Categories

31 Agustus 2020

Karena Waktu tak Bisa Kembali, Inilah Alasan Mengapa Harus Beri Susu Soya pada si Kecil

 

Rasanya masih tak percaya bahwa sekarang saya sudah menjadi seorang Bunda. Bagaimana tidak, kini saya telah memiliki seorang anak lelaki yang lucu nan pintar. Padahal rasanya baru kemarin menikah dan mengandung si kecil, membawanya kemana-mana. Mengelus-elus perut dan bercerita banyak hal padanya, hingga kemudian berjuang melahirkannya. Ah... kini sosok yang aktif ada di hadapan saya, si kecil yang manis nan selalu tersenyum saat tahu saya menatapnya.

Saya dan suami memberi namanya Azril, yang berarti baik nan sempurna. Karena nama adalah harapan, kami berharap semoga dia selalu melakukan hal baik dan hal-hal baiklah yang terjadi padanya. Sayangnya, memang tak semua keinginan bisa terwujud. Hal yang tak kami sangka terjadi: Azril alergi susu sapi.


Alergi Susu Sapi

Alergi ini baru kami ketahui saat usianya 2 tahun. Setelah tak lagi minum Air Susu Ibu (ASI), kami memberikannya susu formula dari susu sapi. Sekitar sebulan hingga dua bulan dia meminumnya, awalnya tak ada masalah. Hingga saat kami pulang kampung, dia yang lagi asyik minum susu dan tertidur pulas, tiba-tiba menangis. Ternyata suhu badannya tinggi sekali dan badannya keluar bentol-bentol merah.

Bentol-bentol merah itu awalnya keluar di daerah lehernya. Saya kira karena ada hewan yang menggigitnya, entah nyamuk, semut atau kutu busuk. Lekas saya gendong dia, sambil mengoles-oles lehernya dengan minyak tawon. Tak juga reda, bentol-bentol malah semakin banyak di paha, perut dan juga kakinya. Badannya pun semakin panas.

Saya yang masih mengira bahwa itu adalah sakit panas biasa dengan kemungkinan Azril yang digigit kutu busuk, hanya memberikannya obat penurun demam sambil terus menggendong dan mengelus tubuhnya. Setelah sejam, si kecil semata wayang kami ini tak serewel sebelumnya, bahkan dia tertawa saat saya ajak bercanda. Panas tubuhnya mereda, tinggal bentol-bentol di sekujur tubuhnya. "Kenapa ya?", saat itu saya masih belum paham bahwa Azril ada alergi susu sapi.

Orang tua saya yang sudah curiga, berkata kalau kemungkinan Azril menderita alergi susu sapi. Sewaktu itu saya menyangkal, sebab saya pikir kalau memang alergi harusnya tanda itu muncul di awal konsumsi susu formula, bukan setelah beberapa bulan mengkonsumsinya. Kalaupun alergi, mungkin dari makanan. Tapi masalahnya Azril hanya makan nasi sayur bening dengan ayam goreng. Kami pun memakannya dan tak kenapa-napa.

Alergi merupakan serangkaian gejala yang timbul sebagai respon dari sistem imun tubuh terhadap zat tertentu (alergen). Banyak yang menyebutkan bahwa alergi bersifat genetik, atau sesuatu yang diturunkan dari orang tua. Kalau suami saya tidak ada alergi apapun, sedangkan saya alergi makanan laut. Bila jumlah yang saya konsumsi masih sewajarnya, alergi tersebut tidak muncul. Tapi bila jumlahnya berlebihan atau saya makan udang, kerang ataupun ikan laut setiap hari, maka badan saya terutama kaki mengalami gatal.

Memang saya pernah membaca studi bahwa anak yang lahir dari orang tua yang memiliki alergi kacang berrisiko 7 kali lebih besar menderita alergi yang sama, dibandingkan anak lain yang orang tuanya tidak alergi kacang. Selain itu alergi makanan cenderung lebih sering terjadi pada anak-anak dibandingkan orang dewasa. Nanti seiring bertambahnya usia dan kuatnya daya tahan tubuh, alergi makanan pada sebagian anak akan menghilang dengan sendirinya, meski masih ada yang tetap memilikinya hingga dewasa.

