25 November 2014

Novel "Ikunenmo"

Judul: Ikunenmo, bertahun-tahun rasaku bersamamu
Penulis: Vindy Putri
Penerbit: Gaca
Terbitan: 1, 2013
Tebal: 172 halaman
ISBN: 978-602-7933-09-5

Ito-Kun ... jangan lagi kau khawatir padaku. Aku bisa tanpa bantuan Aikawa. Karena aku punya banyak teman. Aku gadis pintar sekarang. Jadi, maaf aku memecat Aikawa sebagai pelindungku meski ia bertugas untukmu.

Karena dirimu aku mampu mengubah segalanya. Terima kasih atas cintamu, Ito-Kun. Aku sangat mencintaimu. Bukan Hashizume-sensei, juga bukan Aikawa-Kun. Belum ada yang bisa menggantikanmu ...

Terkadang, cinta itu membutuhkan pengorbanan. Kau berkorban untukku, dan aku pun berkorban untukmu. Semoga aku dapat merasakan cinta yang tak kalah indah. Tapi entah, mungkin butuh bertahun-tahun lagi untuk bisa melupakanmu, Ito-kun.


Cover kuning dengan lingkaran berilustrasi seorang gadis yang melepas (atau terlepas?) cintanya. Tampak seperti rembulan, dengan sakura yang menghiasinya. Kesan Japanese Teenlit melekat kuat, terlebih dibuka dengan salam semangkuk mochi hangat.

Fujita Makoto adalah gadis yang tidak begitu pintar. Ibunya mengharapkannya bisa lanjut ke sekolah negeri yang bagus hingga nantinya bisa bekerja di perusahaan ternama. Ia diharapkan bisa menjadi tulang punggung keluarga setelah kehilangan ayah dan juga kakak lelakinya.

Ia akhirnya bisa masuk Heianjogakuin High School. Letaknya cukup jauh, di Shai Nishi Dori. Tapi bukan itu masalahnya, hanya bagaimana caranya agar ia bisa pintar. Ia selalu ingin bunuh diri karena malu. Kadangkala tidak ada lagi alasannya untuk tetap hidup, selain hadirnya Ito-kun yang dicintainya.

Di masa SMP-nya, ada 2 orang yang mau berteman dengannya. Selain teman sebangkunya, ada Kaito Kousei yang dipanggilnya Ito-kun. Kaito berjanji akan memintanya jadi pacar kalau nilai Fujita lebih baik dari semester berikutnya. Hingga kemudian  keduanya jadian saat baru lulus SMP. Selain mencegah Fujita untuk mati karena putus asa, Kaito jua yang selalu memintanya agar menuruti keinginan ibunya untuk meneruskan bersekolah di Heianjogakuin High School. Untuk alasan itulah kemudian ibu Fujita mengizinkan mereka meneruskan pertemanannya.

Sayangnya masa di sekolah menengah Fujita hanya bisa dilaluinya sendiri. Tanpa Kaito yang tidak bisa bersekolah karena penyakitnya. Fujita selalu berbahagia ketika bel pulang sekolah, sebab ia akan bertemu dengan Kaito. Disempatkannya mampir ke supermarket di kawasan Karasuma Dori untuk membeli Chitose Ame, permen kesukaan Kaito. Ia berharap dengan memakan permen 1000 tahun itu, Kaito bisa sembuh dan berbahagia.

Masalah datang saat ibu Fujita memutuskan memanggil guru privat untuk membantu Fujita lebih memahami pelajaran sekolahnya. Waktu senggang Fujita jadi berkurang, ia harus mengatur waktu untuk bisa berkunjung ke rumah Kaito. Dilontarkannya alasan mencari udara segar di tengah waktu belajarnya, padahal ia lari ke rumah Kaito hingga sepatunya rusak. Awalnya ibunya mengizinkan, tapi lama-lama jadi curiga dan memarahinya.

Kondisi kesehatan Kaito kian buruk, sementara persediaan Chitose Ame di toko-toko telah berkurang. Fujita menggantinya dengan permen jahe. Tiap berkunjung, ia membawakan banyak permen agar Kaito bahagia. Hingga sebuah rahasia terkuak, bahwa permen itu tidak pernah dimakan Kaito, bahwa permen itu malah memperburuk kesehatannya karena Kaito tidak hanya menderita leukimia.

sedih bacanya

Kisah yang mampu membuat airmata saya berderai ini dikemas dengan bahasa ringan yang menggunakan sudut pandang orang pertama. Pembaca jadi lebih bisa mendalami perasaan Fujita sebagai siswi yang tersingkirkan karena kebodohannya. Juga mengerti bagaimana rasa cintanya serta peran Kaito dalam kehidupannya. Kisah ini bukan saja tentang kisah cinta remaja, tetapi tentang bagaimana budaya Jepang yang ditonjolkan di dalamnya.

Sayangnya, konflik dirasa terlalu singkat ketika ditutup dengan meninggalnya Kaito. Begitu cepat penggambaran kehidupan Fujita selanjutnya serta bagaimana hubungannya dengan Aikawa dan Hashizume-sensei. Andai bisa lebih panjang dan rinci lagi, pasti lebih menarik. Apalagi apabila ditonjolkan bagaimana kenangan dengan Kaito yang mampu menjadi penyemangat hidupnya di masa selanjutnya.

“Apa kau tak mau mencoba membuka kembali pintu hatimu itu?
“Sudah. Tapi ternyata saya belum bisa.”





0 kata para sahabat:

Posting Komentar

terima kasih sudah membaca ^^
tolong berkomentar dengan sopan yaaa... saya suka membaca komentar kalian semua :*