18 Desember 2014

Novel Sekotak Kertas

Judul: Sekotak Kertas
Penulis: Narnie January
Penerbit: Puspa Populer
Terbit: 1, Oktober 2013
Tebal: 212 halaman

Tubuh ayah yang terus membesar dan bulat kini pelan-pelan berubah menjadi kotak. Kotak yang tak lagi asing bagiku, kotak yang menemani kehidupanku selama beberapa tahun terakhir. 

Nikha tidak pernah menyadari bahwa dia berbeda dengan teman temannya sampai akhirnya sebuah video tentangnya tersebar di sekolah. Dia terpaksa dipindahkan ibunya, hidup bersama ayah kandungnya seorang single parent. Hubungan tidak baik dan sikap ayah yang dianggap kurang menyenangkan membuat Nikha jengkel tak karuan.

Nikha dan kertas-kertas rahasianya, gadis itu hidup dalam sebuah pikiran yang menguasainya. Obsesivc Compuluve Disorder membuatnya kehilangan segalanya, bahkan diriya sendiri yang tak bisa dia kendalikan. Dia kehilangan segalanya karena OCD dalam dirinya dan sekarang OCD membelenggunya dengan perasaan takut untuk kehilangan sosok ayah yang baru saja dia dapatkan.

Ketakutan, kecemasan tanpa henti dan ritual tanpa henti menguasai gadis itu. Akankah Nikha bebas dari sekotak kertas penyelubung hidupnya?” 

Sebuah tema yang baru pertama kali saya baca dalam sebuah novel populer. Bila banyak penulis yang ingin mentragiskan hidup tokohnya dengan menuliskannya sebagai pengidap kanker dan sejenisnya, Narnie January berbeda. Ia ingin lebih membuka mata pembaca tentang penyakit lainnya yang lebih condong ke masalah kejiwaan: OCD.

Untuk membuat pembaca lebih menyelami karakter Nikha, penulis tidak menyebutkan tentang apa dan bagaimana OCD itu. Ia hanya menuliskan kebiasaaan aneh sang tokoh utama dan bagaimana respon orang-orang di sekitarnya. Baru pada pertengahan, yakni di halaman 94, dijelaskan bahwa OCD ialah Obsesive Compulsive Disorder dimana pengidapnya merasa terjebak oleh pemikiran-pemikiran tentang bahaya yang akan menimpaya. Kemudian untuk mengurangi rasa takut, maka pengidap OCD melakukan suatu hal yang berulang-ulang yang tampak aneh di mata orang normal. Misalnya menghitung lembaran kertas, ubin, mengikuti alur retakan jalan, motif kotak pada baju Ayah dan sebagainya.

Dimulai dengan bagaimana Nikha saat tinggal bersama ibunya, dengan celotehan bahwa ia ingin makan telur ceplok yang bulat sebulat-bulatnya, setengah matang dan akan melumer ketika ujung garpu menancapnya. Awalnya saya kira ia sosok yang perfeksionis, menyukai kesempurnaan yang berlebihan. Namun kemudian tanda tanya muncul ketika mengetahui ia hobi menghitung lembaran kertas secara sembunyi-sembunyi, dan ... berulang-ulang kali hingga jam tidurnya terganggu.

Lalu teman-teman di sekolah menganggapnya aneh, seorang weirdo. Bahkan tega merekam segala tindakan ganjilnya hingga Nikha melakukan sesuatu yang membuat ibunya marah besar. Saat ibunya terpaksa harus bekerja di Perancis, ia pun dititipkan pada  ayah kandungnya yang tinggal di kaki gunung. Di sinilah Nikha merasa menjadi sosok yang terbuang dan semakin takut untuk sendiri.

Penokohan Nikha awalnya digambarkan sebagai sosok yang ceria walau dibesarkan oleh single parent. Namun seiring dengan tingkat OCD yang dideritanya, ia menjadi sosok yang bak tak memiliki emosi. Hanya satu emosi yang ia rasakan: takut. Beruntung ayahnya begitu sabar, dan saat berada di tempat yang baru, ia mendapat teman-teman baik sehingga tokoh antagonis hanya tergambar pada teman-teman lama Nikha yang berada di kota. Hampir 75% isi novel menggambarkan bagaimana perasaan gadis remaja yang diterpa rasa takut yang berlebihan. Menghitung kertas, mengecek pintu, lagi dan lagi. Namun, ada juga bagian di mana Nikha merasakan ada kupu-kupu dalam perutnya, jatuh cinta.

Alurnya digambarkan maju mundur. Ada beberapa bagian yang membuat bingung, mungkin karena pemisah antar bagian kurang tampak. Misalnya pada bagian awal di halaman 4, “Ibu tersenyum, lalu kembali fokus pada telur dadar andalannya yang hampir matang di atas wajan. Kucium pipi Ibu sebelum dia masuk ke dalam taksi langganannya yang mengantarnya ke kantor, ...

Lalu yang mana kutipan dan mana awal dari suatu bab, juga kurang tampak. Misalnya pada bab 5 di halaman 67.

Ketika kau bahkan tidak bisa mengendalikan pikiranmu sendiri, apa yang bisa kau lakukan untuk dirimu sendiri?

Terbangun dengan tubuh penuh keringat, kurasakan bahkan bajuku ikut basah. Nafasku tidak teratur dan sangat menyesakkan dada. ...

Ada baiknya di bagian awal tersebut, font tulisan diperkecil. Atau mungkin font dibedakan dengan isi bab 5 sehingga tidak membuat rancu. Mungkin diletakkan di tengah (center) juga lebih manis.

Penceritaan dalam sudut pandang orang ketiga ini sudah cukup baik. Penulis mampu mengeksplor apa yang dirasakan Nikha. Pembaca jadi bisa lebih mengerti bahwa Nikha merasakan ketakutan yang sangat dan ketergantungan untuk melakukan sesuatu sebagai salah satu caranya mengurangi rasa cemas. Apa yang dilakukannya tentunya berbeda dengan apa yang dilakukan oleh anak autis / ADHD, di mana memiliki suatu persamaan: suka melakukan suatu yang sama berulang-ulang. Bila anak autis tidak memiliki rasa takut, mereka hanya hidup di ‘dunia’nya sendiri, mengacuhkan orang lain. Sedangkan OCD yang diderita Nikha tidak demikian dan dapat tergambar dengan jelas dalam Sekotak Kertas. Hal ini membuktikan bahwa penulis tidak asal buat, melakukan eksplorasi dan pengamatan mendetail tentang OCD.

Dua jempol untuk Narnie January! Saya tunggu karyamu selanjutnya ^^


0 kata para sahabat:

Posting Komentar

terima kasih sudah membaca ^^
tolong berkomentar dengan sopan yaaa... saya suka membaca komentar kalian semua :*