Wednesday, November 5, 2014

Masjid Jami' AlAnwar Kota Pasuruan

Masjid Jami' Al Anwar, hasil potretan saya



Setiap kota / kabupaten pastinya memiliki Masjid Jami’ (dalam bahasa Arab, kata ‘Jami’ itu sendiri berarti ‘umum’ atau ‘publik’). Masjid Jami’ biasanya berukuran besar dan seringkali disebut Masjid Agung. Letaknya kebanyakan berada di pusat kota karena memang fungsinya yang dipergunakan untuk khalayak ramai. Masjid Jami’ sangatlah terkenal, bahkan menjadi simbol tersendiri untuk suatu daerah. Kalau di kota saya, Pasuruan, Masjid Jami’ Al Anwar namanya.

potret dari kim

Letak
Masjid Jami’ Al Anwar Kota Pasuruan berada di tengah kota, di depan alun-alun. Tepatnya di antara Jalan Niaga dan Jalan Nusantara. Kedua jalan ini merupakan pusatnya pertokoan, mau cari apa saja ada di toko-toko di kedua jalan ini. Pun pusatnya hiburan warga. Keberadaan Masjid Jami’ Al Anwar layaknya memberi peringatan bahwa sesibuk apapun urusan duniawi (bekerja, belanja dan bersenang-senang) jangan sampai lalai ibadah kepada Allah.
masjid di malam hari

potret dari atas, ambil dari infopasuruan
Masjid terbesar ini berada di daerah yang didiami oleh keturunan Arab dan Cina, namun keduanya hidup berdampingan dengan damai. Kebanyakan para pemilik toko di sekitar masjid adalah keturunan Cina, sedangkan keturunan Arab mendiami perumahan di sekitar masjid, yang biasanya ada di belakang toko. Ada juga beberapa keturunan Arab yang punya toko baju, minyak wangi dan kitab / buku-buku Islami. Mengapa banyak pendatang? Karena dulunya (zaman penjajahan Belanda) Pasuruan adalah pusat perdagangan dan pusat kota kemudian didiami oleh kedua keturunan tersebut.

denah lokasi masjid

Sejarah dan Keistimewaan
Masjid bercorak Timur tengah ini dibangun sekitar 5 abad lalu oleh Adipati Nitiadiningrat (I), Bupati Pasuruan kala itu. Dulunya di masa pemerintahan Belanda, kota dan kabupaten Pasuruan memang menjadi satu pemerintahan, maka tak heran apabila hingga kini masih ada beberapa perkantoran Kabupaten Pasuruan yang berada di Kota Pasuruan. Nah, pembangunan masjid ini dibantu oleh Kyai Hasan Sanusi atau yang lebih dikenal sebagai Mbah Slagah, salah satu tokoh pejuang Islam di Pasuruan.

Kota Pasuruan yang dikenal sebagai kota santri, memiliki banyak Pondok Pesantren. Salah satu yang terkenal ialah Pondok Pesantren Salafiyah yang berada di Jalan Jawa, area belakang Masjid Jami’ Al Anwar Pasuruan. Maka jangan heran apabila di Pasuruan banyak ditemukan lelaki bersarung dan berpeci putih, walau bukan di jam ibadah ataupun di hari besar Islam. Warga Pasuruan menjunjung tinggi syariat Islam, sangat tunduk pada Kyai, bahkan pada yang telah wafat sekalipun.
diambil dari kalender, potret para Habib dan walikota Pasuruan (pojok kiri)
Makam tokoh legenda seperti Mbah Slagah yang berada di sebelah stadion Untung Suropati Kota Pasuruan (sekitar 3 Km dari alun-alun), seringkali dikunjungi para peziarah. Apalagi makam Kyai Hamid, guru besar pondok Salafiyah, yang berada di area makam belakang Masjid Jami’ Al Anwar. Peziarahnya bukan saja dari dalam kota, kebanyakan dari kabupaten dan bahkan kota-kota lain di dalam dan luar Jawa Timur. Bagi peziarah, Kyai Hamid layaknya para wali sejati, berkharisma besar. Beliaulah tiang penyangga masyarakat, saka guru moralitas. Semasa hidupnya, Beliau adalah teladan, panutan, dan dipuja dimana-mana walaupun secara pribadi Beliau tidak suka (bahkan marah) jika ada orang yang mengkultuskannya. 

