Categories

31 Oktober 2021

Menikah, antara Ekspektasi dan Realita

 

Kata orang, menikah itu membuat kita bahagia. Nyatanya, menikah tidak hanya menyatukan isi 2 kepala yang berbeda. Menikah itu untuk menyatukan 2 keluarga, lalu berjalan beriringan. Minimal... rukun.

Sebelumnya, sebagai anak sulung yang berjenis kelamin perempuan, banyak sanak saudara dan teman-teman orang tua saya yang mengira orang tua saya bakal cepat "mantu". Lazimnya memang kalau punya anak perempuan, akan punya agenda tersebut lebih cepat dibanding bila anak sulungnya adalah lelaki. Sayangnya, ternyata adik sayalah yang duluan menikah, padahal dia laki-laki. Ini karena satu dan lain hal yang tak bisa saya ceritakan. Akhirnya muncul "kepercayaan" baru yang bilang bila anak sulung perempuan "dilangkahi" adiknya, maka dia akan jadi "perawan tua".

Nah, dari sini, muncul masalah di kesehatan mental saya oleh karena adanya judge tersebut. Terlebih kebetulan di masa itu, hubungan asmara saya yang berjalan bertahun-tahun pun terpaksa kandas. Keputusan ini saya ambil sepihak, alasannya entah apa, kalau saya ingat lagi kok ya tidak ingat mengapa bisa begitu. Yang jelas, sepertinya usai adik saya menikah, kehidupan asmara saya berantakan dan sama sekali tak ada bayangan ataupun target untuk menikah dalam jangka waktu beberapa tahun ke depan.

Kesehatan mental yang terganggu maksudnya bukan berarti saya menjadi kurang "waras". Namun muncul rasa was-was tiap kali saya dekat dengan lawan jenis. Ada rasa takut, minder, cemas, dan sejenisnya, sehingga kemudian saya takut untuk berhubungan lebih dekat dari sekedar kenal. Takut akan kembali kandas, cemas dia akan melukai hati saya, khawatir terlalu cinta lalu tak bisa bersama. Apalagi bagi saya, menikah itu seperti mimpi yang tak bisa digapai.

Ketakutan menikah semakin menjadi saat kemudian adik saya bercerai, 2 tahun usai menikah. Lalu ada masa di mana kedua orang tua saya bertengkar hebat, dan saya jadi saksi matanya. Belum lagi di tempat kerja, teman-teman kerja banyak yang cerita soal masalah rumah tangganya, di mana muncul rasa "sebal" dengan pasangan resmi dan malah main api dengan pasangan orang. Ah, apakah menikah itu penuh intrik sedemikian rupa?

Kehidupan pribadi saya memang berjalan mulus. Saya bekerja dengan giat sampai dipercaya atasan menjadi ketua shif, keuangan saya membaik, hanya saja tidak ada teman penuh cinta yang membuat saya merasa nyaman untuk berbagi hati. Di mata orang, hidup saya terlihat baik-baik saja, meskipun nyatanya saya menderita sebab cemas hampir kepala tiga namun tak jus berumah tangga. Belum lagi mantan-mantan saya sudah menemukan tambatan hati yang baru, bahkan sudah punya buah hati. Ah, apakah Tuhan lupa memberikan jodoh yang tepat pada saya?

"Mungkin jodohmu belum lahir," canda teman kerja saya.

Lucu? Ya... saya menertawakan diri sendiri. Mungkin memang benar jodoh saya belum lahir. Mungkin bahkan memang benar saya tak akan punya pasangan hidup. Sabar, sabar... Saya menguatkan diri sendiri meski tiap malam sejatinya saya menangis minta padaNya agar menyegerakan saya bertemu dengan sang belahan jiwa.

Hati saya sakit saat ada teman yang membagi undangan seraya berkata, "Foto di undangan ini bisa jadi referensi. Kamu bisa pose kayak gini dulu, nanti foto penganti pria-nya tinggal ditempel di sebelahnya," tapi saya hanya tersenyum menanggapi hal yang dianggap kelakar semu itu.

