Kerja Cerdas Berbuah Manis Berkat Laptop Bisnis HP Dragonfly G4

 


Bagi ibu rumah tangga di masa sekarang, membangun bisnis dari rumah bukan lagi mimpi di siang bolong. Tidak perlu khawatir akan anak, karena tetap bisa mendampingi dan mengawasi. Tidak perlu takut urusan rumah terbengkalai, karena semua hal tuntas dikerjakan di dalamnya sampai selesai. Pun pundi-pundi rupiah bisa dengan mudah diraih terlebih bila ditunjang oleh Laptop Bisnis HP Dragonfly G4 yang serbaguna.


Siapa sangka bila seri laptop Dragonfly HP generasi ke-4 ini tidak hanya cocok dimiliki para profesional, namun juga sesuai bagi semua kalangan apapun lingkungan kerjanya. Termasuk untuk ibu rumah tangga yang ingin membantu perekonomian keluarga tanpa meninggalkan rumah. Apalagi kini banyak hal yang bisa digeluti oleh karena kecanggihan teknologi. Seperti misalnya menekuni bisnis secara online atau memaksimalkan keahlian yang dimiliki dan menghasilkan karya yang nyata.


Ibu Rumah Tangga yang Berkarya dan Bisnis yang Laris Manis

Bila sebelumnya ibu rumah tangga dinilai tidak memiliki peran besar selain mengurus suami, anak dan rumah, kini stigma itu bergeser. Terlebih di era sosial media seperti saat ini di mana banyak ibu yang kemudian bisa menunjukkan passion-nya sehingga minat dan bakatnya tergali dan berkembang dengan baik. Banyak kursus secara online yang juga bisa diikuti, disesuaikan pula dengan jadwal waktu luang yang ada. Itulah mengapa kini peran ibu rumah tangga semakin besar dan tampak nyata di setiap sendi kehidupan, salah satunya di perekonomian.


Ibu rumah tangga yang ingin berbisnis tidaklah salah, sebab ini adalah salah satu caranya untuk menunjukkan eksistensi dirinya. Selain itu juga menunjukkan bahwa ibu rumah tangga juga bisa jadi mandiri. Tidak hanya mengatur uang bulanan dari gaji suami, ibu rumah tangga yang punya bisnis jadi bisa leluasa menentukan sendiri besarnya penghasilan yang ingin didapatkan serta mengolah strategi untuk meningkatkan penghasilan. Ibu jadi lebih pandai mengatur perekonomian keluarga, bahkan membantu meningkatkannya.


Meski banyak yang meragukan, nyatanya ibu rumah tangga sejatinya begitu lihai berbisnis. Itu karena ibu telah terlatih untuk berani mengambil risiko, seperti bagaimana pengalamannya saat memutuskan untuk hamil, melahirkan, menyusui dan membesarkan buah hatinya. Ibu juga punya mental mandiri, seperti bagaimana ibu bisa mengurus buah hatinya meskipun dirinya sedang kurang enak badan. Pun ibu punya sikap yang berani memulai, walaupun diliputi rasa cemas karena banyak hal yang tidak pasti.

Ibu rumah tangga yang punya passion selalu ingin mengembangkan kemampuannya dan menghasilkan karya yang nyata. Inilah yang membuat ibu jadi memulai bisnis. Apalagi kaum perempuan memang lebih telaten dalam menjalankan suatu model usahanya dibandingkan kaum laki-laki. Juga bisa membuat produk yang punya nilai dan daya beli tinggi di masyarakat.


Ibu rumah tangga bila mengikis rasa jenuh akan rutinitas rumah tangga dengan bisnis yang dikelola. Sebab dalam berbisnis ada networking yang dibangun. Dengan begitu ibu jadi tetap bisa bersosialisasi. Tidak hanya refreshing bisa bertemu sesama perempuan, ibu juga bisa mengembangkan bisnisnya dengan mengajak teman dan kerabatnya dalam bisnis yang dibangun.


Langkah awal yang bisa dilakukan untuk memulai bisnis adalah mengikuti seminar ataupun lokakarya bisnis. Tidak harus meninggalkan rumah, sudah banyak lokakarya bisnis yang diselenggarakan secara online. Dengan begitu ibu jadi bisa belajar bisnis langsung dari ahlinya. Kemudian ibu bisa bergabung dengan komunitas wirausahawan secara online pula. Ini semua jadi mudah dilakukan dengan memanfaatkan kecanggihan Laptop Bisnis HP Dragonfly G4.


