Perawatan Gigi Berlubang dengan Bahan Tambal Gigi Komposit atau Amalgame



Solusi Sakit Gigi Berlubang - Gigi berlubang atau karies gigi, adalah masalah umum yang dialami oleh banyak orang di seluruh dunia. Karies terjadi ketika lapisan luar gigi yang rusak akibat kerusakan bakteri dan asam, menyebabkan pembentukan rongga. Perawatan segera diperlukan untuk mencegah karies semakin parah.


Dalam perawatan gigi berlubang, Cooling5 Plus, salah satu solusi sakit gigi berlubang menjelaskan dua bahan yang sering digunakan adalah tambal gigi komposit dan amalgame. Artikel ini akan membahas perbedaan antara kedua bahan ini dan bagaimana mereka digunakan dalam perawatan gigi berlubang.


Tambal Gigi Komposit

Komposit adalah bahan tambal gigi yang terbuat dari campuran resin plastik dan partikel keramik atau kaca. Berikut adalah beberapa karakteristik dan keunggulan dari tambal gigi komposit:

  • Estetika
Tambal gigi komposit memiliki tampilan yang mirip dengan warna alami gigi, sehingga lebih cocok untuk gigi depan. Mereka lebih estetis daripada amalgame yang tampak perak.

  • Kekuatan Ikatan

Tambal gigi komposit dapat mengikat dengan baik ke struktur gigi. Ini dapat membantu mengurangi risiko kerusakan lebih lanjut.

  • Pengurangan Bahan

Tambal gigi komposit memerlukan penghilangan lebih sedikit jaringan gigi sehat saat persiapan. Ini menghasilkan gigi yang lebih kuat dan lebih tahan lama.

  • Waktu Aplikasi

Proses pemasangan tambal gigi komposit biasanya lebih cepat daripada amalgame. Ini dapat menghemat waktu Anda di kursi dokter gigi.


Amalgame

Sedangkan amalgame atau tambalan perak, adalah campuran logam yang terdiri dari merkuri, perak, timbal, tembaga, dan timah. Berikut adalah beberapa karakteristik dan keunggulan dari amalgame:

  • Harga Lebih Murah

Amalgame cenderung lebih ekonomis dibandingkan dengan tambal gigi komposit, sehingga bisa menjadi pilihan yang lebih terjangkau.

  • Kekuatan

Cooling5 Plus, salah satu solusi sakit gigi berlubang menjelaskan, amalgame cukup tahan lama dan kuat. Ini membuatnya cocok untuk gigi yang mengalami tekanan besar saat mengunyah.

  • Proses Instalasi

Instalasi amalgame seringkali lebih mudah dan lebih cepat dibandingkan dengan tambal gigi komposit. Dokter gigi dapat menyelesaikan prosedur ini dengan lebih cepat.

  • Ketahanan Terhadap Kelembapan

Amalgame lebih tahan terhadap kondisi lembap dalam mulut, sehingga lebih cocok untuk gigi belakang yang lebih sering terkena air liur.


Pemilihan Bahan Tambal

Pemilihan antara tambal gigi komposit dan amalgame harus dipertimbangkan berdasarkan situasi klinis dan preferensi pasien. Beberapa faktor yang mempengaruhi pemilihan bahan tambal gigi termasuk lokasi lubang gigi, estetika, biaya, dan kekuatan yang dibutuhkan.


Menurut salah satu solusi sakit gigi berlubang, yakni Cooling5 Plus, dalam banyak kasus, tambal gigi komposit adalah pilihan yang lebih disukai karena kemampuannya untuk menciptakan tampilan yang lebih alami dan membutuhkan penghilangan jaringan gigi yang lebih sedikit. Namun, dalam beberapa situasi, amalgame tetap menjadi alternatif yang baik terutama untuk gigi posterior yang tersembunyi dari pandangan.

 

Perawatan gigi berlubang adalah langkah penting dalam menjaga kesehatan gigi dan mencegah kerusakan lebih lanjut. Konsultasikan dengan dokter gigi Anda untuk memutuskan jenis tambal gigi yang paling cocok untuk Anda berdasarkan kondisi gigi Anda, dan untuk mendapatkan perawatan yang tepat sesuai dengan kebutuhan Anda.


Sedangkan untuk penanganan pertama ketika mengalami masalah akibat gigi berlubang, segera gunakan Cooling5 Plus sebagai solusi sakit gigi berlubang.


Cooling5 Plus merupakan obat semprot rongga mulut yang berfungsi untuk menghilangkan rasa sakit misalnya pada saat sariawan, sakit gigi, radang gusi dan sakit saat pertumbuhan gigi. Untuk penggunaannya, cukup semprotkan pada area sakit, bila perlu diulang tiap 3-4 jam.

Melangkah Maju: Menemukan Pekerjaan Impian di Jakarta

Melangkah maju dalam karir dan menemukan pekerjaan impian menjadi tantangan yang seru, terutama di kota megapolitan seperti Jakarta. Ibu kota Indonesia tidak hanya menawarkan hiruk-pikuk kehidupan perkotaan yang dinamis tetapi juga menyediakan berbagai peluang pekerjaan yang menarik dan beragam. Bagi mereka yang bercita-cita tinggi dan ingin meraih puncak karir, Jakarta adalah tempat yang tepat untuk melangkah maju.

