01 November 2017

Ketika Kehamilan Bidan Diperiksa Bidan:: Sosialisasi Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA) pada Ibu Hamil (bagian 1)



Selasa lalu (31 Oktober 2017) untuk pertama kalinya saya datang ke acara khusus ibu hamil di Kelurahan Kemasan, Kecamatan Krian, Sidoarjo. Sebelumnya memang didata siapa saja ibu hamil di wilayah tempat tinggal saya ini dan diundang untuk pemeriksaan darah secara gratis. Woro-woronya seperti itu. Jadi jam setengah 8 pagi saat Mas Boz (suami) baru pulang kerja lepas jaga malam, saya memintanya mengantar ke kantor kelurahan. Saya pikir hanya sebentar, diambil darah saja lalu pulang. Ternyata ada sosialisasinya segala dan acara diisi oleh bidan-bidan Puskesmas Krian. Lalu saya minta Mas Boz untuk pulang dan beristirahat sementara saya berkumpul bersama para ibu hamil.


Begini ya rasanya menjadi ibu hamil beneran. Hihi, senang sekali saya memiliki banyak teman senasib berperut buncit. Kami mengobrol banyak hal walau baru berkenalan. Ada banyak kisah kehamilan yang membuat saya takjub, yang kebanyakan tentang kehamilan yang tidak disadari. Rata-rata para ibu ini usianya di atas 35 tahun, usia yang sangat beresiko untuk hamil lagi. Namun karena kegagalan kontrasepsi yang digunakan, mau tidak mau harus terima bila berbadan dua lagi. Toh ini rezeki dari Allah.

Jam karetnya Indonesia masih berlaku. Setelah beberapa jam menunggu, akhirnya mobil puskesmas yang mengangkut para bidan pengisi acara datang juga. Acara dimulai jam setengah 10, cukup siang dan membuat perut saya keroncongan. Beruntung saat registrasi menyerahkan buku pink Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), kami para ibu hamil yang kelaparan mendapat roti dan air mineral. Lumayan mengganjal rontahan peristaltik usus, hihi. Para bidan lalu dengan sigap memanggil para ibu hamil untuk mendata dan anamnase yakni menanyakan keluhan dan riwayat kehamilan, memeriksa gigi dan mengambil sampel darah serta urine untuk pemeriksaan laboratorium.



Setelah itu secara bergantian kami masuk ke ruang bidan desa untuk diperiksa janinnya. Dicek tekanan darah dan kenaikan berat badannya dulu. Lalu ditidurkan untuk diperiksa perutnya, melihat kondisi janinnya. Di saat inilah saya merasa kurang sreg dengan pemeriksa. Mungkin karena saya sendiri adalah bidan, saya mengerti prosedur dan pelaksanaannya. Saat seorang bidan puskesmas memeriksa perkiraan ukuran janin saya dengan mengukur panjang perut menggunakan meteran, dia melebih-lebihkan ukurannya. Baru kemarin lusa saya periksa ke bidan senior lain desa, ukurannya 29 cm. Tetapi di sini jadi 33 cm karena pemeriksanya tidak mengatur perut saya sedemikian rupa sehingga jadi lebih memanjang. Ia lalu berkata, “Jangan banyak minum manis, nanti bayinya besar.” Untuk ukuran 34-35 minggu, panjang segitu jadi termasuk golongan bayi besar dan harus waspada. Baiklah… saya diam saja dan menganggap ini teguran agar bisa lebih menjaga pola makan dan minum saya.


Sang pemeriksa lalu mencari dimana punggung janin saya untuk mendengar suara detak jantung menggunakan alat (dopler). Sayangnya lagi-lagi ia tidak memeriksa dengan benar, palpasi yakni pemeriksaan menggunakan tangan, caranya salah. Padahal punggung janin saya ada di sisi kanan, tapi ia malah memastikan ada di sisi bawah. Bukannya itu artinya posisi janin saya melintang? Wah wah … padahal dia bilang posisi kepala janin saya sudah masuk pintu atas panggul (PAP), dimana posisi tersebut normal. Tapi? Yasudahlah … Alhamdulillah detak janin dapat saya dengarkan dengan tepat walau memintanya sedikit menggeser dopler ke arah kanan. Frekuensinya 136 x per menit, normal sesuai rentang detak jantung janin (DJJ) 120 – 160 x per menit.

