19 Juni 2019

Menjadi Emak Penggerak No More Hoax



Zaman millenial seperti sekarang, penggunaan media sosial menjadi penggunaan wajib. Itulah mengapa isi kuota dan pulsa kemudian bak salah satu bahan pokok yang wajib diisi per bulannya. Penggunaan medi sosial yang semakin intesns membuat banyak untung sekaligus kerugian yang tak disadari. Menambah informasi, punya banyak kenalan, berpenghasilan dari rumah lewat dunia maya menjadi beberapa keuntungannya. Tapi dibalik itu pula kemudian hoaks beredar secara mudah. Saking mudahnya sampai-sampai tanpa sadar kita terprovokasi.


Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu, tepatnya sebelum Ramadhan. Mama saya mendapat pesan di whatsapp messanger group (WAG) tentang adanya pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM) secara online dan gratis. Dengan semangat, Mama kirim ulang pesan tersebut pada saya dan kawan-kawan beliau yang lainnya. Isinya adalah SIM bisa dibuat secara online, dengan daftar dulu di sebuah alamat web lalu pengambilan SIM versi cetaknya di Taman Bungkul Surabaya saat acara car free day.

Kesan pertama yang saya dapatkan adalah: aneh. Mana ada pembuatan SIM semudah itu? Bukannya juga ada tes praktek dengan kendaraan asli? Bila tes dilakukan di Taman Bungkul sebelum ambil SIM-nya, di mana? Sebab saya tahu betul bagaimana lokasi taman yang terkenal di Kota Pahlawan tersebut. Untuk parkir saja terbatas, mana ada ruang luas untuk tes cara berkendara yang baik dan benar.

Namun bagi Mama, kabar ini ialah hal yang menggembirakan. Teringat bagaimana dulu Mama harus berkali-kali ikut tes. Makan banyak biaya untuk bolak-balik dari rumah ke kantor polisi. Belum lagi harus meluangkan waktu dengan izin pada atasan. Maksud Mama baik, ingin memberikan kabar bahagia ini pada teman-temannya yang anaknya atau kerabatnya ingin mengurus SIM secara mudah. Sayang sekali, cara Mama ini salah! Sebab menyebarkan berita yang belum tentu benar.

Itulah mengapa harus ada gerakan Emak Penggerak No More Hoax. Saya pernah membaca survey yang menyebutkan bahwa kaum emak adalah mereka yang aktif di forum. Penyebaran informasi lewat para emak jadi lebih mudah dan lekas menyebar luas. Apalagi emak-emak sering mengadakan pertemuan, hobi rumpi dan juga sapa-sapa teman via WAG.

Para emak harus diberi edukasi bahwa berita bohong sering diselipkan pada pesan berantai yang terkirim di WAG. Hendaknya ketika mendapat berita, dicerna dengan baik dan dicek dulu kebenarannya. Bila tentang politik dan pemerintah, langsung cek di website milik pemerintah. Cara mudah cari info dengan tanya Mbah Gugel kini bukanlah solusi terbaik sebab para penyebar berita bohong pun menyelipkannya lewat keyword. Jujur deh, kita sendiri juga suka langsung tanya Mbah Gugel kan?

Segera saya jawab pesan Mama bahwa apa yang beliau sampaikan pada saya ialah berita yang tak benar. Tapi Mama masih keukeh bahwa berita tersebut bukanlah hoaks. Apalagi berita sudah tersebar luas dan banyak teman-teman Mama yang juga menyebarkannya. Duh! Benar- benar deh emak-emak tanpa filter!

Hingga kemudian ada teman Mama yang istri seorang polisi dan mengatakan bahwa itu berita bohong. Diminta Mama tak lagi ikut menyebarkannya atau akan terjerat hukum karena turut menyebar berita bohong. Hiii! Sejak itu Mama kapok. Walau ada pesan-pesan aneh di WAG, Mama hanya membaca dan diskusikan pada saya, tidak lagi turut jadi emak penyebar hoaks.