Spesifikasi Laptop Bisnis HP Dragonfly G4

Laptop Bisnis HP Dragonfly G4 yang multi fungsi dirasa sebagai rekan yang mumpuni dalam menemani ibu rumah tangga dalam kesehariannya. HP Dragonfly G4 memiliki prosesor Intel® Core™dari Generasi ke-13. Hal ini membuatnya jadi bisa menangani segala beban kerja, baik bila dipakai mengurusi bisnis dari rumah, dipasang di kafe, atau dipinjam suami untuk meeting di kantornya. Ditambah adanya Windows 11 Pro13 yang punya performa tinggi, sehingga laptop bisnis ini kinerjanya begitu responsif.

Tidak hanya kinerja perangkat keras yang kuat, HP Dragonfly G4 dilengkapi perangkat lunak yang penting. Seperti Windows Hello, yang memakai webcam IR dan sensor sidik jari untuk memverifikasi orang sehingga tidak sembarangan orang yang bisa menggunakannya. Dengan demikian keamanan dan kerahasiaan bisnis tetap terjaga. Aman pula dari ancaman malware dan siber karena HP Dragonfly G4 termasuk dalam kategori HP Wolf Security for Business.

 

Laptop bisnis ini dipercanggih dengan standar penempatan dan sudut pandang yang fleksibel. Ada engsel ergonomis 180 derajat untuk melipat layar hingga rata atau menyandarkannya pada suatu sudut yang bisa digunakan. Jadi bisa bebas genggam selama panggilan video, konferensi, dan rapat Zoom saat mengikuti lokakarya bisnis. Bila nyaman digunakan seperti demikian tentunya semangat berbisnis makin besar. 


HP Dragonfly G4 yang merupakan laptop bisnis ini punya 2 warna pilihan, ada silver manis atau biru romantis. Dengan memori hingga 32 GB, siap sangka bila bobotnya begitu ringan. Selain itu juga ultra tipis sehingga mudah dibawa ke mana saja. Tak perlu takut dengan koneksinya sebab telah dilengkapi dengan WiFi 6E, yang mendukung kecepatan internet lebih cepat. Pun Bluetooth 5.3 yang membuatnya jadi lebih mudah menyambungkan headphone peredam bising ataupun media lainnya. 

Kerja cerdas dimanapun dan kapanpun jadi bisa dilakukan oleh ibu rumah tangga. Tak perlu ragu untuk mulai berkarya dan menggeluti passion tanpa mengesampingkan keluarga. Yang penting selain hati senang, juga bisa mendapat uang. Yakin bisa makin cuan dengan Laptop Bisnis HP Dragonfly G4 yang performanya luar biasa.

Yang Muda yang Membudaya di “Kampung Lali Gadget”


Di era digital seperti saat ini tentu saja pemakaian gadget di segala kalangan menjadi tak asing lagi. Tidak hanya orang dewasa, bahkan anak-anak pun menggandrungi kecanggihan teknologi, utamanya smartphone. Memang harus bijak dalam menggunakannya, alih-alih berguna gadget bisa merusak generasi bangsa. Sebab pemakaiannya bukan sekedar menghubungi sanak kerabat juga namun merambah ke pencarian data, sosial media hingga hiburan berupa game online. 


Dalam game online, butuh koneksi internet. Tidak jarang karena keterbatasan ekonomi, anak-anak yang kecanduan game online jadi lebih sering nongkrong di warung kopi demi mendapatkan sambungan internet gratis lewat WiFi. Generasi muda yang harusnya memanfaatkan waktunya untuk menimba ilmu jadi lebih fokus membuang waktunya untuk kesenangan sesaat. Bahkan kemudian berujung penurunan prestasi di sekolah karena lebih mengutamakan bermain game di gadget daripada mengerjakan pekerjaan rumah.


Hal demikianlah yang membuat Achmad Irfandi, pemuda Desa Pagerngumbuk, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur, miris. Ia yang alumnus Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya ini menyaksikan sendiri bagaimana anak-anak kecil di desanya menghabiskan waktu di warung kopi demi berburu wifi. Padahal era digital yang mestinya berdampak positif dalam kehidupan sehari-hari nyatanya mengorbankan generasi muda. Menangkap fenomena yang tidak selaras antara perkembangan teknologi dan tumbuh kembang anak, maka digagaslah Yayasan Kampung Lali Gadget.