Pertama-tama, identifikasi dengan jelas apa yang menjadi pekerjaan impian. Apakah itu di bidang teknologi, keuangan, kreatif, atau yang lainnya? Jakarta menawarkan berbagai sektor industri, dan dengan mengetahui minat dan keahlian, maka dapat menyusun langkah-langkah menuju pekerjaan yang benar-benar memenuhi hasrat dan potensi yang dimiliki.


Selanjutnya, bangun jaringan yang kuat. Jakarta adalah tempat di mana koneksi dan relasi sosial berharga. Terlibat dalam acara networking, seminar industri, atau bahkan melalui platform online dapat membantu memperluas jejaring, bertemu dengan profesional di bidang yang dituju, dan mendapatkan wawasan berharga tentang industri tersebut.


Perbarui CV dan profil profesional secara berkala. Pastikan untuk menonjolkan pengalaman, keterampilan, dan pencapaian yang relevan dengan pekerjaan impian. Perusahaan di Jakarta mencari individu yang memiliki dedikasi dan kontribusi nyata dalam pekerjaan mereka.


Manfaatkan sumber daya online untuk mencari informasi loker Jakarta terkini. Banyak situs web khusus dan platform online yang menyediakan daftar lowongan pekerjaan yang dapat diakses dengan mudah. Dengan tetap terhubung dengan perkembangan terbaru, sehingga dapat mengidentifikasi peluang sejak dini dan meningkatkan peluang untuk mendapatkan pekerjaan yang diinginkan.


Dengan tekad dan langkah-langkah yang tepat, melangkah maju untuk menemukan pekerjaan impian di Jakarta bukanlah mimpi. Kota ini penuh dengan potensi dan peluang bagi mereka yang bersedia mengejar impian dan ambisi mereka. Jadi, bersiaplah melangkah maju menuju puncak karir di Ibu Kota.

Peran Remaja dan Penyandang Disabilitas dalam Pemilihan Umum

 

Tak disangka, Pemilihan Umum (Pemilu) sudah di depan mata. Tepatnya di 14 Februari 2024 mendatang, pesta demokrasi untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden serta Legislatif diadakan. Rasanya sungguh antusias, terlebih kini sudah masuk masa kampanye dan beberapa calon wakil rakyat telah mensosialisasikan visi misinya. Jadi makin penasaran siapa yang nantinya akan terpilih.


Dalam pelaksanaan Pemilu, semua masyarakat diharapkan turut berpartisipasi, termasuk penyandang disabilitas. Tentunya tidak semua, namun sesuai persyaratan yang berlaku. Yakni penyandang disabilitas yang sudah memiliki E-KTP bisa menggunakan haknya untuk memilih sebab persyaratan utama untuk menjadi pemilih saat Pemilu ialah memiliki E-KTP. Jadi penyandang disabilitas juga punya hak politik yang sama dan berhak untuk dilibatkan dalam segala kepentingan masyarakat. 


Lalu bagaimana peran Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu) dalam menyediakan fasilitas pada penyandang disabilitas agar bisa memaksimalkan hak untuk memilih? Lalu bagaimana juga dengan peran remaja, khususnya remaja dengan disabilitas dalam pelaksanaan Pemilu kali ini? Semua pertanyaan tersebut kemudian terjawab saat menyimak Diskusi Publik Ruang KBR dengan host Rizal Wijaya. Temanya menarik, yakni "Partisipasi Remaja dengan Disabilitas dalam Pemilu 2024".


Menghadirkan Bu Noviati, S. IP., yang merupakan tim Panwaslu Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Wonogiri - Jawa Tengah. Wanita berkerudung ini juga bagian dari Pusat Pengembangan dan Pelatihan Rehabilitasi Bersumber Daya Masyarakat (PPRBM), lembaga yang sejak 1978 bergerak di isu pemberdayaan dan advokasi penyandang disabilitas, Orang yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK) dan kaum-kaum termarjinalkan lainnya. Bekerjasama dengan NRL Indonesia, ada Proyek Prioritaskan Anak dengan Disabilitas (PADI) yang dijalankannya yang mana bertujuan agar anak-anak dengan disabilitas dan yang pernah mengalami kusta dapat menikmati hak dasar mereka. Juga bisa secara penuh berpartisipasi sesuai usia mereka di tengah masyarakat yang inklusif disabilitas.


Dalam Diskusi Publik yang bisa disimak di YouTube Berita KBR dan disiarkan secara streaming di 100 radio jaringan KBR dari Aceh sampai Papua ini juga menghadirkan Kenichi Satria Kaffah. Ken, sapaan akrabnya, adalah disabilitas netra. Sebelumnya lelaki 20 tahun ini menderita low vision dan mengalami disabilitas saat kelas 1 SMP. Remaja yang masih kuliah ini merupakan aktivitas disabilitas yang bergerak di perancangan peraturan perundang-undangan advokasi terkait hak-hak disabilitas baik ke pemerintah dan pihak swasta. Keren sekali!


Saat ditanya tentang bagaimana rasanya tahun depan bisa berpartisipasi dalam Pemilu, Ken antusias menjawab, "Seru sih! Ini pengalaman pertama menjadi partisipasi. Banyak teman-teman yang belum tahu mengapa harus nyoblos, peran presiden itu apa sih, dan hal-hal lainnya. Ini juga bisa jadi wadah dimana remaja dengan disabilitas punya peran bermakna dengan ikut terjun langsung dalam proses pemilihan umum."

