Friday, September 16, 2016

Serunya Rafting Sungai Kromong

Wihiii...
pose sama Mama sebelum bus berangkat
Minggu (14 Desember 2014) saya rafting sama Mama. Iyaaa, padahal pada postingan lalu saya bilang kalau gak pernah nulis Jelajah lagi karena tidak pernah jalan-jalan lagi. Eh kok yaaa Sabtu-nya diminta kepala ruangan ikutan even outbound tahunan. Mama juga maksa saya ikut, alasannya biar ada yang jagain Mama. Hiyaaa... padahal udah janji mau ikutan acara temu blogger di Surabaya. Gimana yaaa? Akhirnya biar gak dicap anak durhaka, saya memilih ikut acara rumah sakit saja.

Acara dimulai dengan kumpul jam 6 pagi di halaman rumah sakit dr R. Soedarsono Kota Pasuruan. Karena bangunnya agak kesiangan, saya cuma sempat gosok gigi, wudhu, sholat, ganti baju dan berangkat. Hihi. Ya maaf kalau nanti ada yang mual muntah pas ngebau badan saya. Apa daya waktu mepet, yang penting kan gak telat datang. Toh nanti juga basah-basahan, lumayan lah anggap saja mandi di kali.

Jam setengah 7, 3 bus berangkat membawa 150-an karyawan rumah sakit menuju Base camp rafting Obech yang ada di kawasan Wisata Alam Bandulan, Pacet, Mojokerto. Perjalanan dari Pasuruan memakan waktu sekitar 2 jam untuk tiba di area perbukitan yang dikelilingi pohon cemara yang cukup tinggi itu, jadinya sepanjang perjalanan saya tiduran dulu. Bangun-bangun, badan kan jadi fresh dan siap lahir batin untuk main-main.

seragam wajib untuk outbound
Saat melintasi Pos Polisi Pacet, bus diminta berhenti. Penumpangnya pada komentar karena perjalanan terhambat. Otomatis saya terbangun, dijawil senior karena diminta menemaninya buang air kecil di kamar mandi Pos Polisi. Eh itu Polsek deh kayaknya. Maaf ya saya lupa. Pokoknya masih 1 Km lagi untuk sampai Obech.

Pak Polisinya bilang kalau lebih baik rombongan kami dikawal polisi. Soalnya jalannya naik-turun serem gitu, kalau dikawal Polisi jadinya lebih aman. Tapi berhubung panitia emoh mengeluarkan anggaran kawalan polisi, jadinya kami dioper naik angkutan umum. Asyik! Semilirnya angin yang menerpa wajah memupus rasa cemas kami pada jalanan yang landai.

Mama di pintu masuk Obech
Jam 10-an kami sampai di pintu masuk Obech. Mama minta pose dulu. Siplah, untung anaknya ini punya bakat fotografi. Engg... jangan-jangan Mama minta saya ikut bukan buat ngawal, tapi buat jadi tukang foto, yak? Haha.

Obech punya fasilitas yang lumayan lengkap. Selain kantor administrasi, ada pendopo untuk tempat makan, sejumlah kamar mandi yang bersihdan eksotis, mushola di alam bebas, serta fasilitas bermain outbound yang luas untuk flying fox, camping ground dan lainnya. Kami dari bus 1 yang baru datang, diminta istirahat dahulu lalu melakukan pemanasan untuk langsung rafting. Uwow! Sedangkan sisanya dari bus 2 dan 3, main-main dulu di halaman Obech yang luas. Selamat bermain! Saya main air dulu yaaa...
area Obech luas banget
sebagian outbound, sebagian lainnya rafting
Kami menggunakan sungai Kromong sebagai area rafting. Sungai permanen ini mempunyai grade 2-3 yang hampir 90 % penuh jeram, berhawa sejuk, dan pesona alamnya sangat eksotik. Itulah mengapa banyak yang pacaran di sisi sungai ini. Kebanyakan adalah para cabe-cabean dan terong-terongan. Haduuuh... anak muda zaman sekarang. Modal dikit dong, rafting kek kayak saya, kan cuma 199ribu per orang. Hihi, padahal saya rafting ini juga gratisan sih.

