12 Desember 2018

Yang Saya Sesali di Hidup Ini





Alhamdulillah, pagi ini Allah masih memberi nikmat sehat, iman dan hidup yang bahagia.
Bagaimana tidak, begitu membuka mata, tampak suami dan anak yang terlelap di tempat tidur yang sama. Bisa merasakan leganya nafas tanpa alat pernafasan. Mampu bergerak sesuka hati tanpa hambatan. Makan minum apa saja yang diinginkah. Ah senangnya…

fabiayyi ‘aalaa’i rabbikumaa tukadzdzibaan
"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan"

Terima kasih pada Allah yang sangat Baik pda hambaNya. Ia Maha Pengasih dan Penyayang, memberi kebutuhan hambaNya meski imannya masih belum sempurna dan perlu banyak belajar. Allah Maha pemaaf atas segala dosa yang telah hambaNya lakukan di dunia. Dan Allah Maha Pemurah, mengabulkan segala keinginan hambaNya yang tak kunjung puas.

Jika begini adanya, bagaimana bisa saya menyesali garis kehidupan yang telah IA beri? Allah tahu mana yang terbaik bagi hambaNya. Walau saya sudah berusaha sekuat tenaga, namun bila bagi Allah itu bukan jalan yang bisa menuntun saya pada kebaikan, Allah tidak akan meridhoi. Hingga akhirnya saya pasrah dan menerima segala takdirNya, dan ternyata sungguh indah dan menenangkan jiwa raga.

Bagaimana saya bisa menyesal karena memiliki suami yang sabar dan anak yang pengertian? Sungguh sedari dahulu, inilah yang saya inginkan. Awalnya tidak menyangka bahwa MasBoz yang kemudian menjadi imam di bahtera rumah tangga kami. Membayangkan menikah dengan sesama orang Pasuruan saja, tidak pernah terpikirkan di benak saya. Memang jodoh ini misteri, dan apa yang Allah rencanakan ini membuat saya terpana karena jalannya yang tersusun indah.

Bagaimana saya bisa menyesal menjadi ibu rumah tangga demi anak tercinta? Meski melepas profesi yang saya sandang bertahun-tahun, saya yakin inilah yang terbaik. Saya tidak ingin keturunan saya kehilangan masa kanak-kanaknya yang penuh memori bahagia. Saya tidak ingin keturunan saya merasakan apa yang saya rasakan ketika Mama bekerja meninggalkan saya di rumah: hampa. Saya tidak ingin keturunan saya merasa bahwa orang tuanya tidak menyayanginya. Saya ingin Zril dan adik-adiknya (bila diizinkan kelak) menjalani pertumbuhan dan perkembangan yang optimal baik dari segi fisik, mental maupun spiritual.

Mungkin bila memang harus ada yang disesalai, hanyalah waktu yang cepat berlalu. Rasanya 24 jam sehari ini lekas berakhir. Baru saja Zril bangun pagi, memandikannya, sarapan, menyusuinya, mengajaknya bermain, tahu-tahu sudah sore, lalu malam, tidur dan sudah pagi lagi. Rasanya baru kemarin melahirkan bayi yang montok, sehat sempurna, sekarang sudah tumbuh besar dan sedang belajar jalan. Rasanya baru kemarin kenal MasBoz, ternyata sekarang hampir 2 tahun kami menikah.
Apa karena saya yang hanya di rumah saja? Namun harusnya waktu jadi terasa lama sebab yang saya lakukan hanya itu-itu saja. Nah inilah yang saya sesali, detik terus melaju tapi rasanya saya belum bisa melakukan yang terbaik. Belum jadi istri dan ibu yang baik. Masih menjadi sosok yang kurang bisa kontrol emosi, ngambek saat permintaan tidak dikabulkan suami, diam saat kesal dan balas mengomel saat beliau menegur. Pun masih sedikit ogah ketika Zril minta gendong, padahal dia hanya ingin bermanja-manja. Atau terkadang tidak bersemangat saat buah hati kami satu-satunya itu minta ditemani bermain.

Ah, menjadi sosok yang sempurna memang butuh waktu. Tidak ada yang instant, bahkan mi instan saja perlu dimasak terlebih dahulu. Yang penting, selalu ada usaha untuk menjadi yang terbaik. Yang penting tidak lagi mengulang kesalahan yang lalu-lalu. Dan yang penting, suami dan anak pun tahu bahwa saya yang banyak celah ini, juga ingin selalu memberikan yang terbaik bagi mereka.




1 komentar:

  1. Semuanya indah pada masanya ya mom. Dan yang paling penting kita terus memperbaiki diri😊

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca ^^
Tolong berkomentar dengan sopan yaaa... Maaf kalau ada yang belum terjawab :*