25 November 2017

Panduan Bertanya pada Dokter Saat USG



Sebulan setelah menikah dan kemudian terlambat haid, saya langsung minta Mas Bos agar membelikan test pack. Alhamdulillah hasilnya bergaris dua. Itu saja lalu tidak kemana-mana. Lain halnya pada wanita yang positif hamil lainnya, pastinya langsung periksa ke bidan terdekat atau ke dokter spesialis kandungan. Namun karena saya sendiri adalah bidan, maka hanya meminum vitamin tertentu untuk kesehatan saya dan janin.


Baca juga: BedaFolamil Genio dan vitamin kehamilan lainnya

Mau periksa ke bidan terdekat kok rasanya percuma. Maaf bukannya apa, namun saya sudah mengerti langkah selanjutnya. Biasanya hanya diminta test pack ulang, ditanya kapan Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT), dihitung masa Tafsiran Persalinannya (TP) / Hari Perkiraan Lahir (HPL) lalu dicek bagian bawah perut untuk memastikan apakan sudah terasa rahim yang menonjol. Daripada itu, lebih baik saya menanti masa hingga janin dalam kandungan saya siap untuk menerima pemeriksaan ultrasonografi (USG) pertamanya.

Mengapa tidak langsung saja USG?
Sebab karena HPHT saya saat itu ialah tanggal 3 Maret 2017, sedangkan saya positif hamil atas pemeriksaan test pack tanggal 7 April 2017, artinya si Dedek saat itu genap berusia 5 minggu. Masih terlalu dini. Di pemeriksaan USG biasanya masih belum benar-benar tampak calon janin (fetal pole) dan kuning telur (yolk sac)-nya. Hanya terlihat kantung kehamilan. Bila demikian hasilnya, tentu dokter kandungan menyarankan, “Periksa 2 minggu lagi, ya” untuk melihat apakah kantung kehamilan telah terisi.

Itulah mengapa saya menanti usia kandungan mencapai 10 minggu untuk USG pertama. Di saat ini pula biasanya detak jantung janin sudah tampak. Ini memastikan bahwa memang benar-benar hamil janin, suatu kehamilan yang normal. Janin juga dipastikan hidup, dan tidak ada kelainan lain yang menyertai. Alhamdulillah.


Walau saya bidan yang mengerti tentang kehamilan dan segala tetek bengeknya, namun saat USG kadang jadi specchless. Saat dokter berkata, “Ada yang mau ditanyakan?” saya lalu berpikir, “Apa ya?” Bingung sendiri saking takjubnya melihat kondisi janin dalam rahim. Beruntung pada USG pertama, dokter yang memeriksa sangatlah ramah dan detail penjelasannya. Jadi saya rasa tidak perlu ada yang ditanyakan lagi.

Baca juga: TempatUSG Kandungan Murah

Berkaca dari pengalaman tersebut,  setiap kali akan USG, saya selalu menyiapkan daftar pertanyaan bila dokter belum menerangkan bagaimana kondisi janin saya secara detail. Saya harap daftar ini bisa membantu para ibu hamil lainnya agar tidak bingung lagi ketika berhadapan dengan dokter kandungan. Iya kalau dokternya jelas dan detail menerangkan hasil USG. Bila dokternya pelit bicara? Sayang kan mahal-mahal periksa.

**Berikut panduan bertanya pada dokter saat USG kandungan untuk periksa kehamilan**

- Usia Kandungan < 8 minggu
Di masa ini biasanya hanya bisa dideteksi apakah memang benar terlambat menstruasi / haid yang dialami mengarah pada kehamilan. Sebab ada pula yang terlambat haid karena siklusnya yang berubah oleh karena faktor hormonal ataupun stress. Saat pemeriksaan USG, tanyakan:
1. Adakah kantung kehamilannya?
Adanya kantung kehamilan memastikan bahwa telah terjadi hasil pembuahan (konsepsi).
2. Letaknya di dalam atau di luar rahim?
Pada kasus tertentu, kehamilan terjadi di luar rahim. Namanya kehamilan ektopik. Ini tentu sangat mengganggu kondisi sang ibu dan mau tidak mau biasanya terjadi keguguran. Terkadang janin kemudian tumbuh dan malah mengganggu sang ibu, sebab tumbuhnya bukan dalam rahim. Kehamilan ektopik kebanyakan terjadi pada tuba fallopi, yakni saluran dari indung telur menuju rahim. Bila janin dibiarkan tumbuh di situ, maka tuba fallopi akan pecah, terjadi perdarahan dan ibu anemia berat. Kasus ini kemudian dinamakan Kehamilan Ektopik Terganggu (KET). Tindakan segera yang harus dilakukan adalah operasi.
3. Adakah kondisi abnormal yang menyertai? Misalnya kista atau mioma?