Pemeriksaan selesai, saya diminta turun dari tempat tidur. Tiba-tiba ada bidan lain yang menanyakan lingkar lengan atas (lila) saya dan pemeriksa saya menjawab, “31 cm”. Di sini saya langsung protes, saya sama sekali tidak diperiksa di bagian itu lalu mengapa dia bisa menjawab seenaknya? Mengarang indah? Sangat disayangkan. Saya lalu menyerukan bahwa tidak ada pemeriksaan pengukuran lila, dan pemeriksaanpun dilakukan. Hasilnya 30 cm dank arena tidak mau malu, pemeriksa saya mengatakan 31 cm. Ya sudahlah…


Dari kejadian ini, saya sangat kecewa dengan kinerja pemeriksa saya. Bukan saya menyalahkan dan mengatakan kerja bidan puskesmas Krian buruk. Karena tidak semua seperti itu atau mungkin sialnya saya yang diperiksa oleh bidan yang kurang kompeten. Padahal semasa saya kerja dulu, saya tidak ingin mengecewakan para pasien. Setiap pemeriksaan saya lakukan sebaik-baiknya, saya usahakan hasilnya akurat karena menyangkut kesehatan ibu dan janin. Pun usai pemeriksaan selalu feedback pada pasien mungkin ada yang menjadi pertanyaan mereka, dengan senang hati saya jawab.

Maka saat saya mendapat perlakuan seperti ini, dimana pemeriksaan dilakukan asal-asalan, rasanya sangat kecewa dan jadi bertekad tidak mau periksa ke puskesmas. Cukup ke bidan senior yang jauh lebih baik pelayanannya. Bukannya cerewet, bukannya sok tahu… Karena saya bidan, saya jadi merasa kasihan pada para pasien yang tidka mengerti apa-apa. Semoga saya kesalahan dan keteledoran pemeriksaan hanya terjadi pada saya, bukan pada ibu hamil lainnya.

Setelah keluar dari ruang pemeriksaan kehamilan atau antenatal care (ANC), saya ke tempat pembagian obat. Di sini saya mendapat stok zat besi sebanyak 90 butir, beberapa butir kalsium dan vitamin C. Untuk penyerapan zat besi yang optimal memang lebih baik bersamaan dengan meminum vitamin C di malam hari. Mengapa konsumsinya lebih baik saat akan tidur? Sebagai antisipasi efek samping berupa mual sehingga tidak mengganggu aktivitas. Vitamin yang saya konsumsi kebetulan habis, jadi untuk sementara vitamin-vitamin dari puskesmas ini yang saya konsumsi. Saya juga mendapat paket makanan tambahan ibu hamil berupa biskuit berlapis gula rasa strawberi. Ukurannya cukup besar dan tebal, cocok sebagai camilan sarat gizi. Pembagian snack gratis ini adalah program pemerintah untuk memperbaiki gizi ibu hamil, sebagai usaha agar Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) dapat menurun.



Untuk sosialisasi Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA) pada ibu hamil yang materinya disajikan oleh para bidan dan kepala puskesmas Krian, saya lanjutkan pada postingan berikutnya ya… Bersambung dulu biar seru.

Terima kasih banyak sudah membaca sedikit uneg-uneg saya atas kinerja bidan zaman now. Walau saya juga bidan, tapi jadi koreksi diri atas kinerja dan kompetensi yang dimiliki. Semoga di kemudian hari saya tidak melakukan hal serupa, kasihan para pasien yang tidak mengerti apa-apa dan pasrah akan hasil pemeriksaan bidan. Semoga kualitas bidan Indonesia jadi jauh lebih baik.


Salam manis,

tha_







2 komentar:

  1. Terimakasih informasinya, saya malah jadi tahu apa saja yang seharusnya diperiksa ketika hamil.. ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyah sama2. Alhamdulillah berguna 😄

      Hapus

terima kasih sudah membaca ^^
tolong berkomentar dengan sopan yaaa... saya suka membaca komentar kalian semua :*