24 November 2017

Nyerinya Miss V dan Keluhan Lain pada Kehamilan Tua



Ah, si Dedek makin besar. Tidak terasa 9 bulan telah berlalu. Huhuhu … Rasanya masih ingin lebih lama lagi hamilnya biar dimanja-manja terus. Lalu suara batin menggumam, “Yaaa setelah masa nifas, hamil lagi juga boleh kok. Mumpung di rumah terus.” Jleb!


Perkiraan kelahiran Dedek sesuai hasil ultrasonografi (USG) sih seminggu lagi. Tapi kalau berdasar Hari Perkiraan Lahir (HPL) menurut hitungan Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT) ialah tanggal 10 bulan depan. Saya pasrah mau bersalin kapan saja, yang penting aterm, cukup bulan. Sepasrah menerima ketidaknyamanan selama kehamilan trimester ketiga ini. Bukan keluhan, hanya tidak nyaman. Tidak mengeluh, hanya nggeremeng pada Mas Bos. Hihi.


Baca: Tempat USG Kandungan Murah


Pada trimester ke-3 ini, dimulai dari usia kandungan 28 minggu, saya mulai merasa ada sesuatu yang tidak “pas” di tubuh saya. Ada sesuatu yang salah. Perut membesar? Sudah pasti. Adanya ketidaknyamanan yang menyertai karena bobot janin yang semakin besar membuat saya mulai merasakan keluhan-keluhan yang hampir tidak pernah saya rasakan pada trimester sebelumnya.

Kehamilan trimester 1 dan 2 saya aman, damai, sentosa. Biasa saja. Bahkan rasanya seperti tidak hamil. Tanpa mual muntah, tanpa ngidam aneh atau pica, nafsu makan selalu ada dan kian besar … Orang-orang bilang ini ngebo, hanya ibu hamil “bandel” yang mengalaminya. Ndableg kalau orang jawa bilang.

Nah meskipun dikatakan trimester ketiga dimulai saat usia kandungan 7 bulan (28 minggu), ketidaknyamanan kehamilan 3 bulan terakhir ini mulai saya rasakan menginjak usia kandungan 9 bulan (36 minggu). Rasa tidak enak itu antara lain:

1. Kegerahan
Beberapa kali saya tulis di blog ini bahwa saya sering merasa gerah. Entah itu pagi, siang, malam. Saya sampai mandi malam-malam, padahal kata orang kalau ibu hamil mandi setelah matahari terbenam itu pamali. Beruntung setelah curhat di blog, Mas Bos jadi membelikan air conditioner (AC) dan dipasang di kamar. Alhamdulillah …


Baca: Rahasia Kamar Nyaman

Kegerahan adalah hal yang normal pada kehamilan, namun seringkali menimbulkan ketidaknyamanan. Saat berbadan dua, wanita mengalami peningkatan aliran darah yang berfungsi untuk mendistribusikan zat-zat gizi kepada sang janin melalui plasenta. Selain ditunjang oleh peningkatan kadar hormon progesteron yang mempercepat aliran darah, kondisi metabolisme tubuh yang juga meningkat kemudian merangsang rasa panas di tubuh. Makin banyak kalori yang dilepas, maka tubuh semakin terasa panas.

Ternyata … janin juga menghasilkan panas di dalam tubuhnya. Namun karena belum bisa berkeringat, maka dibuang melalui tubuh ibu. Semakin bertambahnya usia janin, berat tubuhnya bertambah maka panas yang dikeluarkan tubuhnya pun bertambah banyak. Keringat ibu hamil jadi semakin deras keluarnya, apalagi di siang hari.