Selain kedua tokoh tersebut, ada juga makam Habib Ja’far As-Segaf, salah satu wali terkemuka Pasuruan yang juga guru spritual Kyai Hamid. Hingga kini keturunan Kyai As-Segaf rutin mengadakan pengajian di malam Rabu (Reboan), di malam Jumat legi dan pada Minggu pagi. Kemudian masih ada banyak makam yang sering dikunjungi peziarah, seperti makam Syekh Ahmad Qusyairi bin Shiddiq, Kiai Nitiadiningrat I sampai Kiai Nitiadiningrat IV (generasi Bupati Pasuruan) atau yang lebih dikenal oleh masyarakat Pasuruan dengan sebutan Mbah Surga-Surgi, dan beberapa ulama lainnya.

Itulah sebabnya masjid ini menjadi salah satu tujuan wajib bagi para peziarah yang datang dari berbagai daerah, bahkan termasuk salah satu tujuan wisata religi bagi para peziarah Wali Songo. Keistimewaan masjid seluas 3000 m2 yang dibangun di atas tanah seluas 3600 m2 itu membuat komplek Masjid Jami’ Al Anwar tidak pernah sepi sepanjang siang dan malam, khususnya pada bulan Ramadhan. Apalagi karena juga adanya kegiatan pengajian rutin, penentram hati setiap insan.

Masjid ini telah beberapa kali mengalami pemugaran, namun tidak sedikitpun merusak keindahannya. Kebanyakan ornamennya adalah kaligrafi Arab dalam bentuk-geometris, dan hampir semua ornamen di dinding masjid ini masih asli seperti sejak saat didirikannya. 

Sayangnya untuk sholat di sana, para wanita menempati area yang menurut saya sangatlah kecil. Letaknya di sebelah utara, dengan tempat wudhu di lantai 1 dan sholatnya di lantai 2. Para wanita dilarang masuk dan menikmati keindahan di dalam masjid, tempat para pria sholat. Yaaa seperti prinsip pondok Shalafiyah, pria dan wanita harus terpisah, karenanya ada juga mushola khusus wanita yang letaknya di selatan masjid. Jadi, mohon maaf kalau saya tidak menampilkan potret ornamen di dalam masjid, hanya bisa tulis ceritanya saja.

denah masjid


Yang ada di sekitar masjid
- Alun-alun
Saya pernah menulis tentang Wisata MurahPasuruan yang salah satu tempatnya adalah di alun-alun Kota Pasuruan. Kebetulan masjid Jami’ dan alun-alun berhadapan, seperti pada aturan Jawa kalau di depan alun-alun sebagai pusat kegiatan masyarakat, harus ada masjidnya. Untuk masuk ke alun-alun yang asri tanpa tiket masuk, gratis tis dan bisa sepuasnya menikmati segala fasilitas di sana. Pengunjung alun-alun adalah para peziarah yang usai sholat di masjid dan berdoa di makam para wali (di area makam belakang masjid), serta penduduk lokal yang mengajak para buah hati berekreasi.
pintu masuk dari arah timur
pintu barat langsung merah ke masjid
tugu alun-alun di malam hari
Saya sekeluarga sering main di alun-alun. Letaknya strategis, mau apa saja dan melakukan apa saja (selama positif) bisa. Di sana banyak permainan yang bisa dicoba. Untuk yang membawa permainan sendiri (seperti bola sepak, voli, bulu tangkis, mobil-mobilan, sepeda) bisa dimainkan di area alun-alun yang luas. Ada juga persewaan scooter dan mobil-mobilan anak. Pun becak gowes dengan lampu warna-warni yang disewakan Rp 20.000,- dan bisa dinikmati oleh 4 – 6 orang dewasa. Mau yang lebih murah? Ada kereta kelinci yang membawa kita berkeliling sampai pelabuhan Kota Pasuruan.

- Pusat Pertokoan
Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, Masjid Jami’ Al Anwar Kota Pasuruan dikelilingi oleh pertokoan. Ada toko kain, baju, makanan-minuman, alat-alat rumah tangga, buku, kantor pos dan sebagainya. Salah satu toko kain yang terkenal namanya Pasifik, Mama saya hobi belanja di sana, murah sih. Kalau toko alat rumah tangga namanya Piala, ada banyak diskon juga. Kalau saya sukanya main ke Giant, salah satu market yang berada di kawasan Mall Poncol.