Penggagas Konservasi Budaya “Kampung Lali Gadget”

Lali merupakan bahasa Jawa dari lupa. Keinginan Irfan, sapaan akrabnya, agar anak-anak lupa dari gadget dan sibuk dalam dunia anak-anak yang semestinya kemudian membuatnya mendirikan Yayasan Kampung Lali Gadget (KLG) di depan rumahnya pada Agustus 2018 silam. Tujuannya sederhana, agar anak-anak kembali bermain dan melestarikan ragam permainan tradisional anak supaya tidak punah. Di masa sekarang, jangankan bermain, anak-anak yang mengenal permainan tradisional saja sudah sangat jarang.


Irfan kemudian merumuskan konsep dolanan tanpa gadget yang disampaikan ke komunitas Wonoayu Kreatif, komunitas lokal di Sidoarjo. Berkat ditanggapi antusias oleh anggota komunitasnya maka dibuatlah acara yang melibatkan masyarakat sekitar. Ide digital detoks yakni mendetoksifikasi pengaruh gadget dan internet pada generasi muda dengan memberi kesempatan pada anak untuk bermain bersama teman-temannya dan punya banyak pilihan permainan yang seru. Irfan menilai anak yang kecanduan main game itu karena tidak punya teman yang mengajak main, tidak punya pengetahuan soal permainan tradisional, dan juga kurangnya pilihan permainan yang ada di sekitar rumahnya.


Pemuda yang usianya lebih dari seperempat abad ini mengerti bahwa perkembangan teknologi seperti gadget dan internet berdampak baik bila dimanfaatkan secara optimal. Anak-anakpun boleh menggunakan sewajarnya. Yang terpenting ada batasan, karena anak-anak sedang mengalami masa pertumbuhan. Perlu banyak didikan, utamanya yang berhubungan dengan perilaku, moral dan tidak melupakan budaya.


Seperti yang kita ketahui, anak-anak yang sibuk dengan gadget maka akan sibuk dengan 'dunianya' sendiri. Padahal seharusnya mereka yang muda mau bermain dengan sebayanya maka bisa berlatih bersosialisasi, bekerja sama dan melestarikan budaya lewat permainan tradisional yang bisa didapatkan tanpa perlu mengeluarkan biaya. Yaa… mainan bisa dibuat menggunakan bahan yang tersedia di alam, daun dan batang tanaman misalnya. Bisa membuat kuda-kudaan dari pelepah pisang, perahu dari daun dan masih banyak lagi. 

Tuhan telah menyediakan berbagai mainan di alam, karenanya lah perlu mengenalkan permainan tradisional pada anak-anak. Dengan memanfaatkan bagian tanaman, batu, tanah, air maupun benda-benda di sekitar bisa mengasah kreativitas dan menumbuhkan daya imajinasi anak. Alam telah menyediakan, tinggal mengenalkan bagaimana cara bermainnya. Terlebih permainan tradisional bisa menjadi alat pembentukan karakter generasi muda, penyeimbang penggunaan gadget di era kini. 


Meski punya niat mulia, awal perjuangan Irfan mendirikan Yayasan Kampung Lali Gadget, yang kemudian disebut KLG, terbilang tidak mudah. Utamanya dalam hal pembiayaan, karena keinginan memfasilitasi aktivitas pendidikan lewat permainan tradisional secara gratis. Karenanya Irfan pun mendanai lewat hasil usaha pribadinya yakni berjualan udeng, ikat kepala laki-laki khas Sidoarjo. Selain itu, pemuda yang patut diacungi jempol ini juga rajin mengirim surat ke sekolah-sekolah terdekat guna mengirimkan perwakilan anak didiknya datang ke yayasan KLG. Padahal yayasan KLG merupakan bangunan semi terbuka yang dikelilingi sawah dan kebun, lokasinya juga cukup jauh dari jalan raya utama.


Berkat kegigihannya mengenalkan yayasan KLG, konservasi budaya gagasannya ini pun populer di masyarakat. Yang datang tidak hanya dari sekitaran Kecamatan Wonoayu, namun juga hingga luar kota lintas provinsi. Yang peduli dan memberikan donasi juga bertambah, sehingga bisa melakukan banyak perbaikan yayasan KLG menjadi lebih baik lagi. Dukungan baik moril maupun materil didapat dari berbagai elemen masyarakat, termasuk instansi pemerintah dan akademisi.