Saya sendiri juga heran, mengapa masih juga ada banyak orang yang suka jadi penyebar berita bohong. Mungkin memang benar edukasi akan wajibnya filter informasi menjadi sebuah kebutuhan di era kini. Terutama pada para emak. Terlebih di zaman yang digital ini, dimana kini informasi begitu mudah didapat, yang bisa benar dan juga salah.

Banyak hal negatif yang terjadi bila kita turut serta menjadi penyebar berita bohong. Contoh mudahnya ialah masalah SIM tadi. Yang awalnya sudah punya jadwal untuk memperpanjang SIM, jadi menyepelekannya. Akhirnya SIM hangus dan terpaksa membuat ulang. Padahal daftar membuat SIM kan juga tidak semudwh membalik telapak tangan. Banyak proses yang dilalui dan memakan banyak waktu.

Pun berita hoaks menyebabkan perpecahan. Contoh mudahnya seperti Mama yang malah jadi tak percaya dengan apa kata saya, putrinya. Juga seperti masyarakat kita yang jadi terpecah belah karena termakan berita bohong saat PilPres kemarin. Duh! Indonesia yang tenang dan damai jadi ‘panas’, baik di media sosial maupun dunia nyata.

Teruntuk para emak, yuk jadi Emak Penggerak No More Hoax. Begitu ada  berita di WAG, stop! Berenti di Anda saja. Simak baik-baik, cari kebenarannya. Boleh saja menyanggah bila punya fakta dan literasi yang sesuai. Namun waspada, salah kata malah picu perselisihan. Beritahu teman-teman agar waspada sebar berita karena bisa saja itu adalah berita bohong, dan menyebarkan berita bohong bisa terkena hukum pidana.

Simak video berikut ini, deh. Semoga berguna ya...


36 komentar:

  1. Penting banget ibu2 disadarkan. Harusnya mereka yg jadi benteng, eh malah mereka pula yanv banyak ketangkep karena hoax.

    BalasHapus
  2. Kayaknya hari itu saya juga ada baca blogpost yang nulis tentang pembuatan sim online deh Mbak. Tapi saya lupa di mana.

    Iya, para ibu memang kudu dikasih pemahaman lebih. Jadi inget mamakku dapet SMS berhadiah aku suruh nelpon dikiranya beneran.

    BalasHapus
  3. Yap. Say no to hoax. The thing is, syusyahhh bgt bedain mana yg hoax dan bukan

    BalasHapus
  4. Memang bagi masyarakat awam HOAX ini susah dibedakan. Kapan hari saya ikut literasi HOAX dari kemenkominfo, saya info hasilnya juga orang gak percaya. Mereka lebih percaya sama share berita teman-temannya. YAwislah, yang penting sudah berusaha menjelaskan. Keluarga kami juga sempat "panas" gara-gara HOAX. Sekarang mah, kalau ada share aneh-aneh saya gak ngomong neko-neko. Lgs browsing hoax or not lalu share ke grup, ben dibaca sendiri.

    BalasHapus
  5. Nah betul banget sebagai emak-emak kita harus berantas HOAX tentunya dengan literasi baca, jangan mudah terpengaruh dan yang penting saring befire sharing ya mbak.

    BalasHapus
  6. Yang paling sulit tuh mengedukasi teman yang sudah punya faham tersendiri ketika berkaitan dengan pembahasan politik dan agama. Udah dikasih tau kalau berita yang disebarkannya itu hoax, tapi teteeeppp aja keukeuh share ini itu di WAG. Hadeeehhh... Jalan panjang bener emang nih menuju masyarakat no hoax secara sempurna.

