Kebahagiaan Sederhana Ibu Rumah Tangga


Semenjak menjadi ibu rumah tangga, saya menjadi sosok yang sensitif. Hal sepele bisa membuat saya sangat bahagia dan bisa pula membuat sangat sedih. Kadang juga jadi moody, sebentar tertawa lalu sebentar kemudian menangis. Mungkin bawaan hormon ketika hamil, jadi terbawa hingga kini anak sudah berusia setahun. *alibi

Mau tahu tidak, hal-hal apa sih yang membuat bahagia?
Emas pemata?
Intan berlian?
Tabungan dengan saldo milyaran?

Sayangnya saya tidak sematre itu. Cuku hal yang sederhana namun berkesan. Yang penting mah hati senang. Materi bukan menjadi alasan. Toh tujuan berumah tangga bukan untuk kaya materi, tapi kaya hati. *ceileh

IbunZril cukup bahagia dengan:

1. Suami bilang, “Enak!”
Pekerjaan paling menjengahkan bagi saya adalah memasak. Namun karena perempuan di rumah ini hanya saya seorang, maka mau tidak mau harus bisa dan suka masak demi suami-anak. Masa mau makan di luar terus? Boros! Belum tentu sehat, pula. Karena tidak tahu dengan jelas bahan apa saja yang dipakai.

Setiap bangun pagi, otak lantas berpikir mau makan apa hari ini. Lalu pergi ke penjual sayur depan gang rumah, belanja seadanya dan masak sebisanya. Adalah kebahagiaan tersendiri saat suami bilang, “Enak, Bun!” Padahal proses masaknya asal cemplung dengan kekuatan gula garam karena tidak pakai penyedap rasa. Oleh karena hal ini, saya jadi suka masak.

Kata singkat suami itu juga berlaku untuk hal lainnya. Bukan hanya urusan dapur, di urusan ranjang beliau berkomentar demikian, rasanya hati ini membuncah. Ada rasa dihargai, bak perawan kembali. Jadi ingin mengulang kegiatan menyenangkan itu lagi. *eh Teman setuju tidak? Eits ini bagi yang sudah menikah, ya.


2. Anak makan lahap
Semasa BabyZril usia 6-7 bulan, makannya lahap benar. Mungkin karena baru mengenal makanan jadi begitu excited. Lambat laun makannya pakai acara kejar-kejaran dulu. Padahal dia merangkak, loh. Tapi kok bisa secepat kilat begitu? Saya sampai ngos-ngosan mengejarnya.

Alhamdulillah usia setahun ini makannya mulai banyak lagi. Karena sudah tekstur makanan dewasa, tiap kali saya makan, Zril selalu saya suapi. Bahagia rasanya dia mau membuka mulut, berkali-kali. Walau hanya 5 sendok kecil, sudah sangat membuat lega. Lumayanlah daripada tidak sama sekali. Masa minum ASI terus? Kebutuhan nutrisinya tentu kurang.

Ada pula adegan makanan harus diacak-acak dahulu olehnya sebagai syarat membuka mulut. Bukannya mengajari mubadzir, toh Zril memang belum mengerti. Ini juga sebagai latihan motorik untuknya. Bagaimana memegang makanan, menyuap makanan ke mulut, merasakan tekstur makanan dan masih banyak lagi manfaat Zril latihan makan sendiri. Walau akhirnya saya harus mengepel lantai rumah berulang kali, saya ikhlas nan bahagia asal Zril makan dengan bahagia pula.

3. Tidur anak cukup
Dulu jam tidur BabyZril tidak beraturan. Rasanya seperti pagi – siang – sore – malam, dia tidur terus. Banyak cara saya pakai agar tidurnya sesuai jadwal, namun tidak berhasil. Sekarang usianya 1 tahun lebih, tidurnya malah seperti orang dewasa, mulai jam 9 malam sampai jam 6 pagi. Siang dan sore hari jarang mau tidur lagi.

Karena di usia Zril masih perlu tidur sekitar 16-18 jam per hari, saya membuatnya letih agar mau istirahat. Jadi setelah bangun tidur, dia mandi lalu sarapan. Setelah itu main bola dan acak-acak semua mainannya sampai dia letih. Saat mulai rewel, seperti dia sudah tidak mau ambil bolanya lagi, langsung saya gendong dan diberi susu. Setelah itu baru deh Zril tidur dengan pulas. Tenang rasanya melihatnya terlelap. Entah karena wajah polosnya atau karena apa, hati ini bahagia.


4. Anak tertawa bahagia
Sejak baru lahir, saya sudah mengajarkan bagaimana cara tertawa padanya. Iya, walau hati sedih, saya tidak mau memprlihatkan di depan wajahnya. Ia harus melihat saya tertawa bahagia, minimal senyum. Maka tidak heran di usianya yang setahun ini, dia lebih sering tertawa lepas. Setidaknya menyapa orang yang baru dikenalnya dengan senyuman.

Zril paling suka diajak bermain. Tawanya begitu keras dan jelas terpancar aura bahagia. Karena hal ini juga menyenangkan hati seorang ibu, meski seletih apapun, saya temani dia bermain. Bila saya sudah sangat letih dan tidak tahan lagi, dengan memeluknya saya bilang, “Zril … bobok, yuk! Ibun ngantuk.” Ajaibnya dia menurut dan mau berbaring minum susu. Alhamdulillah.


5. Suami pulang kerja bawa makanan
Ayang Zril bekerja setiap hari selama 8 jam. Paling suka kalau beliau dinas sore. Pulangnya jam setengah 12 malam. Terkadang di jam 7 malam, beliau whatsapp, “Mau tahu tek?” Ini makanann khas Sidoarjo yang terdiri dari tahu, telur dan tauge yang disiram bumbu petis dan kacang.

“Tapi baru makan sama Zril.” Balas saya.

“Mau tidak?”

“Ooo ya mauuuu!”

Sekenyang apapun ibu menyusui setelah makan malam, pasti 2 – 3 jam kemudian akan lapar lagi. Dan suami yang membawa makanan kesukaan istrinya selalu membawa kebahagiaan tersendiri. Romantisme sederhana, namun indah. Juga kenyang.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah membaca ^^
Tolong berkomentar dengan sopan yaaa... Maaf kalau ada yang belum terjawab :*