Sebelum menuju sungai Kromong, kami diminta memakai helm dan jaket pelampung. Kalau para pengarung jeram profesional memakai peralatan yang lengkap, kami cukup pakai 2 alat ini saja. Ini saja sudah ribet, para senior udah ngomel, “Beraaat... Aduh kok berat gini?” Termasuk Mama saya yang jaket pelampungnya kekecilan. Eh ini jaketnya kekecilan atau badannya yang kebesaran? Hihi. Kalau rafting pilih helm yang bagus dan berbunyi KLIK saat pengaitnya disatukan ya. Ini kunci keamanan, karena siapa tahu ada benturan di kepala jadinya masih aman karena terlindungi helm.


Walau sungainya dekat dengan base camp Obech, tapi untuk menuju titik poin kami harus naik pick up. Kan air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah, jadi naik ke perbukitan dulu. Setelah 10 menit perjalanan, sampailah kami di suatu tempat. Karena mobil tidak bisa mendekat ke lokasi start, kami kudu jalan kaki menuruni tebing terjal. Harus hati-hati agar tidak tergelincir dan terjatuh ke jurang sedalam lebih dari 30 meter.



Tahu gak apa fungsi pemanasan sebelum rafting? Biar gak ngos-ngosan jalan menurun melewati jalan setapak. Pemandangan sepanjang perjalanan menuju tepi sungai Kromong indah banget loh. Rasa capai jadi berkurang dengan mengagumi keindahan alam. Apalagi jalannya ramai-ramai, sambil ngerumpi eh gak kerasa udah nyampai aja.

semangat! turun bukit untuk menuju sungai
sebelum rafting, pose dulu sama tim besar

Para trainer sampai start terlebih dahulu. Mereka lalu menggembungkan boat self bailing dengan pemompa agar bisa dinaiki. Ini tipe perahu dari karet tebal yang dilengkapi dengan lubang-lubang pembuangan air, sehingga kalaupun air masuk dalam perahu tidak akan menggenangi lantai perahu. Nah, setelah perahu penuh angin, para trainer menyeret perahu masing-masing ke tepi sungai, lalu meminta 3 peserta naik ke perahu.



trainer seret perahu
Karena anggota saya adalah Mama yang usianya setengah abad dan Bu Anis yang usianya 58 tahun, otomatis sebagai anggota termuda saya duduk di depan sendirian. Yang duduk di depan harus mahir menjaga keseimbangan agar perahu tak mudah terbalik. Untungnya saya pernah ikutan rafting di Probolinggo, jadi ada pengalaman lah, gak takut-takut amat. Yang penting duduknya nyaman, kedua tangan erat berpegangan pada kedua tali di sisi kanan-kiri saya.

Untuk yang duduk di belakang saya, sisi kanan ada Mama yang kudu pegang tali di sisi kanannya dan tali di depannya. Bu Anis juga wajib berpegangan erat pada tali di depannya dan tali di sisi kiri. Kami harus mendengarkan aba-aba Teguh. Saat perahu terhenti karena terganjal batu, kami harus menggoyangkan perahu agar mau jalan lagi. Ketika ada turunan yang cukup seram, kami harus melakukan posisi boom yakni duduk jongkok dan tubuh condong ke belakang. Kompak itu keharusan, kalau tidak mau perahu terguling seperti pada tim di depan kami.