- Usia Kandungan 8 – 11 minggu
Di saat ini, janin hanya bisa dilihat lewat USG 2 dimensi yang berwarna hitam dan putih. Yang perlu ditanyakan adalah:
1. Adakah kantung kehamilannya?
2. Letaknya di dalam atau di luar rahim?
3. Adakah calon janin (fetal pole) dan berapa jumlahnya?
Ini penting. Karena banyak kehamilan yang terjadi tanpa terisinya kantung kehamilan (blighted ovum). Selain itu juga tanyakan apakah tidak ada kelainan yang menyertai seperti misalnya mola hidatidosa yang umum disebut hamil anggur.
4. Adakah air ketubannya?
5. Adakah kondisi abnormal yang menyertai? Misalnya kista atau mioma?
6. Adakah detak jantungnya?
7. Bagaimana HPL-nya? Sesuaikah dengan HPHT?
8. Berapa ukuran diameter kepala (Biparietal Diameter / BPD) dan panjang kepala hingga pantatnya (CRL)?
9. Berapakah perkiraan Tafsiran Berat Janin (TBJ)-nya?

Baca juga: VitaminBagi Ibu Hamil

- Usia Kandungan 12 – 19 minggu
1. Tanyakan seperti yang ditanyakan pada saat usia kandungan 8 – 11 minggu
2. Tanyakan lebih detail tentang kantung kehamilan dan janin yang mengisinya. Apakah tumbuh sesuai usia kandungan?
Pada beberapa kasus, ada janin yang tidak bisa berkembang sebagaimana mestinya. Bahkan kemudian meninggal karena kasus tertentu, entah kurang gizi atau ada gangguan lain dari tubuh ibu atau dari janinnya. Kasus ini bernama dead conseptus. Bila hal ini terjadi, maka janin harus segera dikeluarkan dari tubuh ibu daripada nantinya malah mengganggu kesehatan sang ibu.
3. Bagaimana plasenta (ari-ari)-nya? Normalkah ukurannya? Di manakah letaknya?
4. Lengkapkah tulang tengkoraknya? Bundarkah?
Pentingnya mengetahui kelengkapan tulang tengkorak janin agar dapat mendeteksi lebih dini apabila ada kelainan. Dikhawatirkan adanya anenchepal atau karena kurangnya konsumsi asam folat di masa awal kehamilan. Pun bisa mendeteksi lebih dini adakah down syndrome yang dapat dilihat dari tebal tengkuk janin yang tak normal, disertai dengan hasil pemeriksaan darah (triple test).
5. Lengkapkah jumlah ruas jari tangan dan kakinya?