Rasa cemas akan menikah kemudian semakin menjadi. Mental saya seakan drop ketika sadar satu demi satu teman saya sudah menikah, dan menyisakan saya seorang. Setidaknya meski jodoh belum tampak hilalnya, saya butuh konseling, saya butuh teman cerita. Saya ingin meredakan rasa cemas akan kondisi saya, saya tak ingin terlalu larut dalam kesedihan termakan mitos "perawan tua".

Kalau dulu, agak susah untuk menemukan tempat konseling yang tepat. Cerita pada teman, kemudian menjadi aib apabila kisah rahasia akan kesedihan hati itu tersebar ke teman-teman lainnya. Mereka seakan kasihan pada saya, padahal saya tak mau dikasihani. Pandangan mereka seakan meredup saat memandang saya, dan saya tak mau itu semua terjadi.

Beruntung di masa kini sudah ada aplikasi Riliv. Ini adalah aplikasi meditasi dan konseling online No 1 di Indonesia. Riliv memberikan solusi lengkap untuk menjaga kesehatan mental. Caranya mudah, tinggal klik https://riliv.co lalu konseling dan meditasi bisa via online sehingga lebih mudah di mana dan kapan saja. Dengan Riliv jadi bisa dapatkan hidup yang lebih bahagia dari sebelumnya.

Dulu, rasanya ingin sekali terlempar ke masa depan, ke masa dimana konsultasi dan konseling bisa secara online dengan Riliv begini. Dulu saya hanya bisa pasrah dengan keadaan, hanya bisa mendekatkan diri dengan Tuhan. Kendali diri yang kuat agar tidak melakukan hal-hal aneh membuat saya bak bisa bertahan di masa "sulit". Saya terlihat baik-baik saja dan bahkan tak ada yang menyangka bahwa sejatinya tiap malam saya menangis meratapi diri yang jomblo bertahun-tahun di masa siap nikah.

Bersyukurlah setelah 4 tahun sendiri, saya berkenalan dengan sosok lelaki yang kini menjadi suami saya. Ialah penyembuh saya, sebab beliau jadi teman curahan hati alias curhat. Kebetulan kami sama-sama pasca putus dan saling menguatkan agar bisa move on. Siapa sangka kemudian kami malah nyaman satu sama lain sehingga kemudian memutuskan untuk menikah.

Keputusan yang seperti terlihat mudah untuk diiyakan karena saya memang berharap punya pasangam hidup. Tapi dilema kembali muncul setelah ingat bagaimana adik saya yang cerai dan orang tua yang sering ribut bahkan sering berkata ingin pisah satu sama lain. Syukurlah suami saya mengingatkan bahwa kisah hidup orang tak akan selalu sama. Ia mengatakan bahwa kami pasti bisa jadi lebih baik lagi. Kalau keluarga saat ini berantakan, dengan kami berdua niscaya akan bisa membentuk keluarga baru yang jauh lebih rukun dan sesuai harapan.

Ya, kami akhirnya menikah. Rasanya memang indah karena saya dan suami adalah 2 insan dengan isi kepala yang sama. Meski kedua keluarga kami masih ada sedikit bentrok, tapi kami tetap saling menguatkan. Bahkan kala saya merasa tak kuat lagi karena sikap keluarga suami, maka kemudian mencari teman konseling agar tak lagi menangis sendiri di tengah malam. Saya memilih Riliv, sang teman konseling online yang praktis dan sangat solutif. Terima kasih, Riliv... Meski menikah tak sesuai ekspektasi, tapi saya yakin akan selalu kuat melaluinya.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Terima kasih sudah membaca ^^
Tolong berkomentar dengan sopan yaaa... Maaf kalau ada yang belum terjawab :*

Back to Top