    BalasHapus
  7. Iya, ini pentingnya melek literasi digital. Ngga hanya bisa baca tapi juga mau mengecek apakah berita itu benar atau ngga, sedih kalau hoax ditiru apalagi resep-resep kesehatan yang beredar di WA :(

    BalasHapus
  8. berita hoax itu membuat kita jadi antipati. Ada berita benar tapi karena sudah pernah termakan berita hoaz jadi gak percaya. Pun sebaliknya, jadi agak susah untuk mempercayai mana berita bener mana berita enggak bener, jadi repot sendiri ya

    BalasHapus
  9. Yang paling susah memang kasih edukasi ke pengguna yang baru melek teknologi, atau yang baru punya wa sering banget share2 berita gak bener. Mungkin ke orang2 tu akita juga bisa edukasi pelan2 supaya gak main share berita yag didapatkan ya

    BalasHapus
  10. Hoax nih bikin hati empet. Di WAG terutama WAG sekolah SMP/SMA dan WAG keluarga besar, ada aja yang nyebar hoax kayak gini. Trus yang percaya dan menyebarkan lagi juga banyak. Padahal sekali liat aja bisa ketahuan kalau itu berita nggak valid. Sumbernya aja nggak jelas. Gambar juga comot dari google dan diberi narasi yang tendensius. Kita yang mau meluruskan justru kena bully. Gemas aq tuh

    BalasHapus
  11. Waaah kok pas banget ini, aku baruuuu aja sharing tentang cara menangkal hoax di alumni sekolah. Susah ya kalo kaum perempuan yang mestinya menjadi guru di rumah, gampang kena hoax apalagi menjadi penyebarnya juga. Butuh kesabaran untuk mengingatkan, tapi juga kadang menjadi malas ketika ketemu dengan emak-emak yang doyan sebar hoax. Padahal udah tahu juga kalo beritanya hoax, beda dengan yang asal sebar karena ikut-ikutan aja.

    BalasHapus
  12. Iya nih kebanyakan yang share berita hoax itu ibu-ibu yang agak sepuh. Mereka punya niat baik semangat berbagi, tetapi tidak diimbangi dengan kesabaran untuk kroscek dulu kebenaran infonya. Tantangan buat kita-kita untuk melawan hoax bersama-sama.

    BalasHapus
  13. Mengedukasi orang tua tentang berita hoax itu perlu sabar. Terlebih kalau baru tahu tentang teknologi. Huaah banget rasanya.

    Tapi kita yang sudah melek teknlogi sudah seharusnya membrantas hoax. Kita ramaikan gerakan turn back hoax.

    BalasHapus
  14. Zaman dulu mungkin sedikit banget orang menyebar berita bohong secara terang²an, jadi kecenderungan mama² dan papa² senang aja bagi² info yang menurutnya berguna. Eh gak mama² dan papa² aja sih seusia anak milenialpun banyak juga yang belum faham tentang berita hoax.

    BalasHapus
  15. Pokoknya kalau suatu berita nampak terlalu mudah atau ada iming-iming hadiah gede, lebih baik crosscheck sana-sini deh daripada kena hoax.

    BalasHapus
  16. Tapi kadang hoaxnya suatu berita tergantung medianya juga. Media besar yg jelas2 beritanya hoax pas giliran konfirmasi beritanya ga dinaikin atau cuman seuprit. Bikin masyarakat ga percaya

    BalasHapus
  17. Betul nih Artha
    Banyak banget hoax muncul dari kalangan emak emak karena sangat mudah dipengaruhi
    Apalagi grup grup arisan dan walmur.

    BalasHapus
  18. penyebaran hoax emang sudah sangat mengkawatirkan dan dampaknya nyata.. klo di WAG ku malah pak bapaknya yang senenh banget nyebar hoax.. yang paling menyedihkan ketika hoax memapar anak2.. huhuhu..

    BalasHapus
  19. Saya pernah tuh mengingatkan emak-emak agar jangan gampang sebar berita hoa, waduh malah diserang balik dengan pembelaan, katanya gak ada salahnya buat waspada. bener-bener deh perlu diedukasi itu para emak-emak di grup WA

    BalasHapus
  20. Gak mudah ajak emak2 untuk menjauhi hoax. Berita apa aja gampang ditelen apalagi yg menguras esmosi. Gemes akutu.

    BalasHapus
  21. Yang paling susah memang menghadapi orang tua. Beliau-beliau sangat mudah percaya dengan berita yang beredar. Nanti kalau dibilangi kita nya yang dianggap menyepelekan orang tua yang nggak bisa membedakan mana berita bener mana berita bohong. Belum lagi kalau dapat suatu kabar langsung saja di share ke segala penjuru. Padahal belum tentu itu bener. Semoga semakin banyak yang bijik memilih dan menyebarkan berita yang bukan hoax.