Untuk mengatasi rasa gerah ini, yang saya lakukan adalah:
- Memakai baju longgar yang nyaman.
Bahannya dari katun yang menyerap keringat. Itulah alasan mengapa ibu hamil suka sekali memakai daster, adem! Akhirnya dipakai sampai masa nifas dan seterusnya.
- Menjaga sirkulasi udara di dalam rumah.
Selain menghidupkan kipas angin, saya juga jadi sering membuka jendela dan pintu rumah selebar-lebarnya. Kalau ada rezeki lebih, para ibu hamil yang memiliki keluhan seperti saya yang mudah kepanasan dan berkeringat ini, bisa minta suami agar dibelikan AC. Bilang saja alasannya demi si janin.
- Menghidari tempat sempit yang pengap.
Lebih baik sering berada di ruang terbuka, seperti di teras rumah atau di kebun belakang. Sambil menyapu halaman, lumayan menambah aktivitas dan halaman jadi bersih.
- Memperbanyak minum air putih sebagai pengganti cairan yang hilang.
Jangan sampai dehidrasi karena juga bisa berdampak pada janin. Minum jus buah yang segar juga baik, tapi tanpa gula dan susu agar penyerapan air, vitamin dan seratnya jauh lebih optimal.

Baca: Cara Mudah Minum Susu Hamil


2. Sering Buang Air Kecil
Karena kegerahan, saya jadi minum air putih sebanyak-banyaknya. Terkadang lebih dari 2 liter! Idealnya cukup 8 gelas yang setara 1,5 liter namun bila ada kondisi dimana seringkali buang air kecil, maka konsumsi minum air putih pada ibu hamil harus ditambah. Selain itu, peningkatan frekuensi berkemih juga disebabkan tekanan pada kandung kemih karena turunnya bagian terbawah janin.

Gerah, minum air, kencing, lalu minum lagi, kencing lagi… siklusnya terus seperti itu. Dulu saya sering menemui para ibu hamil yang didiagnosa ketuban tinggal sedikit. Setelah diselidiki, ternyata sang ibu jarang minum air karena capai bolak-balik ke kamar mandi. Padahal ketuban yang tinggal sedikit bisa membahayakan janin karena nutrisinya bersumber dari ketuban. Karena ingin janin selalu sehat, mau tidak mau saya harus mencukupi kebutuhan air, meski dampaknya jadi rajin ke kamar mandi.

Untuk mengurangi rasa tidak nyaman sering buang air kecil, yang saya lakukan:
- Perbanyak minum di siang hari dan segera berkemih ketika muncul dorongan untuk kencing.
- Membatasi konsumsi air di malam hari.
Hal ini agar tidak mengganggu tidur. Jikalau minum sebelum tidur, maka akan berkali-kali terbangun untuk melangkah ke kamar mandi. Jadi lebih baik sekitar 2 jam sebelum tidur, saya batasi konsumsi air.
- Batasi minum teh, soda dan kopi yang merangsang produksi urin berlebih.


3. Ruam pada Selangkang dan Sekitar Vulva
Karena banyak ke kamar mandi dan malas mengeringkan area sekitar kemaluan, akhirnya timbul ruam. Ruam atau kemerahan ini meluas ke area sekitar vulva (kemaluan wanita) dan selangkang. Bila dibiarkan dan sering bergesek antara paha satu dan lainnya, kemudian muncul iritasi yang terasa perih. Ketidaknyamanan seperti inilah yang saya rasakan pada kehamilan trimester ke-3.

Makin lama, bekas ruam kemudian menghitam. Ditambah efek hiperpigmentasi (perubahan warna kulit menjadi lebih gelap oleh karena penumpukan pigmen), kulit yang menghitam ini lalu tidak bisa hilang. Inilah jawaban mengapa dulu saya sering melihat ibu yang area selangkang dan vulvanya menghitam. Ternyata memang benar, karena kurangnya menjaga kebersihan. Dan hal ini saya alami sendiri sekarang.