Nah berdasarkan penelitian pula disebutkan bahwa risiko alergi anak diketahui lebih tinggi apabila ibu atau kedua orang tuanya memiliki alergi. Namun jenis alerginya tidak selalu sama karena yang diturunkan hanya risiko atau kemungkinan alergi. Jadi bila orang tua memiliki alergi, anak memiliki kemungkinan alergi yang lebih tinggi. Tetapi jenis alergi yang dimiliki dapat berbeda antara anak dan orang tua, seperti saya yang alergi makanan laut dan Azril yang alergi... entah apa.

Agar lebih jelas, kami pun memeriksakannya kepada dokter anak di rumah sakit tempat Mama saya bekerja. Kata dokter anak, Azril menderita alergi susu sapi, seperti dugaan orang tua saya. Memang tingkat keparahan reaksi alergi yang dialami si kecil terhadap susu dapat bervariasi. Ada yang cenderung ringan, tapi bisa juga reaksi selanjutnya jadi lebih parah dan bahkan mengancam jiwa. Duh, mengetahui akan hal itu, kami langsung cemas.

Alergi susu sapi merupakan salah satu alergi yang paling umum dialami anak-anak. Diperkirakan sebagian besar anak bisa sembuh setelah menginjak usia 5 tahun. Salah satu tanda nyata yang juga dialami Azril ialah adanya bintik merah di kulit, bahkan sampai bentol. Bintik merah karena alergi susu dapat menyebabkan rasa gatal yang parah, ruam merahnya bahkan bak menumpuk pada kulit. Gejala ini biasanya terjadi dengan cepat setelah meminum susu sapi, meskipun itu susu formula yang diolah dengan khusus. 

Masih jelas di ingatan saya bagaimana Azril menangis keras. Tak hanya bentol-bentol dan badannya yang panas, tangannya pun menggaruk-garuk kepala, leher, perut dan kakinya. Cerobohnya saya yang mengira hanya bekas gigitan nyamuk, pun kemudian mengira biduran yang biasa saya alami. Ternyata ini adalah reaksi alergi susu sapi, hal yang bisa membahayakan si kecil.

Reaksi lain dari alergi susu sapi yang bisa terjadi pada si kecil:

- Diare

Diare terjadi dikarenakan saluran pencernaan bayi tidak dapat menerima laktosa si gula alami ataupun senyawa lain yang dihasilkan oleh susu sapi. Bila diare tak tertangani dengan baik, si kecil bisa dehidrasi atau kekurangan cairan tubuh. Bila dehidrasi parah, si kecil akan mengalami  lemah dan lesu serta malas untuk minum maupun makan. Parahnya, dehidrasi bisa mengakibatkan komplikasi medis serius, seperti kerusakan pada organ hati, ginjal ataupun otak dan ini tentu sangat mengganggu tumbuh kembang si kecil.

- Perut Kembung

Si kecil yang mengalami alergi susu, biasanya perutnya kembung. Kondisi pencernaan jadi tidak nyaman, sehingga  memicu mual atau muntah. Si kecil yang tak nyaman tentu jadi rewel dan bisa menangis sepanjang waktu.

Itu baru beberapa di antara sekian banyak reaksi alergi susu sapi. Selain bisa menghambat pemenuhan nutrisi dan membuat tumbuh kembang si kecil pun terganggu, alergi susu juga memberikan rasa cemas yang mengganggu kebahagiaan keluarga. Orang tua mana yang tak sedih saat anaknya menangis karena kondisi kesakitan akibat reaksi alergi? Padahal waktu tak bisa berhenti, tentunya siapapun tak ingin masa emas terlalui dengan perasaan seperti ini kan.


