18 Desember 2014

Novel Dear Gita

 
Judul: Dear Gita
Penulis: Tafrid Huda
Penerbit: Grasindo
Terbit: 1, 2013
Tebal: v+218 halaman

“’Dalam kamus seorang lelaki yang sedang mengejar cintanya, tak akan ada kata sia-sia.’

Perjalanan dimulai ketika Aska teringat akan kenangan manisnya bersama Gita. Di saat mereka sedang dibuai asmara yang menggebu-gebu, mereka dipisahkan oleh perputaran semesta.

Kini, Aska berada di negara kaya raya, Brunei Darussalam. Namun dalam pelariannya itu, tak sekalipun Aska bisa melewati hari tanpa memikirkan Gita. Dia bahkan tak mengubah harapan-harapannya dengan Gita. Dalam perasaan yang teramat sakit, Aska masih sangat yakin, Gita masih sayang padanya. Aska menuliskan 3 tujuan mimpinya saat itu, yaitu Mekkah, Jepang dan Kota Terlarang. Mekkah untuk dirinya, Jepang untuk Gita, dan Kota Terlarang untuk keegoisannya. Tak pernah sekalipun dia berpikir untuk merubahnya meski ia sadar, Gita bukan sosok terbaik untuk bersama-sama menunggu hujan reda dan melihat pelangi.”


Saat membaca novel ini, saya terus tersenyum simpul. Meski bukan buku komedi, tapi ada humor di dalamnya. Mungkin karena mengidolakan Raditya Dika dan Andrea Hirata, sang penulis sedikit terbawa gaya kepenulisan dua penulis kondang tersebut.

Dimulai dengan judul bab pertama, Salahkan Doraemon!!! Saya terbelalak pada opininya tentang Doraemon. Katanya, robot kucing bersuara om-om itu harus bertanggung jawab bila anak-anak sekarang ingin punya mesin waktu dan senter pengecil. Juga terkesima akan pengetahuannya mengenai Jepang, markas Yakuza yang bertanggung jawab akan adanya gerakan anak-anak malas mandi karena menonton kartun di Minggu pagi.


... Intinya. Jepang itu jauh.

Kaisar Jepang harus betanggung jawab atas keinginan pacarku untuk ke sana. Kenapa pacarku tidak menginginkan Bali atau Lombok yang lebih dekat? Atau Raja Ampat, Pulau Komodo juga tentu bagus. Kenapa tidak di dalam Indonesia saja yang lebih memungkinkan untuk nmencapainya? Kenapa, Tuhan? Kenapa Kau ciptakan negara bernama Jepang itu?

Dan setelah pertanyaan hati tentang Jepang dan Doraemon, penulis membawa kita pada suatu poin yang sangat penting. Yakni mengenai arti dan pemberian nama.

... Sebenarnya cukup aneh saat kemarin aku mengetahui tetanggaku melahirkan seorang anak lelaki dan ayahnya memberi nama Farrel. Ya, tujuh tahun dijajah oleh sinetron Cinta Fitri membuat kebudayaan Cinta Fitri telah mengakar ke alam budaya bangsa ini, Kawan. Berhati-hatilah!

Gita berarti nyanyian, tokoh bernama Aska bisa mengetahui arti nama kekasihnya lewat Kamus Besar Bahasa Indonesia yang lebih pantas menurutnya disebut Kamus Berat Bahsa Indonesia. Sayangnya ia tidak menemukan arti namanya sendiri. Dan di kisah selanjutnya, diketahui bahwa arti nama Aska adalah ... Ah saya tidak tega menjelaskannya di sini. Ini kurang pantas, Kawan! Kurang pantas! Lebih baik kalian membacanya sendiri saja.

Tema yang diangkat di Dear Gita ini ialah move on dengan cara kabur ke luar negeri. Yah, sebenarnya sekalian mencari uang, agar bisa jadi makhluk yang berguna. Walau banyak pemikiran dan pembahasan tentang Gita dan Gita, saya salut akan usaha Aska dalam melupakan gadis yang entah mengapa ingin putus dan menjauh darinya itu. Alasannya tidak jelas. Juga salut akan kesetiaan Aska, yang menganggap Gita ialah cinta matinya hingga Lidya pun tak mampu mengubah rasa itu.

Gemas dengan tokoh Gita yang absurb. Mungkin karena ia masih SMA, labil, jadi bisa bilang putus dengan mudahnya. Yang menjadi pertanyaan ialah mengapa saat Aska dikatakan ‘sukses’, ia mau kembali padanya dan putus lagi di saat harus pacaran jarak jauh?

Jogja, Jakarta dan Brunei Darussalam. Setting yang terakhir jarang dibahas pada novel-novel yang ada di Pasaran. Sayangnya penulis menggambarkannya kurang spesifik sehingga terkesan ‘tempelan’. Namun ada berita mengejutkan yang baru saya tahu dari novel ini, bahwa ternyata karena banyak orang Indonesia yang bekerja sebagai tukang bangunan, maka anggapan lokal Brunei pun menjadi seperti itu.


“Kerja di mana, Mas?” Memang sudah terlalu banyak orang Indonesia di Brunei, sehingga orang lokal Brunei biasa memanggil kami dengan sebutan ‘mas’.


“Di Batu Bersurat, Pak Haji,” jawabku.

“Kerja apa di sana, Mas?” Pak Haji kembali bertanya.

“Di production house,” aku menjawab lagi.

...

Production house berarti buat rumah, ya Mas?”

“Haaaah???!”

Dan dari impian mengunjungi 3 tempat, hanya Kota Terlarang yang tidak jelas bagaimana kelanjutannya. Serta penggambaran Jepang yang kurang maksimal, mungkin dilanjut pada sekuel kedua yang konon sedang digarap penulisnya. Saat menamatkan novel ini dan membaca biodata penulis, saya jadi terenyuh. Saya pikir, mungkin apa yang dikisahkan ialah kisah pribadi sang penulis. Rasnya seperti membaca curhatan seseorang. Bagaimana usaha kerasnya menjadi sukses seperti sekarang ini, layak saya acungi jempol. Salut, Bro!

Dari Dear Gita, saya bisa belajar banyak. Bahwa cinta harus diperjuangkan, bahwa komunikasi itu penting, bahwa impian harus diraih sehingga tidak saja hanya berupa mimpi. Dear Gita, sebuah kisah manis tentang seseorang yang melekat di hati, sayangnya ia tak mau mengerti.

1 komentar:

  1. Saya baru beli ini novel, tapi belom dibaca. :| mau namatin novel Versus dulu. kayaknya keren ini novel.

    BalasHapus

terima kasih sudah membaca ^^
tolong berkomentar dengan sopan yaaa... saya suka membaca komentar kalian semua :*