Yang saya lakukan untuk mengatasi ketidaknyamanan timbulnya ruam kulit di area kemaluan adalah dengan cara:
- Mengeringkan area vulva dan selangkang dengan handuk khusus
- Rajin mengoleskan baby oil untuk menjaga kelembaban kulit
- Sering mengganti celana dalam


4. Stretch mark
Pada beberapa ibu hamil, stretch mark berupa garis-garis parut pada kulit, muncul di perut. Ada juga yang muncul pada paha, bokong dan juga payudara. Kemunculannya biasanya dimulai pada trimester ke-2 dan semakin banyak di trimester 3. Awalnya berwarna pink, merah, keunguan lalu lama-lama menghitam. Kalau pada kasus saya, banyak terjadi di pangkal paha dekat selangkang. Area tersembunyi, memang. Tapi rasanya sangat mengganggu karena tubuh jadi tidak mulus lagi. Saya hanya bisa pasrah bila stretch mark semakin banyak. Memang akan memudar setelah bersalin, namun biasanya masih tampak bekasnya.

Usaha yang bisa saya lakukan untuk menguranginya adalah:
- Rajin mengoles krim anti stretch mark.
Sebenarnya kurang optimal bila dilakukan setelah banyak stretch mark yang muncul. Lebih baik mengoleskannya sebelum garis parut ini muncul, yakni mulai trimester 2. Mencegah lebih baik. bila tidak memiliki krim anti stretch mark, bisa menggantinya dengan baby oil.

Baca: Vitamin Wajib Ibu Hamil


5. Rasa Nyeri pada Miss V
Usia kehamilan yang kian besar membuat si Dedek yang juga  membesar, mulai mencari posisi dan jalan untuk lahir. Bagian terendah janin mulai masuk panggul sehingga struktur di bagian dalam panggul tertekan. Lalu vagina atau Miss V sebagai jalan lahir melunak dan jaringan di sekitarnya meregang. Miss V rasanya nyeri, ngilu, seperti ditekan-tekan dari dalam secara mendadak dan timbul saat bangkit dari tiduran atau duduk, dan ketika berjalan.

Usaha saya untuk mengatasi ketidaknyamanan berupa rasa nyeri pada Miss V ini ialah:
- Menghindari rasa lelah yang berlebihan, tetapi juga tidak terlalu banyak berdiam diri tanpa beraktivitas.
Seminggu lalu rasanya badan saya letih sekali. Saya lalu tiduran selama 12 jam dan hanya bangkit untuk sholat, kencing, makan dan minum. Mumpung Mas Bos long shift, saya bermalas-malasan tanpa beberes rumah seperti biasanya. Memang nyaman, tapi kemudian saya kesusahan bangkit dari tidur. Miss V dan area sekitarnya terasa sangat ngilu.
- Melakukan senam hamil
Rasa ngilu bisa timbul karena ketegangan otot di sekitar kemaluan. Untuk merilekskannya, saya melakukan gerakan senam hamil yang ringan secara perlahan-lahan hingga rasa ngilu berkurang.
- Atur posisi tidur yang nyaman
Mungkin juga dari kesalahan tiduran yang seenaknya hingga timbul ketidaknyamanan nyeri pada Miss V ini. Posisi tidur miring ke samping kiri dengan kaki yang ditekuk membentuk siku-siku, dapat membantu mengurangi rasa nyeri. Bisa juga merilekskan tubuh dengan posisi sujud sebelum tidur, untuk memposisikan janin sesuai hukum gravitasi. Dengan posisi janin yang baik dan nyaman dalam rahim, niscaya dapat mengurangi rasa nyeri pada Miss V dan sekitarnya.


6. Braxton Hicks
Saat janin memasuki usia kandungan 36 minggu atau 9 bulan, mulai terasa adanya kontraksi palsu yang lazim disebut braxton hicks. Rasanya … perut kaku, tegang seperti ada yang menarik kulit perut. Kadang disertai dengan aktifnya gerakan janin sehingga menimbulkan rasa kaget, gelid an juga sedikit nyeri.