Sekedar informasi, nih. Dulunya mall di Kota Pasuruan bentuknya horizontal, yakni toko-toko sepanjang jalan Niaga dan jalan Nusantara. Ada juga pertokoan yang mengitari alun-alun, kawasan tersebut namanya Poncol. Kemudian sekitar tahun 2005, ada pergusuran pedagang kaki lima. Mereka yang berjualan mengitari alun-alun kemudian dipindahkan ke ruko setinggi 3 lantai, yang kemudian dinamakan Mall Poncol. Letaknya di selatan masjid. Nah, didepan Mall Poncol kemudian didirikan Giant, market pertama yang terkece di kota ini.

- Makanan
Ketika siang hari, pedagang makanan di sekitar masjid hanyalah warung-warung kecil penyedia nasi bungkus. Untuk camilannya hanya ada bakso, bipang dan cilok (pentol yang lebih banyak tepung kanjinya dibanding daging sapinya). Saya rasa bipang adalah oleh-oleh yang wajib dibawa oleh para pendatang. Harganya murah meriah, hanya Rp 5.000,- sudah dapat setumpuk bipang. Oiya, bipang ini rasanya sangat legit. Terbuat dari beras yang dikembangkan seperti pop corn, lau ada gula cair yang menyatukan butiran-butiran kembangan-beras dan melekat menjadi balok. Renyah, manis, enak! 


salah satu bipang Pasuruan, mereknya Jangkar
inilah sang bipang
saya makan bipang, kamu?
Nah, kalau malam, suasananya berubah. Mau makan apa saja tersedia! Syaratnya harus berada di atas jam 9 malam, ketika para Satpom PP meninggalkan kawasan masjid Jami’. Ada pedagang penjual nasi goreng, mi goreng, lontong kupang, tahu campur, warung kopi dan masih banyak lagi. Makanan yang paling disuka Mama saya namanya lontong kupang. Mungkin daerah lain di Jawa Timur juga memiliki makanan serupa, namun Lontong Kupang Pasuruan memiliki rasa yang khas. Terbuat dari petis yang berbeda dengan lainnya karena rasnaya yang manis asin, dan kuahnya yang bening namun tanpa rasa amis. Harganya hanya Rp 5.000,- sudah plus 3 tusuk sate kerang juga. Jangan lupa minum degan usai menyantapnya yaaa... setidaknya bisa mengurangi kolesterol.
kupang kesukaan Mama
sate kerang kesukaan saya (tanpa cabai)

Cara Tempuh
Letak Masjid Jami’ Al Anwar yang berada di tengah kota memudahkan bagi para pelancong untuk mengunjunginya.

Bagi mereka yang melakukan perjalanan dari Kota Surabaya dengan naik bus umum, bisa turun di Kumala, sebelum terminal lama. Dari Kumala, menyebrang jalan ke arah selatan dan jalan kaki sekitar 300 meter.

Bagi yang melakukan perjalanan menggunakan bus pariwisata, harap memarkir busnya di Parkir Wisata yang letaknya di terminal lama Kota Pasuruan. Dari Parkir Wisata, pelancong bisa berjalan kaki ke arah barat, jaraknya sekitar 700 meter. Lebih enak sih naik becak wisata, bisa hingga 3 orang (kalau bdannya tidak terlalu besar) dan bayar hanya Rp 5.000,- (kalau bisa nego). Naik angkot juga boleh, pilih yang jurusan E1, D1, atau D3. Bayarnya hanya Rp 3.000,- per orang. Nanti bilang ke Pak Sopir, “Turun Masjid Jami’ ya,  Pak...”

Kalau yang naik mobil pribadi atau motor, boleh memarkir kendaraannya di sekitar alun-alun. Paling bagus sih di seberang masjid, sebab uang parkirnya (Rp 2.000,- untuk mobil dan Rp 1.000,- untuk motor) disumbangkan untuk pembangunan masjid.

Nah, itu tadi sekelumit seputar Masjid Jami’ Al Anwar Kota Pasuruan. Silakan berkunjung ke sini, ya... Saya tunggu loh!





3 comments:

  1. tulisannya panjang ya... :)
    Foto masjid di malam harinya indah banget....

    ReplyDelete
  2. Tulisan yang sangat bermanfaat buat para musafir yang melewati kota Pasuruan, mbak Lita...:)
    Smg menjadi amal catatan pahala di yaumul hisabNya, aamiin

    Jazakillah, sudah berpartisipasi di GA Perjalananku dan Masjid

    ReplyDelete