Menurutnya anak muda harus memilih, sebab masa depan itu berdasarkan apa yang kita tentukan saat ini. Terlebih di Pemilu 2024 diproyeksikan ada 60% pemilih dari kategori pemilih pemula, oleh karena itu keberadaannya sangat menentukan proses dan hasil Pemilu. Demi bisa memaksimalkan Indonesia Emas di 2045 nanti, edukasi soal pemilu harus dimaksimalkan. Anak muda hendaknya punya paham yang baik tidak hanya soal ekonomi, lingkungan dan Hak Asasi Manusia (HAM), tapi juga pengetahuan dan keterlibatan di politik juga haruslah ditambah.


Mengenai keterlibatan penyandang disabilitas dalam berpolitik, Bu Novi menjelaskan bagaimana konstitusi negara kita sudah sangat jelas ngatur pemenuhan hak politik bagi semua disabilitas. Tidak hanya tertuang dalam UUD 1945 tapi ada pula dalam UU no 7 tahun 2017 pasal 5 yang menyebutkan bahwa penyandang disabilitas yang memenuhi persyaratan memiliki hak yang sama sebagai pemilih untuk menggunakan hak pilihnya, sebagai peserta pemilu dan penyelenggara pemilu. Pun dalam Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) terkait Pemilu 2024 no 22 tahun 2022 tentang penyusunan daftar pemilih dan sistem informasi data pemilih, sebenarnya telah memberikan ruang seluas-luasnya kepada penyandang disabilitas. Hal ini mulai dari hak mereka untuk didaftar sebagai pemilih, hak untuk memberikan suara secara rahasia, hak atas Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang mudah diakses, dan hak untuk mencalonkan atau dicalonkan sebagai anggota legislatif, Calon Presiden (Capres) - Calon Wakil Presiden (Cawapres), kepala daerah dan sebagainya. Meskipun memang implementasinya belum maksimal, tapi akan terus diperbaiki seiring berjalannya waktu.


Tugas Bu Novi sebagai bagian dari Panwaslu punya peranan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengawasan Pemilu. Masyarakat dalam hal ini juga termasuk penyandang disabilitas, jadi Panwaslu memastikan para penyandang disabilitas yang memenuhi persyaratan sebagai pemilih bisa menggunakan haknya dengan baik. Meskipun ada beberapa kendala seperti temuan di masyarakat yang antara data dan kenyataannya tidak sesuai dengan spesifikasi disabilitasnya, atau ada juga yang tidak terdata karena kurangnya dukungan dari keluarga sehingga kehadirannya bak "disembunyikan". Salah informasi dari pendata di lapangan juga jadi pertimbangan, seperti kesalahan dalam menginterpretasikan disabilitas. Nah hal-hal inilah kemudian memberikan dampak pada pengadaan TPS. 


TPS bagi penyandang disabilitas harus khusus, sebab ada "template" dengan huruf braille bagi disabilitas netra, area yang bisa digunakan pakai kursi roda dan tempatnya haruslah tidak berundak, tidak sempit, serta bilik suara lebar menyesuaikan lebar kursi roda. Disinilah peran Panwaslu menjembatani agar hal ini sesuai. Sebab Ken juga bercerita soal bagaimana kakak-kakaknya dulu saat memilih pada periode sebelumnya, ternyata mengalami masalah dimana ada yang template-nya tidak tersedia, petunjuk yang samar dan sulit dimengerti, serta akses kursi roda yang kurang memadai. Sejatinya kekurangan-kekurangan ini bisa diinformasikan segera ke posko pengaduan Panwaslu dan mendapat penanganan lebih lanjut.


Bu Novi mengatakan, "Dari Banwaslu sendiri sudah menyediakan posko-posko pengaduan bila masyarakat mengalami kendala mengakses informasi, atau saat hari pelaksanaan Pemilu ternyata lokasi TPS tidak aksesibel. Padahal jauh-jauh hari sudah dilakukan pemetaan sebelum pembuatan TPS dimana sebulan sebelumnya dan sehari sebelum Pemilu pembangunan TPs telah selesai. Jadi masyarakat sebenarnya sudah diberikan kesempatan untuk cek kondisi TPS-nya, di sinilah peran aktif masyarakat begitu dibutuhkan."

 

"Masyarakat bisa tahu soal Daftar Pemilih Tetap (DPT) dari data yg terpasang di kantor kelurahan dan desa-desa seluruh Indonesia. Datanya bisa dilihat semua orang, sehingga masyarakat tahu nyoblos di TPS mana. Jika ternyata TPS tidak bisa diakses, masyarakat bisa memberi masukan. Nah ketika hari H ternyata fasilitasnya belum tersedia, boleh langsung berikan pengaduan ke Banwaslu melalui posko pengaduan," lanjut Bu Novi dengan rinci.


Sebagian besar masyarakat memang belum begitu paham sebab sosialisasinya belum begitu massive. Padahal bisa langsung ke 2 platform yang sudah disediakan, ada website https://cekdptonline.kpu.go.id/ dan aplikasi Sistem Informasi Layanan Pendaftaran/Pelaporan Ormas (Silapor). Untuk pencarian data pemilih pada Pemilu 2024 bisa dengan cara memasukkan Nomor Induk Kependudukan (NIK) di https://cekdptonline.kpu.go.id/. Bila ada kendala bisa langsung lapor di aplikasi Silapor. Sayangnya memang sosialisasi kedua platform ini masih belum maksimal, kata Ken ternyata masih banyak rekan penyandang disabilitas yang belum mengetahuinya.