Jenis Permainan di Kampung Lali Gadget

Setiap akhir pekan ada ragam permainan berbeda-beda dan tematik. Anak-anak bisa mencoba aneka permainan tradisional yang disediakan di pendopo yayasan KLG. Ada egrang, klompen tali, klompen panjang, gasing, yoyo, dan sebagainya. Tema mingguannya yang variatif misalnya minggu ini bermain dengan daun, minggu depannya batang, batu, air dengan main di sawah, tangkap lele, main lumpur, membuat anak-anak antusias memainkannya. Pun merangkai puzzle Pancasila dimana pemahaman tentang keberagaman dan kebhinekaan di Indonesia dikenalkan pula saat memainkannya. Atau main telepon benang dimana disematkan juga pesan untuk menjaga lingkungan.

Tidak sekedar bermain, gamelan, wayang, juga makanan tradisional seperti jemblem yang merupakan jajanan khas Sidoarjo, tak lupa dikenalkan. Bagi Irfan yang namanya belajar tidak hanya dengan berada di sekolah formal. Namun bermain di lingkungan sekitar juga bisa menjadi tempat belajar, utamanya dalam mendidik karakter anak. Karena karakter akan muncul ketika anak itu berinteraksi dengan orang lain. Karakter seperti mau mengalah, gigih berjuang, toleransi dan bekerjasama bisa ditanamkan saat anak bermain bersama teman-temannya di alam. 


Yang paling seru saat anak-anak memainkan permainan tradisional seperti gobak sodor, cublek suweng dan bakiak. Pada permainan bakiak misalnya, anak-anak yang bermain harus kompak agar bisa berjalan dengan seimbang. Tidak boleh ada satu anggota dalam kelompok itu yang merasa lebih hebat lalu berjalan cepat. Alih-alih menang, yang ada bisa celaka karena tidak seimbang lalu terjatuh. Jadi meski awalnya kesulitan karena baru mengenal permainan ini, anak-anak tetap bahagia. Pun rasa kebersamaan, kekompakan, saling peduli, dan membantu tumbuh kala bermain bersama. 

Meski permainan tradisional dikenal membuat pakaian kotor, namun orang tua tidak boleh memarahi anaknya. Bahkan orang tua sengaja diminta menjauh dari lokasi permainan agar anak-anak leluasa bermain di alam bebas tanpa rasa takut. Sebagai gantinya, orang tua diberi ajang tersendiri di Balai Desa Pagerngumbuk. Jaraknya sekitar 50 meter dari lokasi main anak-anak. Di sini para orang tua diberi diskusi parenting yang menghadirkan psikolog, diberikan pemahaman tentang sejumlah permasalahan anak dan cara mengatasinya.


Kembangkan Potensi Sekitar "Kampung Lali Gadget"

Selain mendirikan yayasan KLG, rupanya Irfan tidak berhenti di situ saja. Pemuda ini juga peduli dengan sekitarnya dan bahkan berusaha mengembangkan potensi yang ada di daerah Wonoayu. Meski lokasinya berada di pedesaan, ternyata masih banyak masyarakat yang belum sadar akan potensi demografi wilayah. Hanya menjalani rutinitas yang kebanyakan sebagai petani saja, padahal masih banyak potensi yang bisa dikembangkan demi perbaikan ekonomi masyarakat.


Irfan meyakini bahwa bila potensi demografi diramu tentu melahirkan potensi yang luar biasa. Sebagai contoh, dengan alam Wonoayu yang merupakan kecamatan dengan tanah pertanian yang subur, apalagi generasi mudanya enggan mewarisinya maka bisa saja berangsur-angsur menjadi pemukiman padat. Beberapa kapling perumahan saja mulai terbangun, tanah persawahan perlahan mulai tergerus. Bila anak muda Wonoayu enggan menjadi petani maka bisa saja tanah pertanian akan punah.


Karena khawatir akan hal tersebut, Irfandi pun sering mengajak anak-anak untuk pergi ke sawah. Tidak sekedar bermain, namun juga mensyukuri alam sekitar dan harapannya agar anak-anak tak risih dengan lumpur dan aneka flora fauna di sana. Anak-anak yang melihat bagaimana kerja petani di sawah bisa lebih banyak belajar dan menghargai apa yang sekarang mereka dapatkan. Semoga pula ada harapan lahirnya petani millenial yang tetap mau mengelola dan mengembangkan hasil tanah pertanian, utamanya di persawahan.


Tidak hanya itu, rupanya Wonoayu punya potensi sejarah yang bisa dijadikan tempat wisata menarik. Sayangnya masih belum banyak diketahui khalayak ramai. Ada Candi Dermo dan keberadaan Pabrik Gula Popoh Wonoayu yang bisa dijadikan jujukan sejarah. Bangunannya masih terjaga, jadi masih layak untuk dikunjungi dan dipelajari isinya.


Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di bumi Wonoayu juga bisa dijadikan potensi wisata lainnya. Ada pengrajin gitar yang populer dalam lingkup musisi-musisi luar negeri. Adapula pengrajin Udeng Pacul Gowang asli Sidoarjo. Ini adalah penutup kepala yang menutupi sebagian kepala laki-laki sebagai lambang keseimbangan antara terbukanya pikiran prajurit dan upaya merahasiakan atau menutup keburukan dirinya untuk kewibawaannya. Tentu saja melestarikan budaya berhubungan dengan kemajuan bangsa, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya.


Penghargaan yang Diraih

Setelah 5 tahun berjalan, yayasan KLG telah banyak berkembang. Tercatat ada lebih dari 100 penggerak dolanan, istilah konservasi budaya permainan tradisional, yang diberdayakan. Ada lebih dari 120 jenis mainan tradisional yang 'dihidupkan' kembali dengan lebih dari 30 tema bermain tradisional yang dieksplorasi, juga lebih dari 10.000 anak yang teredukasi dengan lebih dari 10.000 alat mainan tradisional yang diedarkan. Tak hanya itu, ada lebih dari 200 lembaga pendidikan dan komunitas yang telah berkolaborasi. Bahkan orang-orang dari 15 provinsi Indonesia dan orang-orang dari 12 negara di dunia telah belajar di yayasan KLG.

Semakin banyak anak yang tertarik menghabiskan waktu akhir pekan di yayasan KLG dibandingkan asyik memainkan gadgetnya. Maka tak heran apabila yayasan KLG pun meraih penghargaan inovasi sosial terbaik versi Astra. Irfan sendiri meraih prestasi berupa Pemuda Pelopor Bidang Pendidikan Nomor 1 di Jawa Timur tahun 2020 oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Gerakan untuk mengurangi kecanduan gadget ini pun mendapat apresiasi Astra International Tbk melalui penghargaan Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2021.


Rupanya perjalanan Irfan meraih penghargaan bergengsi ini tak mulus. Ia telah mendaftar di SATU Indonesia Awards sejak 2019. Sayangnya tidak lolos. Lalu mendaftar pada tahun 2020 dan tidak lolos lagi. Syukurlah di tahun 2021, dia tidak kapok mendaftar dan malah berujung menjadi finalis di kategori penggerak koservasi budaya melalui Kampung Lali Gadget. 


Harapan Irfan Kedepannya

Irfan bergitu berharap program di yayasan KLG yang digagasnya bisa menginspirasi lebih banyak orang. Dengan demikian jadi biaa menyelamatkan anak-anak dari kecanduan gadget dan mencetak generasi muda Indonesia yang berkarakter kuat. Keberadaan yayasan KLG ini sangat penting bagi anak-anak yang sudah seharusnya dididik sepenuh hati dan dekat dengan alam. Kedepannya Irfan berencana membuat lembaga pendidikan non formal berbasis kampung, seperti sekolah alam tapi yang terjangkau masyarakat. 

Irfan berharap apa yang telah dilakukannya juga bisa memperbaiki literasi digital. Kini anak-anak memang bisa dengan mudah mengakses internet namun belum terbimbing untuk punya etika dalam penggunaan media sosial dan aplikasi perpesanan instan. Misalnya saja saat menghubungi yang lebih tua melalui WhatsApp, anak-anak kerap tidak menggunakan salam dan bahkan kata-katanya kurang sopan saat meninggalkan komentar di sosial media. Irfan berharap semoga edukasi di yayasan KLG bisa membantu pertumbuhan dan perkembangan anak-anak menjadi generasi penerus yang tidak lupa budaya, sadar akan etika, sopan santun, dan berbudi pekerti yang baik. 





Sumber:

https://jatim.solopos.com/kampung-lali-gadget-sidoarjo-tempat-anak-anak-bergembira-tanpa-gawai-1226954/amp

https://www.suarasurabaya.net/kelanakota/2022/kampung-lali-gadget-lestarikan-permainan-tradisional-untuk-anak/?amp

https://www.pdipkreatif.id/detail/wisata/1298/kampung-lali-gadget

https://sidoarjonews.id/achmad-Irfan-sosok-pelopor-yayasan-kampung-lali-gadget-klg-di-sidoarjo/

https://m.kumparan.com/amp/beritaanaksurabaya/mengenal-irfan-pemuda-sidoarjo-yang-membuat-kampung-lali-gadget-1vq51qeW1BP