Arus sungai Kromong yang cukup deras membuat kami tak perlu memakai dayung. Hanya trainer kami yang bernama Teguh yang mendayung untuk membantu perahu agar tidak nyangkut pada bebatuan. Nah, sepanjang perjalanan mengapung di sungai, seru banget! Walau harus berpegangan rapat pada tali, teriak-teriak dan boom berkali-kali tapi benturan perahu pada bebatuan tidak membuat kami ketakutan, malah ketagihan.

posisi boom untuk area turunan seperti ini
seru banget kan?

nyemil di rest area
Lamanya rafting ini sekitar 2 jam. Di pertengahan jalan, kami berhenti di rest area  dan nyemil jemblem plus teh hangat. Jemblem ini camilan tradisional yang terbuat dari singkong yang dilumatkan, dibubuhi gula merah di tengahnya, dikepal, kemudian digoreng. Enaknya nyemil yang hangat-hangat saat kedinginan... Nah kan benar, walau berangkatnya gak pakai mandi yang penting kan akhirnya mandi juga di kali, hihi.

Perjalanan di lanjut lagi. Seru-seruan lagi di kali sambil ngelihatin anak-anak abegeh yang pacaran, itu disuruh sama Teguh, trainer kami yang usianya 22 tahun. Soalnya kata dia, siapa tahu ada tetangga atau anak saudara yang nyasar di mariii ...

yay! ini tim saya! Jepretan Mas Riski.
mushola di tengah kebun bunga
Rafting kelar, acara makan di pendopo Obech dimulai. Tapi kami bersih diri dulu, ganti baju, sholat lalu pose di bunga-bunga. Bagi yang tidak membawa baju ganti, bisa loh beli kaos Obech, harganya 75 ribu. Ihiy! Perut lapar jadi kenyang usai menikmati sajian sederhana semacam nasi krawu, lele dan wader goreng, peyek kacang dan semacamnya.

Saat rafting, ada kru pendokumentasinya. Kami bisa membeli file-nya dengan harga 20ribu per file. Mahal ya, itu hanya berupa file dan tidak bisa dicetak di tempat. Untung sepanjang acara saya dekat-dekat dengan Mas Riski, jadinya kejepret terus dan punya file-nya dengan gratis, haha. Makasih ya Mas Riski. Sampai berkorban ribet nyimpan di tas plastik, kehabisan baterai dan berkali-kali dipanggili cuma buat minta difoto.

Oiya, waktu saya lihat-lihat foto tim saya di komputernya Mas Fotografernya Obech, beliau bilang ke Mama, "Foto ini bagus, Bu!" sambil nunjuk muka Mama di foto. "Oiya, Adik yang ini mana?" tanyanya sambil nunjuk foto saya di layar komputer.
selfie emak-anak

"Lah ini ..." Mama menoleh pada saya yang tepat berada di sebelahnya.

Mas Fotografer mengernyit. "Masa sih? Kok beda? Manisan saat rafting tadi. Apa karena senyumnya ya?"

Uhuk! Sakiiit hati saya mendengarnya. Tuh kannn, tahu gitu gak mandi. Kalau saya mandi kan hasil akhirnya begini, kecantikan memudar. Haha.

Kami melenggang pergi dari Obech menjelang Maghrib. Untung deh jalanan gak macet, jadi nyampai Pasuruan jam 8 malam. Eh pas ketemu satpam, dikabari kalau ada 2 paketan buat saya. Iya, biasanya kalau pengirimna via JNE ampainya ke rumah sakit, soalnya alamat rumah saya tuh ribet, maklum di pinggiran kota. Terus bergegas pulang, ganti baju, leha-leha bentar dan berangkat lagi ke rumah sakit soalnya dinas malam. Capai sih, tapi ya mau bagaimana lagi. Untungnya pasiennya gak terlalu banyak jadi masih sempat tiduran 2 jam di ruangan, hehe.

Serunyaaa rafting sama Mama! Kalau kalian sudah pernah rafting, belum?



1 comment:

  1. wah aku mah selalu takut dan agk mau coba kalau rafting mah, biar ada instrukturnya sekalipun, karena gak bisa berenang

    ReplyDelete

terima kasih sudah membaca ^^
tolong berkomentar dengan sopan yaaa... saya suka membaca komentar kalian semua :*