Itulah salah satu alasan mengapa Ken berperan aktif dalam mensosialisasikan soal Pemilu. Alasan lainnya karena pemuda hebat ini ingin berpartisipasi mewujudkan Indonesia yang cerah dengan mengembangkan kemampuan dirinya. Apalagi di Indonesia Emas nanti agar bisa bersaing dengan pasar global, beragam keahlian harus dipupuk mulai dari sekarang sebab rentang waktu 10 tahun dirasa belum cukup. Jadi alasan yang kuat juga mengapa kemudian Gen Z, gen alpa dan generasi ke bawah selanjutnya punya tantangan tersendiri untuk melakukan perubahan ini. 


Diceritakan bahwa Ken mengenal apa dan bagaimana pemilu dari keluarga terdekat. Ada peran orang tua dan tenaga pendidik di dalamnya. Di lingkungan yang lebih luas, Ken kenal ilmu politik dari sosial media (sosmed), apalagi di masa teknologi seperti saat ini. Ken mengharapkan para influencer bisa mengedukasi soal pemilu sehingga para generasi muda bisa ikut aktif dalam pelaksanaannya. Tidak sampai ada hoaks yang tersebar, karena ada info benar dan pasti yang didapatkan.


Selanjutnya Bu Novi menceritakan bagaimana proses pengenalan pemilu ke pemilih pemula, utamanya ke penyandang disabilitas. Jadi tidak hanya mengenakan apa itu pemilu, tapi juga mengenalkan figur-figur yang akan dipilih, aneka partai politik yang melakukan kompetisi, tapi juga melakukan simulasi. Dengan begitu pemilih pemula bisa lebih paham. Penekanannya yang lebih detail bisa memudahkan pemilih pemula dalam penggunaan hak pilihnya. 


Ken menambahkan soal pentingnya edukasi dari lingkungan terdekat agar bisa memfilter informasi dengan baik. Kita tidak bisa mengatur apa yg ada di sosial media, dimana banyak juga berita hoaks yang dibagikan. Jadi lebih baik perbanyak membaca sebab informasi yang disajikan lebih detail dan tidak membingungkan, dibandingkan bila menyimak lewat video yang sepotong-sepotong. Baiknya juga edukasi soal pemilu hendaknya tidak saja dilakukan menjelang pemilu. Pun usainya bisa terus disosialisasikan agar masyarakat bisa lebih memahami pemilu dengan lebih rinci.


Tentunya sosialisasi soal pemilu pada pemilih pemula dan masyarakat umum itu berbeda caranya. Sosialisasi pada masyarakat umum lebih ke partisipasi aktif dalam keikutsertaan pengawasan pemilu. Terlebih bila ada yang tidak sesuai dengan regulasi pemilu, misalnya bila ada money politic, black campaign ataupun hoaks yg beredar di media massa, ASN yg tidak netral dan bentuk pelanggan lainnya. Jadi lebih kompleks lagi.


Disabilitas seringkali jadi isu eksploitasi saat masa pemilu, tetapi saat setelahnya disabilitas kembali disisihkan. Dengan melibatkan disabilitas dalam hal bermakna seperti dilibatkan saat proses kampanye, penyusunan visi misi, diharapkan isu disabilitas bisa terus berkelanjutan dan ada aksi nyata setelah hasil pemilu diumumkan. Pun para remaja yang diikutsertakan dalam meramaikan pesta demokrasi bisa lebih aktif lagi mencari tahu soal apa dan bagaimana Pemilu. Jangan sampai tidak menggunakan hak pilih dan masuk golongan putih (Golput) karena hal ini juga menentukan hasil dari Pemilu, penentu masa depan bangsa kita.
















Usaha Mewujudkan Kualitas Udara Bersih di Berbagai Kota di Indonesia dengan Memaksimalkan Sinergitas Sektor Transportasi dan Sektor Energi


"Hatchi!"


Beberapa hari ini saya bersin-bersin. Biasanya itu tanda bahwa saya terserang virus influenza. Bisa juga karena alergi debu yang pernah saya derita, kambuh lagi. Apalagi akhir-akhir ini saya sering keluar rumah, selain untuk antar-jemput anak sekolah juga untuk berbelanja kebutuhan rumah tangga. Jadi saat di jalan, tentu yang namanya debu, asap kendaraan bermotor, dan aneka polusi udara menerpa sekenanya.



Meski penyebab polusi udara bisa karena pembakaran sampah pada kegiatan rumah tangga, tapi emisi kendaraan bermotor dan kegiatan industri tetap menjadi kontributor terbanyak. Apalagi jumlah kendaraan pribadi yang berlalu lalang di jalanan begitu banyak, sehingga emisi yang dihasilkan pun menumpuk. Meski hal ini merupakan hal yang biasa terjadi di sekitar kita, namun tidak bisa disikapi dengan menutup sebelah mata. Polusi udara karena emisi merupakan pencetus dimana kualitas udara bersih jadi tidak bisa lagi kita nikmati.

