31 Oktober 2014

Kumcer "Cerita di Balik Noda"


Judul : Cerita di Balik Noda (42 Kisah Inspirasi Jiwa)

ISBN/EAN : 9789799105257 / 9789799105257
Penulis : Fira Basuki
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Terbit : 14 Februari 2013
Jumlah halaman : xii + 234
Berat : 231 gram
Ukuran buku : 135 x 200 mm



Selama beberapa minggu, saya yang aktif di beberapa jejaring sosial melihat para Emak asyik membicarakan buku bercover sederhana namun artistik ini. Saya pun penasaran, lalu membelinya. Walau saya belum menjadi seorang ibu sebab masih lajang, namun saya harus mulai belajar mempersiapkan ‘gelar’ ibu mulai sekarang. Ya, belajar tentang bagaimana cara mendidik anak agar kreatif-positif, sesuai kodrat saya sebagai wanita. Semuanya ternyata saya dapat dari buku berisi 42 kisah inspirasi jiwa ini.

Buku yang merupakan hasil akhir dari sebuah lomba menulis bertema “Cerita di Balik Noda” yang diadakan oleh Rinso Indonesia di facebook ini dikembangkan secara apik oleh Fira Basuki. Sang ibu dua anak berhasil membuat greget 38 cerita, dengan gaya cerita dan sudut pandang masing-masing. Judul naskah asli pun diubah, sehingga tampak manis dan memikat. Misalnya “Perban Kaki Nenek Terjatuh” menjadi “Perban Nenek”, atau “Hebatnya Anakku” yang semakin membuat penasaran pembaca untuk segera melahapnya dengan judul baru “Nasi Bungkus Cinta”, serta beberapa judul lainnya.


Sebelum mengenal buku ini, saya kira iklan Rinso Indonesia di televisi yang menunjukkan bagaimana kreativitas anak sehingga mampu membuat lengkungan indah di wajah ibu dan orang sekitarnya, hanyalah fiksi. Namun setelah menikmati buku “Cerita di Balik Noda”, saya menyadari bahwa setiap anak memiliki sisi kreativitas, tapi dalam kadar yang berbeda. Hal ini dipengaruhi oleh dua hal: faktor genetika dan lingkungan. Kreativitas tumbuh optimal jika kedua faktor tersebut dipadukan secara baik. Salah satu caranya ialah dengan membebaskan anak melakukan hal-hal yang disukainya, selama dalam batas wajar. Dari sinilah maka kreativitas akan terus mengalir seiring bertambahnya pengalaman dan usia anak.

Fira Basuki sendiri menulis 4 cerita yang terinspirasi dari lingkungan sekitarnya. Penulis kelahiran Surabaya, 7 Juni 1972 ini mencari dari hubungan pekerja dan bos hingga menghasilkan cerpen berjudul “Bos Galak” yang menjadi cerita pembuka. Di sinilah saya terkecoh oleh judul buku, saya pikir hanya akan dikisahkan bagaimana sikap ibu dalam menghadapi anak yang berkotor-kotoran, namun ternyata bagaimana cerita di balik ‘noda’ secara keseluruhan. ‘Noda’ tidak hanya kotoran yang membuat baju tidak lagi elok nan harum, tetapi dapat pula berarti kesalahan ataupun sikap kurang terpuji.

Diawali dengan Rani yang penasaran dengan sikap Bu Elsi, bosnya yang dikenal galak. Karena ia yakin segalak-galaknya manusia pasti luluh juga, maka iapun memiliki ide untuk merayakan hari ulang tahun bosnya minggu depan. Saat hari H, ia membawa rainbow cake berhias 10 lilin, dan ... ajaib! Perlahan Bu Elsi ‘membuka diri’ saat memandang 10 lilin yang menyala, lilin yang mengingatkan usia putranya yang meninggal 8 tahun lalu. Konflik terjadi saat secara tidak sengaja Rani menumpahkan kue di baju bosnya. Suasana menengang, namun ledakan tawa Bu Elsi membuat semuanya berubah.

“Dino sering melakukan hal ini waktu kecil. Menumpahi saya dengan makanan, bahkan kue ulang tahunnya sendiri.”

“Dino pasti bahagia di atas sana melihat Ibu tertawa,” ujar Rani yang kemudian membuat bosnya tersenyum.

Dari cerita ini dan 3 tulisan lainnya yakni “Sarung Ayah”, “Pohon Kenangan” dan “Foto”, saya jadi mengerti mengapa alumnus dari Communication Public Relation di Pittsburg State University dan Wichita State University ini diminta mengembangkan cerita-cerita para ibu dengan tetap mempertahankan gaya tulisan aslinya. Fira Basuki yang mumpuni dengan kisah kehidupan pasangan dengan bukti novel perdana berjudul “Jendela-jendela” dilanjut dengan karya-karya lainnya yang sukses di pasaran, memang dengan lancar membalut Buku “Cerita di Balik Noda”, membuat pembaca semakin bergairah menyimak kisah yang ditulis oleh ke-38 ibu bijak berputra hebat.

Penulis kelahiran Surabaya, 7 Juni 1972 itu pun mengembangkan kisah karya Bunda Haifa dalam judul “Hidup Baru Danu”. Di sinilah kita akan tahu bahwa kreativitas yang mensyaratkan kebebasan tidak akan berkembang apabila si anak tidak diberi kesempatan. Juga disiplin yang kaku tanpa toleransi akan berpotensi mematikan kreativitas. Membuat anak takut 'melangkah' dan berkembang sebagaimana mestinya. Padahal, berani kotor itu baik!

