurang dari 27
- Risiko menengah bila IMT antara 27 hingga 30
- Risiko tinggi bila IMT antara 30 hingga 35
- Risiko sangat tinggi bila IMT antara 35 hingga 401.

Perhitungan IMT didapat dari cara sebagai berikut:



Obesitas tidak hanya menjadi momok bagi kaum hawa. Kaum adam yang tidak berhati-hati dalam mengontrol pola makan dan aktivitasnya bisa juga mengalami kegemukan badan yang berlebihan. Pada pria, penumpukan lemak banyak terjadi pada perut. Pria yang menganggap aktivitas itu hanya dengan bekerja seperti biasa tanpa mengimbanginya dengan olahraga teratur, akan terancam memiliki perut buncit. Pun pada wanita yang hobi nyemil dan anti olahraga, bukan hanya perut yang ditimbuni lemak, tapi juga pada paha, lengan dan bagian tubuh lainnya.

Baca juga: Sumber Pangan Anti Diabetes

Selain olahraga seperti jogging, senam, lari ataupun memakai alat-alat olahraga di gym, aktivitas fisik yang bisa membantu pembakaran kalori dan lemak adalah dengan cara berjalan, bersepeda, juga membersihkan rumah dengan cara menyapu dan mengepel. Apapun kegiatannya, asalkan mampu menggerakkan otot tubuh bagian lengan, kaki dan perut serta mengeluarkan keringat dan dilakukan minimum dalam 30 menit dapat dikatakan sebagai aktivitas fisik.

Terkadang, orang malas beraktivitas fisik karena menganggapnya sebagai biang cedera atau penimbul luka dan trauma. Menurut Centers for Disease Control (CDC), manfaat aktivitas fisik bagi kesehatan jauh lebih besar ketimbang risiko terjadinya cedera. Fakta menunjukkan bahwa aktivitas fisik dapat mengurangi risiko terjadinya kematian akibat penyebab utama kematian, seperti penyakit jantung, dan sebagian kanker. Semua orang dapat meraih manfaat kesehatan dari aktivitas fisik, tanpa memperdulikan umur, kelompok etnis, bentuk tubuh atau ukuran tubuh. Orang yang aktif secara fisik selama sekitar 7 jam seminggu berisiko kematian dini lebih rendah 40 % dibanding mereka yang aktif hanya kurang dari 30 menit seminggu2.

Akan tetapi, banyaknya jumlah aktivitas berintesitas tinggi tidak selalu dapat menurunkan risiko kematian dini. Justru bila aktivitas berat terlalu sering dilakukan, maka akan menimbulkan beban jantung yang berlebihan. Yang benar adalah dengan melakukan aktivitas teratur dan rutin dalam intensitas yang cukup. Kata “cukup” ini dinilai dengan kita merasa nyaman saat melakukannya, tidak menimbulkan beban psikologis karena menganggapnya ‘meletihkan’. Dengan demikian, aktivitas “cukup” yang kita lakukan kemudian akan rutin kita lakukan. Aktivitas fisik yang menyenangkan akan menimbulkan pemikiran yang positif dan berdampak positif juga bagi tubuh, yakni badan proporsional dan terhindar dari beragam penyakit.



1 sumber: www.indosiar.com/ragam/kesadaran-bahaya-obesitas_75411.html
2 sumber: www.beverageinstituteindonesia.org/article/health-benefits-of-physical-activity



1 komentar:

  1. IMT ku masih tergolong rendah tapi udah begah banget ini bawa badan, pengen diet tapi usus masih perlu makan terus, habis sakit soalnya. fyuhh

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca ^^
Tolong berkomentar dengan sopan yaaa... Maaf kalau ada yang belum terjawab :*