09 Desember 2018

Akibat Terpikat Promo Minyak Goreng






Membaca fenomena minimarket waralaba berlomba jual minyak goreng murah yang dibahas oleh kulinerano.com membuat saya terbayangi oleh masa lalu. Iya, saya juga penganut paham dimana ada penjual minyak goreng murah, di situ ada saya. Dan kerennya lagi, saat itu para minimarket waralaba yang banting harga, bahkan seperti bergantian. Minggu ini minimarket A, minggu depan minimarket I. Wah, hampir tiap minggu saya borong minyak goreng dan bergaya shopping di minimarket.

Setelah beberapa bulan melakoni ritual belanja yang terkesan irit tersebut, akhirnya saya sadar ternyata membeli minyak goreng dalam jumlah banyak tidaknya efisien. Apalagi bagi saya yang tidak tahu bagaimana cara menyimpam minyak goreng yang baik dan benar. Dengan asal saya tumpuk beberapa bungkus minyak goreng 2 literan di dalam kardus lalu disimpan di dalam lemari. Alhasil suhu yang rendah dan pengap membuat minyak goreng mengeluarkan gumpalan putih.

Hal ini disadari pertama kali oleh Mama. Kala itu akan menggoreng kerupuk dalam jumlah besar sehingga butuh minyak goreng yang lumayan banyak. Ketika mengambil di lemari penyimpanan, kemasan minyak goreng tampak aneh dan bersuhu dingin. Di bagian bawah ada warna putih yang kental seperti lemak. Bagian ini lalu dibuang karena takut bila tetap keukeuh memakainya.

Ternyata tidak semenakutkan itu. Sama seperti air, minyak goreng juga bisa membeku. Nah biasanya di minimarket waralaba, suhunya begitu dingin sehingga minyak goreng cenderung membeku. Apalagi setelah itu kita juga menyimpannya di tempat yang bersuhu rendah. Bila dipanaskan, endapan putih tersebut akan hilang dan kembali menjadi minyak goreng.

Yang bahaya itu minyak yang menghitam. Biasanya disebut sebagai jelantah. Karena terlalu sering dipakai dan dipanaskan, maka struktur minyak goreng menjadi rusak. Terbentuklah gugusan benzena di dalamnya dan ini bahaya sekali. Mengapa demikian? Sebab bila dipakai menggoreng akan mengeluarkan senyawa dioksin yang merugikan tubuh.

Sebenarnya ada beberapa cara untuk menjernihkan minyak goreng kembali. Yaitu dengan menggunakan nasi, kentang, arang, dan juga karbon. Mungkin seperti mitos, namun nyatanya memang bisa kembali jernih seperti sedia kala. Asal dilakukan dengan benar dengan jumlah bahan yang sesuai.

Nasi yang digoreng bisa menyerap kotoran dengan sendirinya. Cara menggunakannya adalah dengan memanaskan minyak goreng, lalu memasukkan kepalan nasi berukuran agak besar. Goreng nasi hingga berubah warna, yang artinya kotoran pada minyak goreng menempel pada kepalan nasi tersebut. Namun harap hati-hati karena biasanya terjadi letusan kecil yang membuat minyak goreng ‘loncat’ kemana-mana.

Hal serupa juga bisa dilakukan pada kentang. Saat kentang digoreng, maka kotoran akan menempel pada pori-pori kentang. Apalagi kentang seperti lengket ketika digoreng. Ini juga bisa membantu menjernihkan minyak goreng yang telah menghitam.

Untuk penggunaan arang dan karbon harus dicuci bersih terlebih dahulu. Lalu tinggal dicelupkan dalam minyak goreng hitam yang telah diletakkan dalam wadah. Minyak goreng tidak perlu dipanaskan terlebih dahulu. Tinggal diamkan campuran minyak goreng dengan arang atau karbon semalaman hingga kotoran mengapung atau melekat pada karbon dengan sendirinya. Setelah itu tinggal menyaring minyak goreng yang telah jernih dan menggunakannya kembali.

Untuk saya pribadi, tidak berani melakukan hal tersebut di atas. Walaupun memang sudah jernih, siapa yang bisa memastikan bahwa kandungan di dalamnya baik untuk menggoreng makanan. Lebih baik membuang minyak goreng yang telah rusak tersebut daripada merugikan diri sendiri dan keluarga, bukan? Toh masih ada banyak promo minyak goreng murah di minimarket waralaba. Tinggal beli secukupnya, tidak perlu sampai menumpuk minyak goreng karena tergiur diskonan. Atau beli via online di Blibli.com, tinggal santai tunggu pesanan sampai rumah.


.

0 kata para sahabat:

Posting Komentar

Terima kasih sudah membaca ^^
Tolong berkomentar dengan sopan yaaa... Maaf kalau ada yang belum terjawab :*