    BalasHapus
  22. Mba...
    Ini memang sengaja hurufnya kecil begini ya?
    Lumayan, perlu usaha nih membacanya.
    Maklumlah, sudah melewati masa Jelita, hahaha

    Sepakat Mba,
    Sebagai Blogger, selayaknya kita bisa juga masuk di barisan pertama untuk mengkampanyekan SAY NO TO HOAX, dengan, "Saring Before Sharing"

    ... dan lihat apa yang terjadi!

    annarosanna(dot)com

    BalasHapus
  23. Bener banget, bukan cuma emak sih menurutku, mohon maaf tapi para orang tua, yang mudah tersulut jika ada kejadian apa2, krosceknya itu ga ada, jadi ikut kepanasan dan nyebarin deh hal yang salah

    BalasHapus
  24. Paling kesel sama orang-orang tukang nyebarin hoax ini. Sebagai emak emak, kita harus ikut menangkal dan menghentikan tindakan-tindakan tak trpuji ini, bukannya ikutan jadi penyebar hoax juga.

    BalasHapus
  25. Stop di diri kita, setuju kak.. Baca dulu yang bener jangan ikutan menyebarkan berita yang nggak benar, jangan lanjutkan lagi

    BalasHapus
  26. Aku kalau di WAG ada yang aneh ga segan kutegur sih mba wkwkwk bodo amat nanti diomongin, abis ya ada emak2 di WAG sekolah sering share berita2 yang dudududu jelas2 HOAX. anehnya yang ditegur sebarin HOAX sering denial itu yang bikin akhirnya aku mendingan diem aja :D

    BalasHapus
  27. Cukup berhenti di Hari Kita ya kak,, stop hoax kalau memang tidak Tau kebenaran sumbernya

    BalasHapus
  28. Betul, naluri emak-emak kalau dapat info langsung ingin sebar saja. Semoga semakin banyak artikel semacam ini yang dibaca masyarakat sehingga banyak yang sadar untuk saring sebelum sharing...👍👍

    BalasHapus
  29. Hoax makin merajalela tapi kalau kita kasih kebenaran maka lama-lama dia akan belajar untuk saring sebelum shering

    BalasHapus
  30. Setop di diri kita untuk menyebarkan berita hoax yah Kak..
    Karena emak-emak kaya aku ini emang susah membedakan hoax atau fakta, main share aja beritanya ke yang lain

    BalasHapus
  31. Sebagai korban hoax yang semakin marak saya sungguh geregetan. Gimana nggak, kadang ga tahu harus menanggapi seperti apa sebuah berita. Ini benar apa bohong sih. Dan itu ganggu banget sih

    BalasHapus
  32. Biasanya berita hoax itu mengandung sesuatu yang janggal. Biasanya sih saya cuekin aja. Gak saya follow up apalagi dishare, enggak ah. Kalo sempat ya saya cari info yang benar.

    BalasHapus
  33. Jadi ingat twitter yang sempat jadi trending yaa...
    #BerhentiDiKamu

    Hoax ini memang bikin gemesh yaa..
    Orang-orang itu bisaan bebikinan berita yang menjerumuskan masyarakat.

    BalasHapus
  34. Setuju banget mbak, kadang sebagai orang tua khususnya para Ibu harus bijak memilih mana yang benar dan tidak. Kebenaran sebuah berita menjadi penentu apakah kita membaca sehat atau tidak. Stop Hoax..

    BalasHapus
  35. Aku suka banget dengan artikel ini dan semoga banyak emak-emak yang baca ya. Memanh kan dari data survei, yang paling sering jadi penyebar hoax malah para ibu. Ini sayang banget, kan? Semoga baru ibu lebih mawas diri waktu menerima suatu berita dan mau cari tahu kebenarannya sebelum ikut menyebarkan berita tersebut ya

    BalasHapus
  36. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca ^^
Tolong berkomentar dengan sopan yaaa... Maaf kalau ada yang belum terjawab :*