10 Mei 2019

Tradisi Mengecat Rumah Memupuk Rasa Cinta



Lebaran identik dengan semua yang serba baru. Hari kemenangan ini biasanya disimbolkan dengan baju baru, alas kaki baru, hingga cat rumah yang baru hingga tampak memukau. Tradisi di keluarga saya pun demikian. Kami menyiapkan seragam lebaran agar tampil kompak di hari raya. Juga mengecat rumah bersama. Terkadang pengecatan rumah malah dilakukan saat berpuasa, mengisi waktu senggang karena pulang kerja jadi lebih awal.

Setelah saya menikah, saya tak lagi tinggal di rumah Mama, karena sudah ada rumah sendiri yang merupakan hasil jerih payah suami. Namanya pengantin baru yang pendapatannya belum seberapa, rumah kami ini bahkan belum selesai dicat. Masih satu kali pengecatan menggunakan cat dasar putih dan belum diulang sehingga warna tampak pudar. Apalagi saat itu produk yang digunakan bukanlah Asian Paints. Warnanya jadi mengecewakan.

Mengingat tradisi yang saya lakukan di keluarga, saya lalu menyarankan pada suami untuk melakukan pengecatan ulang ke seluruh bagian rumah. Tujuannya agar rumah jadi lebih indah dan kian nyaman ditempati bersama. Dengan demikian rasa cinta antara kami berdua pun semakin terpupuk karena kerap menghabiskan waktu bersama. Apalagi tembok yang warnanya pudar juga telah kotor karena putra kami yang begitu kreatif menggores bolpoin di area dinding ruang tengah. Harus segera dicat agar ruang tempat kami bercengkrama ini kembali tampak indah dan bersih.

Suami saya sosok yang mandiri. Masalah memperbaiki rumah, meski tak sejago tukang bangunan, namun beliau mampu melakukannya. Hal ini dipelajarinya dari sang ayah, jadi masalah memperbaiki genting yang bocor atau mengecat rumah adalah hal yang mudah baginya. Sehingga diputuskan pengecatan akan dilakukan sendiri, apalagi saya juga bisa membantunya oleh karena sudah terbiasa membantu mengecat di rumah Mama.

Mengecat rumah sendiri itu sungguh menyenangkan. Selain seru karena bisa sesuka hati menggelindingkan kuas cat ke dinding, tapi tetap menaati kaidah mengecat secara vertikal. Selain itu mengecat sendiri juga mengirit anggaran pengeluaran keluarga karena tidak perlu membayar tukang. Juga jadi bisa mengira-ngira estimasi berapa budget yang harus dikeluarkan untuk mengecat rumah.

Kami memang pengantin baru. Tapi masalah rumah, dekorasi dan pengecatannya sudah belajar banyak dari ahlinya, yakni asianpaints.co.id. Ada banyak artikel mengenai cara mengecat rumah, pemilihan warna yang sesuai dengan dekorasi, cara agar rumah tahan air hingga galeri inspirasi mempercantik rumah. Dan yang paling saya suka ialah adanya penghitungan total harga cat sebagai patokan kami dalam menyiapkan budget.


Seperti di bawah ini ilustrasinya. Karena waktu yang mepet, kami hanya akan mengecat 3 ruang di bagian dalam rumah. Yaitu kamar depan, ruang tamu dan raung tengah. Rumah kami mungil, ketiga ruang hanya seluas 66 Km persegi.

Setelah dihitung, hasilnya ...

Lumayan kan kalau bisa dikerjakan sendiri, tanpa bantuan tukang untuk mengecat rumah. Budget segitu bagi kami sudah lumayan besar. Namanya juga hanya ada 1 tulang punggung keluarga, yakni suami. Padahal lebaran ini juga kami harus mudik. Jadi harus pilah-pilih dan atur budget sebaik mungkin agar tercukupi semuanya. Untunglah website Asian Paints sangat membantu kami dalam membuat anggaran belanja.

Terima kasih, Asian Paints. Oiya kami ini masih mengecat dinding. Tunggu hasilnya menjelang lebaran nanti, yaa. Pasti deh kalian terkejut dengan hasil akhirnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah membaca ^^
Tolong berkomentar dengan sopan yaaa... Maaf kalau ada yang belum terjawab :*