   

Itulah mengapa saya kemudian menyimak Diskusi Publik KBR yang dipersembahkan oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). Temanya cukup menarik, yakni "Sinergitas Sektor Transportasi dan Sektor Energi untuk Mewujudkan Kualitas Udara Bersih di Kota Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Bali, Medan, dan Makassar". Bila sebelumnya disebutkan betapa langit DKI Jakarta keabu-abuan karena polusi, di Diskusi Publik kali ini juga bisa diketahui bagaimana dengan kondisi kota-kota besar lainnya di Indonesia. Apakah senasib dengan ibu kota, ataukah malah jauh lebih baik?



Bila berdasarkan Indeks Kualitas Udara (IKU) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kota Surabaya memang menduduki urutan pertama dari 10 daerah lainnya di negara kita. Skor IKU-nya 23, yang berarti bahwa kadar polutan sangat minim. Dimana dari klasifikasi IKU KLHK dalam Peraturan Menteri LHK Nomor 14 Tahun 2020, ada parameter 0-50 yang berarti baik, 51-100 sedang, 101-200 tidak sehat, 201-300 sangat tidak sehat, dan 300+ berbahaya. Namun ditemukan fakta dari Dinas Kesehatan Surabaya bahwa ternyata ada peningkatan jumlah penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dari tahun sebelumnya. Kebanyakan penderitanya ialah pada kelompok usia produktif karena mereka banyak melakukan aktivitas di luar rumah.



Dalam mempertahankan kualitas udara bersih, Dinas Perhubungan Surabaya kembali menata angkutan umum. Sebelumnya sudah ada angkutan pengumpan (feeder) bernama Wira-wiri dan bus kota bernama Suroboyo Bus. Keduanya bisa dibayar menggunakan QRIS atau kartu uang elektronik, dan dicek rutenya menggunakan aplikasi GoBis. Bahkan Suroboyo Bus pernah 'happening' saat awal diperkenalkan Pemerintah Kota Surabaya karena bisa dibayar pakai sampah plastik.


 

Nah untuk memaksimalkan pengurangan emisi, kini sedang diberlakukan uji coba bus listrik. Masih dicek bagaimana kinerja mesin dan bagaimana animo masyarakat mengenai transportasi umum model baru ini. Sebab pada angkutan umum model lama, masih ada keluhan masyarakat soal kenyamanan dan ketepatan waktunya. Sebab memang jumlah armada kendaraan masih terbatas sedangkan Surabaya yang luas butuh banyak transportasi umum dengan aneka rute, utamanya yang bisa masuk ke kampung-kampung.



Rupanya kondisi Surabaya masih bisa dimaklumi bila dibandingkan dengan Bali. Setelah pandemi, aktivitas di Bali meningkat hingga 150%. Bahkan situasi saat menjelang akhir tahun seperti saat ini, banyak kendaraan dari luar Bali yang kemudian juga membuat meningkatnya jumlah kendala di jalanan. Tidak hanya kemacetan, penderita ISPA pun meningkat.



Pak Made Partiana yang merupakan perwakilan dari Dinas Kesehatan Bali menyebutkan, "Penderita ISPA di usia 9-60 tahun ada lebih dari 79 ribu jumlah kasus. Sebenarnya bukan hanya karena faktor emisi, tapi faktor cuaca dan pola makan masyarakat juga mempengaruhi. Namun fasilitas pelayanan kesehatan sudah sangat dipersiapkan dalam menangani masalah ini."



Data ini diperkuat oleh Pak Mudarta dari Dinas Perhubungan Bali yang menyatakan jumlah pemilikan kendaraan pribadi ada 4,7 juta yang teregistrasi. Karena ada regulasi untuk memakai kendaraan yang ramah lingkungan, kini tercatat sudah ada sekitar lebih dari 4000 kendaraan listrik dimana 3500-nya merupakan sepeda motor. Jadi masyarakat juga telah sadar untuk ikut menjaga kualitas udara bersih dengan penggunaan kendaraan non emisi. Tapi memang jumlahnya masih belum maksimal mengingat faktor ekonomi, dimana masyarakat masih belum bisa menjangkau harga kendaraan listrik yang relatif mahal.



Meski Bali berupa pulau yang tidak terlalu besar, ternyata kendaraan umum masih belum jadi prioritas dalam agenda pembangunan daerahnya. Hal ini disayangkan sekali. Terbukti dari akses kendaraan dari dan menuju airport dimana masih menggunakan sewa motor atau mobil. Karena Trans Metro Dewata yang merupakan sistem transportasi massal belum terintegrasi dengan baik dan bahkan mengalami penurunan jumlah armada.



Sangat berbeda dengan Semarang dimana Dinas Perhubungan-nya mengatakan bahwa BRT (Bus Rapid Transit) Trans Semarang sudah menggunakan BBG (Bahan Bakar Gas). Hal ini sebagai penegasan komitmen mengembangkan moda transportasi massal yang ramah lingkungan. Telah ada 12 koridor, dengan 271 kendaraan yang beroperasi. Maka tak heran bila Kota Lumpia ini menyabet prestasi sebagai Kota Terbaik Peningkatan Pengguna Angkutan Umum.



Demi menarik minat pengguna angkutan umum, tarif yang diberikan sangat terjangkau. Untuk pelajar, buruh dan veteran tarifnya hanya 2000 rupiah. Sedangkan penumpang umum tarifnya 4000 rupiah. Saat ini juga sedang diberlakukan aturan dimana pelajar dilarang naik kendaraan bermotor sendiri, dikarenakan masih banyak yang belum mengurus Surat Izin Mengemudi (SIM). Dengan begitu pula jumlah penikmat moda angkutan umum bisa meningkat.



