Thursday, October 30, 2014

Novel "Ospek Jilid 2"

novelnya bersandar pada puss


Judul: Ospek Jilid 2, cuap-cuap gokil si maba galau
Penulis: Deny Gunawan
Penerbit: de teens
Cetakan: 1, Agustus 2013
Tebal: 240 halaman
ISBN: 978-602-255-211-6


Gua, yang dari awal nggak mau ikut ospek, akhirnya luluh juga. Bokap, sebagai laki-laki yang turut berjasa atas terlahirnya gua ke dunia, berhasil membujuk gua malam itu. Bukan karena apa-apa, tapi karena satu hari sebelum ospek dimulai, dia ngasih tau gua kalau uang jajan gua bakalan naik jadi lima belas ribu rupiah andai gua mau ikut ospek.

Gua senang. Walau akhir-akhir ini gua sadar kalau harga diri gua begitu murah.

Deny –seorang pelajar berkepribadian ganda (maksudnya berkepribadian supel dan energik) asal Jakarta- ingin melanjutkan studi demi mencapai cita-citanya di Kota Bandung. Memang dasar anak rumahan, ia tidak biasa menjalani hari-harinya sendiri di sebuah kamar kos yang kecil dan pengap. Dari sinilah kisah hidupnya yang penuh warna-warni bergulir, mulai merasa salah milih jurusan kuliah sampe menganggap bahwa single itu derajatnya lebih tinggi dari jomblo. Tapi, meski kocak, banyak makna hidup filosofis yang hadir dalam buku ini. Nggak bakalan bikin bosen, deh!


Ini kisah seorang lelaki tulen yang kini aktif sebagai mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Inggris UIN Jakarta. Pemilik moto "makanlah sebelum dimakan" ini dulunya kuliah di Bandung dan sempat galau ketika harus ngekos. Kamar kosnya gerah banget dan sialnya dia dapat kamar itu karena tidak mendapat kesempatan untuk memilih. Ia mengibaratkan kondisinya bak seorang jomblo yang tidak pernah punya pilihan untuk memilih kehidupan yang layak.

Adik bungsunya yang bernama Icha, begitu antusias dan berencana mengadakan pesta karena akhirnya abangnya tidak tidur di rumah lagi. Kasihan, padahal si Deni kelimpungan mencari cara agar beras bisa berubah menjadi nasi. Ia bukan burung dara yang makan beras. Cowok sok keren ini lalu ke swalayan guna membeli rice cooker, tapi bukan yang berkapasitas 9 liter sebab dia hanya seorang mahasiswa dan bukan mau usaha buka nasi padang di Bandung.

Walau kemudian jago bikin nasi sendiri, Deny tetap jadi pelanggan setia Bang Maman. Bubur ayam Bang Maman yang dijual di depan kampusnya itu sebenarnya tidak terlalu enak, tapi rasanya bisa berubah ternikmat sedunia karena dimakan saat perut keroncongan. Hubungan keduanya juga baik, seperti adik kakak, ini misi Deny demi-diskon-khusus.

Karena Deny anak baik, dia punya teman. Namun sayangnya, kebanyakan temannya itu aneh. Teman kosnya juga. Kehidupan di kosan ternyata mempengaruhi nilai akademik. Kalau terlalu biasa hidup irit, akhirnya nilai indeks prestasi (IP) juga ikutan irit: 2,5.

"Den, gak selamanya apa yang kita rencanain itu berjalan dengan baik." (halaman 80)

Tapi ada suatu hal yang akhirnya membuat Deny ingin pindah tempat kuliah. Ia pilih kuliah di UIN Jakarta, tidak ngekos lagi dan membuat wajah Icha seketika murung. Nah, saat diharuskan ikut ospek, Deny sempat menolak tapi ayahnya berhasil meyakinkannya. Tapi akhirnya ia sadar ... ternyata hal tersebut mempengaruhi harga dirinya.

Apa yang membuat Deny keluar dari kos dan tempat kuliah sebelumnya? Adakah pertengkaran dengan Bang Maman atau teman-temannya? Atau mungkinkah karena seorang cewek berhasil membuat hatinya terluka parah dan ia tak sanggup menanggungnya seorang diri? Temukan jawaban selengkapnya di dalam novel remaja ini.

saya dan si novel

Sang penulis, Deny, menanyakan sesuatu pada saya di halaman judul, “Apa makna move on buat kamu?

Bagi saya, move on  ialah suatu keputusan yang super berani. Maknanya ialah ‘berubah’, meningkatkan kemampuan diri agar tidak terjebak untuk mengulangi atau terlena pada masa lalu yang kurang baik.

Ospek Jilid 2 mengajarkan tentang move on. Bila banyak yang menafsirkan move on sebagai bentuk melupakan sang mantan dengan mencari pacar baru, itu makna sempitnya. Move on bisa juga berarti mengubah prinsip diri, menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Dalam buku ini, ada banyak kisah tentang move on  tempat tinggal, kebiasaan, jurusan kuliah dan yang terpenting ialah move on pada penilaian tentang sesuatu yang kita kira buruk namun ternyata sebaliknya.

Katanya sih ini kisah nyata penulisnya. Dimulai dengan cara pemilihan kosan, belanja bareng keluarga di swalayan buat memenuhi kebutuhan hidup, hingga saat perpisahan yang membahagiakan Icha. Bagaimana cara beradaptasi di kosan juga dikupas habis. Pokoknya banyak tips penting buat mereka-mereka yang siap jadi mahasiswa. Ilmu memasak nasi di rice cooker penting buat dikuasai dan ada kursus gratisnya di dalam novel ini.

Tapi jalan ceritanya agak rancu juga sih. Soalnya habis seru-serunya bahas cara bertahan hidup di kosan, eh lari ke masalah jomblo. Eng ... jomblo emang seru buat dibahas. Entah sengaja mencari-cari kesamaannya yakni hidup sama-sama terasa ‘sepi’ apalagi belum terlalu kenal dengan penghuni kosan lainnya, Deny kemudian menuliskan survey gejolak diri para jomblo. Ada yang beneran lucu, ada yang garing dan gak lucu. #eh

T: Jomblo boleh gak bantuin Nenek nyebrang jalan?
J: Dalam kasus ini gua sering mengalami kesulitan dalam hal membedakan mana yang nenek-nenek dan mana yang jomblo. (halaman 36)

Atau mungkin selera humor saya kurang.

Ada juga tips rahasia Edo, salah seorang teman sekosan, tentang cara berhemat yang entah itu baik atau malah terlihat miris. Tapi untuk menghemat umur ... skip, itu gak ada tipsnya.

Salut buat Deny yang berhasil menuliskan move on-nya. Sekelumit kisahnya mampu memberi banyak gambaran pada para pembaca tentang bagaimana proses menjadi mahasiswa dan gejolak yang dirasakan pada jenjang tersebut. Deny juga berhasil membuat jomblo tidak lagi terlalu merana, sebab masalah jomblo tidak serumit masalah mereka yang memiliki pasangan.

Ketika kalian bertanya perbedaan antara single dan jomblo, percayalah ... single tu prinsip dan jomblo adalah sebuah takdir, kutipan di halaman 33.


0 komentar:

Post a Comment