Cara Penuhi Nutrisi Harian si Kecil

Setelah tahu Azril menderita alergi susu sapi, saat itu juga kami menghentikan pemberian susu yang biasa dia minum dan menggantinya dengan susu soya. Kami mencari alternatif susu pengganti demi terpenuhinya kebutuhan gizi si kecil. Yang kami pahami, walau bagaimanapun, susu adalah sumber nutrisi yang kaya protein, kalsium, vitamin D, dan vitamin A dan dapat membantu pemenuhan kebutuhan nutrisi si kecil demi optimal tumbuh kembangnya. 

Dalam susu soya, karena terbuat dari nabati, kandungan fosfornya lebih rendah dari susu hewani. Namun kandungan alkali fosfatase dan ostepenianya lebih tinggi. Kandungannya pun tak kalah dengan susu sapi, dimana juga mengandung nutrisi penting untuk pertumbuhansi kecil seperti protein, vitamin, omega-3, omega-6, zat besi, kalsium dan aneka mineral lain yang dibutuhkan oleh tumbuh kembang tubuh si kecil.

Biasanya Kakeknya Azril yang membuatkan stok susu soya. Beliau telaten sekali memproses biji kedelai yang keras jadi susu soya yang lezat. Diberi pandan untuk membuang bau amisnya, serta diberi sedikit gula untuk menambah nikmat rasanya. Tapi susu soya ini hanya bisa Azril nikmati saat berada di kampung halaman. Karena setelah kami kembali ke rumah, yang beda kota dengan orang tua kami dari kedua belah pihak, saya yang tak bisa membuat susu soya akhirnya memutuskan memilih memberikan susu formula soya.


Pilihan Susu Soya Terbaik

Susu formula soya ada beragam merek yang beredar di pasaran. Kami kudu jeli memilih demi pemenuhan nutrisi si kecil. Dari kandungan hingga harganya, juga rasa yang disukai Azril sebab dia sudah bisa menilai mana rasa yang disukainya dan mana yang tidak. Lalu pilihan kami jatuh pada Morinaga Chil*Kid Soya.



Morinaga Chil*Kid Soya ini merupakan susu pertumbuhan dengan isolat protein kedelai yang sesuai untuk anak usia 1 – 3 tahun, seusia Azril. Kami percaya bahwa kandungan MoriCare+ Zigma Triple Bifidus di dalamnya mendukung kecerdasan multi talenta, pertahanan tubuh ganda, dan tumbuh kembang optimal. Morinaga Soya adalah satu-satunya formula pertumbuhan dengan protein soya yang diakui BPOM dan dilengkapi dengan kandungan AA dan DHA, serta mengandung nutrisi sinbiotik (sinergi dari probiotik dan prebiotik) dengan 3 jenis Bifidobacteria. 

Awalnya saya beri Morinaga Chil*Kid Soya rasa vanilla padanya. Ternyata Azril suka, katanya rasanya enak. Azril tidak eneg saat meminumnya, pun sudah mau minum di cangkir mungilnya. Padahal sebelumnya Azril tidak pernah mau minun susunya lewat cangkir, selalu minta ditaruh botol. Syukurlah sudah ada perubahan. Rasanya waktu lekas sekali berlalu, si kecil pun beranjak makin besar.

Masa emas tak akan terulang, karena waktu tidak akan kembali. Sudah jadi kewajiban orang tua untuk memberikan yang terbaik untuk si kecil. Sudah jadi kewajiban penuhi nutrisinya agar optimal tumbuh kembangnya dan jadi anak kebanggan keluarga. Karena itu, bagi yang punya buah hati yang ternyata alergi susu sapi, lebih baik beri Morinaga Soya bagi Si Kecil, dan boleh mulai dari usia 1 tahun loh.

Info lengkap soal Morinaga Chil*Kid Soya bisa dicek di:

- Website : cekalergi.com

- IG : @MorinagaPlatinum

susu_soya_morinaga 
Back to Top