Tidak berhenti di situ, untuk mengurangi emisi sehingga kualitas udara bersih bisa terjaga maka Pemerintah Kota Semarang membuat event Car Free Day (CFD) rutin setiap Hari Minggu. Jalurnya ada di Jalan Pemuda dan Jalan Pahlawan. Sesuai namanya, CFD ini menutup jalan protokol dan melarang kendaraan bermotor untuk melewati jalur tersebut dari jam 6 hingga 9 pagi. Selain itu juga ada Car Free Night di Kota Lama Semarang.


 

Meski demikian dari Dinas Kesehatan Semarang menghimbau masyarakatnya agar menggunakan masker saat di luar rumah. Ini karena tingginya emisi sehingga ditakutkan partikel kecil polutan bisa masuk ke tubuh manusia lewat saluran pernafasan dan kemudian menyebabkan penyakit. Data tentang daerah mana saja yang cakupan polusinya tinggi sudah disebar ke masyarakat. Dengan begitu masyarakat Semarang jadi punya kesadaran untuk antisipasi penyakit karena kualitas udara buruk, sebagai bukti edukasi sudah baik. Dari data fasilitas kesehatan selama 2 tahun ini juga tercatat bahwa masyarakat yang datang ialah dengan tujuan cek rutin / screening, bukan karena kondisi sakit.



Angka kejadian ISPA yang menurun ditemukan di Yogyakarta. Ibu Wara sebagai perwakilan Dinas Kesehatan menyebutkan bahwa selama 3 bulan ini angka kejadian ISPA mengalami penurunan signifikan. Hal ini karena sekarang banyak area kosong yang telah dijadikan lahan hijau untuk mengurangi pencemaran udara. Selain itu juga karena adanya perubahan prilaku masyarakat lokal yang lebih banyak di dalam rumah saat akhir pekan.



"Pada Sabtu Minggu, warga lokal memberi kesempatan pada wisatawan agar bisa lebih menikmati asrinya suasana Jogja. Akhirnya tidak terlalu banyak kendaraan yang memadati jalanan, warga lokal juga kesehatannya terjaga dengan istirahat di rumah dan tidak terpapar polusi," pungkas wanita berhijab ini. 



Sayangnya data Ibu Zulha dari Dinas Kesehatan Makassar tidak demikian. Didapatkan jumlah penderita ISPA usia di bawah 5 tahun yang meningkat, yaitu dari 15 ribu menjadi 31 ribu penderita. Tetapi faktor penyebabnya bukan hanya dari polusi, karena bisa juga disebabkan oleh jumlah kepadatan anggota dalam rumah, pemberian ASI eksklusif, kecukupan gizi seimbang, riwayat lahir rendah, statusnya imunisasi dan Prilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Bisa juga karena surveilans yang semakin bagus dimana jumlah pencatatnya yang ditambah dan juga deteksi dini karena adanya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri saat ada keluhan. Inilah hal-hal yang menyebabkan angka jumlah penderita ISPA semakin meningkat hingga 2 kali lipat.



Rupanya begitu banyak hal yang mempengaruhi terwujudnya kualitas udara bersih. Sinergitas sektor transportasi dan energi begitu dibutuhkan sehingga hasilnya bisa sesuai dengan harapan. Dengan udara minim emisi, maka angka kejadian ISPA juga bisa ditekan. Masyarakat bisa hidup lebih sehat, angka harapan hidup juga bisa lebih tinggi. 












Udara Bersih Bukan Lagi Mimpi dengan Adanya Sinergitas Sektor Transportasi dan Sektor Energi

Gambar: Langit Biru
Sumber https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5853311/


"Langit biru. Awan putih. Terbentang indah. Lukisan yang kuasa," terdengar suara merdu Sherina yang menyanyikan 'Balon Udaraku'. Lagu semasa kukecil itu menggema dari radio yang rutin menemani aktivitasku sepulang menjemput anak sekolah.


Zril, putra sulungku, usai mengganti seragamnya lalu buru-buru mencari krayon. Dibawanya 2 buah krayon ke hadapanku lalu berujar, "Kakak tadi belum selesai mewarnai. Soalnya bingung, langit itu warna biru atau abu-abu?"


"Nah itu di lagu kan katanya biru," ujarku yang kini sibuk melipat tumpukan baju kering.


"Tapi tadi pas di jalan, Kakak lihat langit kok. Warnanya abu-abu!"


"Langit itu biru. Warnanya abu-abu saat kena polusi, artinya udaranya kurang bersih." Terlihat Zril kebingungan mendengar penjelasanku. "Pilih warna biru untuk langit ya. Semoga bisa jadi doa untuk mewujudkan langit biru kembali."


Zril mengangguk. Anak 6 tahun sepertinya belum bisa menangkap penjelasan yang rumit. Ia hanya butuh jawaban apakah warna langit itu biru atau abu-abu. Memang di lirik lagu dan lukisan, warna langit biru meski nyatanya abu-abu sebagai bukti buruknya kualitas udara karena polusi.