Apabila mulai terasa braxton hicks yang semakin sering, artinya persalinan akan segera datang. Apalagi bila terasa perut kencang-kencang yang semakin intens dengan durasi yang lebih lama, maka persalinan sudah di ambang mata. Gerakan janin yang semakin kuat terkadang membuat tekanan pada diafragma. Akibatnya saya sering merasa sesak dan kurang nyaman karena juga timbul nyeri di area sekitar diafragma. Rasanya ada yang menusuk ke tulang px saya.

Nah untuk mengurasi ketidaknyamanan ini, yang saya lakukan adalah:
- Beristirahat.
Saat braxton hicks datang, yang yang awalnya berdiri lalu memilih duduk atau tiduran. Tarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan-pelan.
- Bersyukur.
Kebiasaan saya kala kontraksi palsu ini datang ialah dengan mengelus-elus perut dan mengajak bicara si Dedek. Ada yang bilang bahwa mengelus perut justru menimbulkan frekuensi braxton hicks bertambah sering. Namun saya lbih percaya bahwa ini adalah bentuk komunikasi antara ibu dan janin. Pada kegiatan ini, saya juga berucap syukur bisa merasakan gerakan aktif janin, tanda bahwa dia baik-baik saja di dalam sana. Dengan demikian, saya bisa lebih menerima braxton hicks dan tidak menganggapnya sebagai keluhan.


Bagaimana bebasnya seorang wanita dari ketidaknyamanan tersebut dapat dilihat dari bagaimana ibu hamil memandang pengalaman kehamilannya. Ada aspek fisiologis dan anatomis yang mendasari munculnya ketidaknyamanan ini. Tentu hal ini normal saja sebab karena banyaknya perubahan yang terjadi pada ibu hamil oleh karena semakin berkembangnya janin di dalam kandungan. Bagaimana kondisi psikologis ibu hamil juga mendasari setiap penerimaannya terhadap ketidaknyamanan yang dirasakan. Apabila ibu hamil bahagia dan bersyukur terhadap kehamilannya, maka ada upaya lebih lanjut untuk mengatasinya tanpa menganggapnya sebagai keluhan dengan cara berlebihan.

Masih banyak lagi ketidaknyamanan yang biasanya dirasakan oleh ibu hamil pada usia kehamilan yang semakin tua. Sejauh ini apa yang saya alami seperti apa yang saya rasakan di atas. Mungkin ada beberapa dari teman-teman yang merasakan jauh ekstrim atau ada ketidaknyamanan dalam bentuk lain, boleh cerita di kolom komentar ya …



Salam manis,

tha_



3 komentar:

  1. Saya waktu hamil trimester akhir mirip-mirip deh keluhannya. Disertai sesak napas juga ketika posisi berbaring. Jadi hari-hari menjelang kelahiran itu boboknya nggak pules. Eeh keterusan nggak pulesnya sampai punya bayi dan sekarang bocahnya udah gede. Hahahaha.

    Semoga persalinannya berjalan lancar ya mbak..

    BalasHapus
  2. setiap kehamilan keluhannay berbeda ya, anak pertama dan keduaku saat aku hamil keluhannya berbeda

    BalasHapus
  3. Pas hamil anak mbarep juga gt dulu, sampe2 (maaf) ga pernah pake cd saking saban 5 menitnya pepsi hihi... tapi nggak sampe kyk kontraksi sih, cm si bayi ndusel ke bawah banget smp agak nyeri dan sering pepsi.
    Pas anak kedua kemaren Alhamdulillah nggak smp ngrasain sakit, pepsinya pun ngga yg sesering anak pertama. Tapi pas trimester pertama si anak kedua ini haduhhh mak maboknya parah mampus. Proses lahirnya jg sama2 drama dg cerita masing2, tp Alhamdulillah dua-duanya normal.
    Semoga lancar ya lahirannya... Salam kenal

    BalasHapus

terima kasih sudah membaca ^^
tolong berkomentar dengan sopan yaaa... saya suka membaca komentar kalian semua :*