Adalah Danu dan adiknya yang dibesarkan bak porselin. Karena sebelumnya tidak pernah diperbolehkan berkotor-kotoran, maka untuk membantu tantenya di kebun pun susahnya minta ampun. Namun sejak dipindahkan ke sekolah alam, semuanya berjalan dengan baik. Sebab di sekolah itu, diajarkan bagaimana bertanggung jawab dengan membantu menanam sayur, beternak lele dan saat panen dibagi rata. Dari situlah Danu menjadi anak yang juga memiliki rasa berbagi yang tinggi, terbukti dengan mau membantu temannya berjualan di pasar, di akhir cerita. Topik ‘anak porselen’ juga terdapat di cerita berjudul “Harta Sebenarnya” dan “Kaki (harus) Kotor” dengan balutan pengembangan cerita yang lebih luas dan lebih menarik lagi.

Kisah yang paling saya suka ialah cerita kiriman Ibu Vincensia Naibaho yang mengisahkan bagaimana Gwenn, putrinya yang masih SD, begitu peduli dengan Lela. Padahal Lela hanyalah anak pembantunya. Namun ia begitu memikirkan keinginan Lela yang ingin memiliki sepeda merah muda sepertinya untuk dipakai ke sekolah. Kisah ini menyadarkan bahwa ternyata anak mampu mengajarkan sesuatu pada orang dewasa. Seperti Gwenn yang mengajarkan ibunya untuk berbagi nikmat yang Tuhan beri. Gwenn rela memberikan angpaunya untuk dibelikan sepeda baru Lela.

Anak juga mengajarkan untuk tidak berjiwa pendendam dan merupakan sosok pendamai terampuh. Pada cerita “Tak Jadi” dimana prasangka buruk istri membuat kesal suami hingga membuang cincin perkawinan mereka di kolam, putrinya lalu berteriak, “Papa-Mama, kenapa tidak capek berantem melulu?”

Yuni yang masih 10 tahun itu gigih meruntuhkan gengsi di antara kedua orang tuanya dengan berseru lagi, “Papa, sekarang Papa tidak lagi ajak Yuni main menangkap ikan. Mama, sekarang tidak lagi suka tertawa. Lama-lama cepat tua, lo!”

Karena diacuhkan, Yuni nekad mengaduk-aduk isi kolam, membuat kedua orang tuanya terkaget dan buru-buru menolongnya. Ketiganya berkotor-kotor hingga menemukan cincin kawin dan berpelukan, saling minta maaf.

Masih banyak kisah yang patut mendapat acungan empat jempol. Tampaknya buku “Cerita di Balik Noda” layak pula dinikmati kaum lelaki dan anak-anak, juga para lajang seperti saya, karena banyak ide sederhana yang langsung merasuk di hati. Sesuatu yang mengajarkan bahwa tidak selamanya noda itu buruk. Anak pun bisa mencontoh kreativitas yang diceritakan di sini, seperti pada cerita berjudul “Koki Cilik”, “Batik Kreasi Ivan”, “Master Piece” dan lain sebagainya.

Walau tampak sempurna, nyatanya buku “Cerita di Balik Noda” juga memiliki beberapa kekurangan. Seperti tidak adanya footer sebagai tempat pemberi keterangan untuk kata yang asing, seperti panggilan ‘Buya’ untuk ibu pada kisah “Dua Malaikat”. Juga pengenalan sang pemilik naskah asli, yang biodatanya tidak ikut serta disebutkan di sini. Kesannya seperti Fira Basuki mendominasi naskah. Padahal, ide awal kisah ada pada ke-38 ibu hebat berputra kreatif yang tersebar di seluruh Nusantara, bahkan mungkin juga ada di luar negeri. Kalau soal salah penulisan kata, sudah biasa. Mata manusia tidak selalu awas, bukan?


Kreativitas yang merupakan kemampuan menghasilkan suatu hal yang baru ataupun salah satu pemecahan suatu masalah, dapat dilihat dari segi berfikir dan bersikap kreatif dalam bentuk keterampilan. Bila sejak awal kreativitas anak sudah dikembangkan, maka akan terbentuk sikap dan pribadi kreatif. Sehingga saat ia tumbuh dewasa niscaya tidak akan menemui banyak kesulitan dalam hidupnya. Sebab modal berupa cepatnya penyesuaikan diri dalam kehidupan telah terbentuk dari sikap kreatif .

Semoga buku “Cerita di Balik Noda” semakin membuat pembaca terpacu mendidik buah hati dengan lebih baik lagi. Hikmah “berani kotor itu baik” hendaknya menjadi suatu acuan dalam pembelajaran di sekolah utama, yakni keluarga, sebagai unit terkecil pembentuk kepribadian suatu bangsa. Saya senang sekali dapat menikmati 42 kisah inspirasi jiwa ini, ada banyak pesan yang mampu saya bagi pada lingkungan sekitar, juga untuk pedoman bagi diri saya sendiri tentang bagaimana cara mendidik anak. Selain itu, saya berharap akan ada lagi pembukuan dari lomba menulis bertema “Cerita di Balik Noda” yang dapat saya ikuti suatu hari nanti.



0 kata para sahabat:

Posting Komentar

terima kasih sudah membaca ^^
tolong berkomentar dengan sopan yaaa... saya suka membaca komentar kalian semua :*