Gambar: Langit Abu-abu
Sumber https://nationalgeographic.grid.id/read/13297066/


Akhir-akhir ini kualitas udara memang tak lagi bersih. Kalau dulu begitu buka jendela di pagi hari, langsung bisa hirup segarnya udara. Sekarang, boro-boro! Terlihat dari jumlah penderita penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang terus meningkat. Tercatat pada Januari sampai bulan ini rerata 100 ribu, bahkan di bulan Agustus lalu jumlah penderita ISPA di Jakarta mendekati di atas 200 ribu kasus. Tak salah bila kemudian Jakarta disebut sebagai kota metropolitan dengan kualitas udara terburuk.


Selain jumlah penderita ISPA meningkat, ada nuansa kabut di langit Jakarta. Tidak hanya di ibu kota, di kota-kota besar lainnya pun langit keabu-abuan, termasuk di Sidoarjo tempat kediaman kami. Ini akibat polusi udara. Selain dari asap pabrik, emisi atau gas buang kendaraan juga jadi polutan yang mengotori udara.


Bak makan buah simalakama, memang. Di sisi lain, banyaknya kendaraan dengan aneka moda transportasi bisa membantu aktivitas kita berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, bisa hemat waktu dan tenaga. Namun di sisi lain, sektor transportasi juga menjadi penyumbang utama emisi yang memicu udara buruk. Lalu, bagaimana baiknya?


Rupanya diperlukan sinergitas sektor transportasi dan sektor energi untuk mewujudkan kualitas udara bersih di kota Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia. Seperti yang dibahas di Diskusi Publik KBR dan YLKI pada Kamis, 16 November 2023. Meski kita sudah terbiasa dengan banyak asap dimana-mana, namun hal ini bahkan sudah menjadi isu global yang sifatnya urgensi dan perlu penanganan sinergis. Apalagi selain menyebabkan ISPA, kualitas udara yang buruk juga memicu penyakit tidak menular lainnya seperti jantung koroner, gagal ginjal, darah tinggi dan lain sebagainya. Sebab udara yang kotor bila terhirup, bisa masuk ke darah, menyumbat aliran darah sehingga mengganggu kinerja organ tubuh kita. Berbahaya, bukan?

Gambar: Screenshot Diskusi Publik KBR dan YLKI, saya yang berkerudung abu-abu di deretan bawah


Memang pemicu utama kualitas udara secara kasat mata adalah tingginya penggunaan kendaraan pribadi. Di Jakarta sendiri selain semakin macet, polusi akibat emisi kendaraan bermotor semakin meningkat karena ada lebih dari 16 juta sepeda motor. Dari jumlah tersebut, baru 0.79% saja yang telah melakukan uji emisi. Ini menurut data yang disampaikan oleh Bapak Triyana Brotoadi dari PPKL DLH DKI Jakarta.

Gambar: Jumlah Kendaraan di Jakarta
Sumber: Screenshot Diskusi Publik KBR dan YLKI


Bila menurut dr Aris Nurzamzami, MKM, parameter pengukuran kualitas udara adalah suhu, kelembaban, laju, ventilasi udara, kebisingan, pencahayaan, PM 2.5 dan PM 10 yang merupakan jenis polusi partikel. Dengan menggunakan sanitarian kit, parameter pengukuran fisik udara indoor bisa dilakukan. Dalam usaha mewujudkan kualitas udara bersih, Dinas Kesehatan DKI Jakarta bahkan sudah membuat Pojok Polusi di beberapa Puskesmas. Jadi masyarakat yang mengalaminya permasalahan terkait polusi udara bisa berkonsultasi di sana, meskipun juga bisa secara daring melalui aplikasi JAKsehat. Selain itu berbagai upaya kuratif dan rehabilitatif juga telah dilakukan. Seperti misalnya skrining kesehatan, sosialisasi dan edukasi tentang polusi udara ke sekolah-sekolah. 

Gambar: Upaya Dinas Kesehatan Mewujudkan Kualitas Udara Bersih. Sumber: Screenshot Diskusi Publik KBR dan YLKI

"Promosi kesehatan sudah diusahakan, tapi tentunya tidak akan banyak berdampak bila masyarakat itu sendiri tidak memiliki keinginan untuk berubah, minimal dengan penerapan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Untuk itu perlu menggandeng berbagai pihak, salah satunya lewat kader kesehatan di lingkup RT-RW," ujar dr Aris Nurzamzami, MKM. Lanjutnya, "Manfaatkan pula aplikasi JAKsehat dan lakukan e-register agar tidak antre di fasilitas kesehatan seperti puskesmas."


Pelayanan kesehatan semakin dimantapkan, telah tersedia 44 puskesmas dan 31 RSUD yang siap melayani masyarakat selama 24 jam. Untuk itu masyarakat yang merasakan gangguan pernafasan seperti sesak nafas, batuk, pilek dan lainnya, agar segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Memang rasanya sesak bila terhirup asap knalpot kendaraan, apalagi asap yang merupakan emisi ini kemudian menjadi polutan. Karena itu perlu dipastikan agar tiap kendaraan mematuhi standar lingkungan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Caranya dengan uji emisi.


Bapak Triyana yang merupakan perwakilan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta menyinggung soal uji emisi yang jumlahnya baru meningkat ketika ada isu denda tilang kendaraan tidak lulus uji emisi. Padahal harusnya uji emisi menjadi kesadaran tiap pemilik kendaraan bermotor. Hal ini bisa menjadi bukti keikutsertaan masyarakat dalam menjaga kualitas udara bersih dengan meminimalisir polutan kendaraan bermotor. Uji emisi yang setahun sekali hendaknya diterapkan pada kendaraan yang usianya di atas 3 tahun. Terlebih integrasi sistem uji emisi di DKI Jakarta juga sudah cukup baik, bisa dicek di aplikasi JAKI.


Kendaraan bermotor yang tidak lulus uji emisi diberi rekomendasi servis. Sudah banyak tempat servis kendaraan bermotor yang mengerti bagaimana cara uji emisi. Tarifnya juga relatif terjangkau, sekitar 50 ribu rupiah untuk sepeda motor. Uji emisi itu menilai 4 faktor, yakni kualitas Bahan Bakar Minyak (BBM), usia kendaraan, perawatan dan teknologi kendaraan yang digunakan.

Gambar: Integrasi Uji Emisi. 
Sumber: Screenshot Diskusi Publik KBR dan YLKI

Demi sosialisasi uji emisi, Badan Perencanaan Pendapatan Daerah (Bappeda) sampai memberlakukan uji emisi sebagai komponen perhitungan pembayaran pajak kendaraan bermotor sesuai pasal 206 PP no 22 tahun 2001. Bahkan pemberlakuan tilang uji emisi juga mulai digalakkan, ini adalah contoh penegakan hukum sesuai pasal 285 dan 286 Undang-undang Lalu Lintas no 22 tahun 2009. Ada juga disinsentif parkir sesuai pasal 17 Pergub 66 tahun 2000 dimana tarif parkir kendaraan yang tidak lulus uji emisi lebih tinggi dibandingkan yang lulus uji emisi. Tujuannya bukan untuk menakut-nakuti, namun agar masyarakat lebih disiplin dalam uji emisi.


Bapak Edi dari Polda Metro Jaya mengungkapkan, "Patuh itu biasanya bila ada punishment. Perlu diperhatikan bahwa kepatuhan seharusnya bukan karena keterpaksaan, tapi karena kesadaran sendiri untuk keamanan. Kebanyakan pemilik kendaraan tidak sadar kalau perawatan kendaraan itu merupakan kebutuhan, dan penilangan adalah upaya terakhir. Salah kaprah bila banyak yang mengira tilang uji emisi itu hanya dilakukan kepolisian, padahal dalam menindak harus bersama-sama dengan dinas hidup dan dinas perhubungan."


Bapak Ferdinan Ginting yang mewakili Dinas Perhubungan DKI Jakarta menyatakan bahwasanya integrasi transportasi di ibu kota sudah cukup baik, ada banyak moda transportasi umum yang bisa digunakan sehingga meminimalisasi penggunaan kendaraan pribadi. Ada Transjakarta, KRL, LRT, MRT dan angkutan kota (angkot). Pun ada Jak Lingko yang merupakan sistem terpadu pendukung kebijakan penggunaan moda transportasi umum. Lajur pesepeda juga semakin diperpanjang sehingga upaya mewujudkan kualitas udara bersih Jakarta bukan lagi mimpi.

Gambar: Jak Lingko dan Jalur Sepeda Jakarta.
Sumber: Screenshot Diskusi Publik KBR dan YLKI


Akan lebih baik lagi bila penggunaan kendaraan listrik meningkat. Sayangnya harga kendaraan listrik cukup mahal sehingga tidak semua kalangan masyarakat bisa menjangkaunya. Ada juga anggapan masyarakat soal ketakutan lonjakan tagihan listrik, padahal kalau dihitung-hitung ternyata masih lebih mahal penggunaan kendaraan yang memakai BBM. Selain itu sarana prasarana untuk kendaraan listrik juga belum maksimal, jadi meskipun sudah dicas penuh tetapi jarak tempuhnya belum bisa tak terbatas. Takutnya saat ke luar kota, ternyata tempat untuk cas kendaraan listrik tidak ada sehingga hal ini dirasa merepotkan.


Beberapa solusi yang bisa didapatkan mengenai mewujudkan udara bersih bukan lagi mimpi dengan adanya sinergitas sektor transportasi dan sektor energi ada dengan rutinnya melakukan uji emisi. Agar bisa lulus uji emisi, kendaraan bermotor perlu memakai BBM yang tepat yaitu yang menggunakan RON tinggi. Sayangnya saat ini pemerintah mensubsidi BBM dengan RON rendah padahal BBM RON rendah memperburuk emisi gas buang kendaraan bermotor. Semoga setelah ini subsidi bisa teralihkan pada BBM RON tinggi sehingga zero emisi bisa terwujud.


Mewujudkan kualitas udara bersih tidak akan sulit bila semua pihak punya komitmen. Seperti yang disampaikan Bapak Tulus Abadi sebagai Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Singapura yang merupakan negara maju saja bisa punya aturan 1 orang hanya punya 1 Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK). Bila kita belum bisa melaksanakannya, bisa dialihkan dengan subsidi BBM RON tinggi dan maraknya penggunaan kendaraan umum. Diharapkan pula para kepala daerah bisa lebih memperbaiki fasilitas moda transportasi umum yang dimiliki sehingga tidak hanya di Jakarta, di berbagai daerah pun masyarakat bisa lebih memilih moda transportasi umum dan meminimalisir emisi. Semoga sinergitas sektor transportasi dan sektor energi bisa terus berkelanjutan sehingga mewujudkan kualitas udara bersih bukan lagi mimpi.