- Usia Kandungan 20 – 28 minggu
1. Tanyakan seperti yang ditanyakan pada saat usia kandungan 12 - 19 minggu.
Ditambah tanyakan lebih jelas mengenai posisi plasenta. Apakah sudah bagus dan tidak menutupi jalan lahir? Hal ini penting sebagai persiapan bisakah janin nantinya lahir secara normal ataukah tidak. Seperti pada kasus saya, plasenta berada di kiri bawah, namun syukurlah tidak sampai menutupi jalan lahir. Seiring membesarnya ukuran rahim, plasenta akan terdorong ikut naik dan jauh dari jalan lahir. Doakan bisa lahir secara normal, sehat dan selamat, ya?
2. Bila perlu, lakukan pemeriksaan USG 4 Dimensi sehingga janin dapat terlihat lebih jelas. Dari sini dapat diketahui apakah ada kelainan seperti bibir sumbing, ataukah ada kelainan pada mata, hidung, serta tangan dan kakinya. Tanyakan pula adakah kelainan pada organ tubuhnya.
3. Tanyakan dengan jelas bagaimana dengan TBJ-nya apakah sudah sesuai atau tidak?
Bila berat janin kurang dari normalnya, diskusikan dengan dokter langkah apa yang baiknya ditempuh. Apakah perlu menambah takaran gizi dan kalori dalam jumlah tertentu?
4. Bagaimana posisinya? Melintang, kepala di atas atau di bawah?
Walau pada usia ini posisi janin masih bisa berubah-ubah karena gerakan janin yang berputar-putar dalam rahim, pertanyaan ini wajib ditanyakan. Bersyukur bila jawabannya kepala di bawah, semoga posisinya terus seperti itu hingga persalinan nanti. Bila ternyata posisi janin melintang atau kepala di atas, tidak perlu cemas. Janin masih dapat berubah posisi (reposisi) karena jumlah ketuban yang banyak dalam rahim.
5. Apakah HPL-nya tetap seperti di awal atau berubah?
Kadangkala dengan kemajuan janin yang pesat, HPL bisa saja maju seminggu atau 2 minggu. Seperti yang saya alami, awalnya HPL tanggal 10 Desember 2017. Tapi ketika USG di usia kandungan 5 bulan, HPL maju jadi tanggal 27 November 2017. Hal ini wajar saja, mengingat persalinan bisa saja terjadi lebih cepat atau lebih lambar 2 minggu dari HPL.
6. Apakah jenis kelaminnya?
Di usia ini, biasanya jenis kelamin janin sudah bisa terlihat, asal paha tidak menutupinya.

Baca juga: KetidaknyamananSelama Kehamilan Trimester 3

- Usia Kandungan 29 – 36 minggu
1. Tanyakan seperti yang ditanyakan pada saat usia kandungan 20 - 28 minggu.
2. Bagaimana dengan tali pusatnya? Panjang atau pendek?
Ini penting ditanyakan untuk mewaspadai terjadi lilitan tali pusat. Pada usia ini, janin aktif-aktifnya bergerak dan berputar-putar dalam rahim karena jumlah ketuban yang melimpah. Bila tali pusat panjang dan posisinya kurang baik, bisa-bisa melilit janin. Pun bila tali pusat terlalu pendek, bisa menyulitkan saat persalinan nantinya. Untuk itulah mengapa poin ini sangat penting ditanyakan.
3. Lebih jelas lagi menanyakan posisi janin, apakah bagian terendah janin?
Bersyukurlah bila bagian terendah janin adalah kepala, bisa lahir secara normal asalkan panggul ibu tidak sempit dan berat janin kurang dari 3800 gram.

- Usia Kandungan 36 dan lebih dari itu
1. Tanyakan seperti yang ditanyakan pada saat usia kandungan 29 - 36 minggu.
2. Tanyakan secara jelas bagaimana posisi bagian terendah janin.
Bila bagian terendah adalah kepala, tanyakan apakah sudah masuk Pintu Atas Panggul (PAP) atau belum. Bila sudah, maka diharapkan peluang persalinan normal lebih banyak dapat terjadi. Bila bagian terendahnya adalah bokong, maka diskusikan bagaimana cara persalinan yang bisa dilakukan. Pada kasus tertentu di mana ini bukanlah kehamilan pertama, berat janin tidak terlalu besar dan ronggal panggul ibu normal, janin dapat lahir normal sungsang. Namun bila posisi janin melintang, maka mau tidak mau persalinan yang bisa dilakukan adalah dengan jalan operasi sesar (section caesaria). Konsultasikan dengan dokter, mungkin ada cara untuk bisa menormalkan posisi janin menjadi presentasi terbawah / terendah adalah kepala.
3. Tanyakan dengan jelas berapa TBJ-nya. Kira-kira dengan TBJ seperti itu, nanti hingga bersalin bisa sampai berapa kilogram?
Pada trimester terakhir, kenaikan berat janin begitu pesat. Misalnya saja janin saya yang pada usia 31 minggu seberat 1600 gram, pada usia 36 minggu menjadi 2800 gram. Wow! Dengan mengetahui berapa tafsiran berat janin, ibu hamil jadi bisa waspada dan lebih berhati-hati lagi dalam memilah apa yang dikonsumsinya sehingga janin tidak menjadi terlalu besar dan berat yang mungkin bisa menyulitkan masa persalinan nantinya.


Apabila ada kekurangan, saya mohon maaf. Mungkin ada beberapa hal yang terlupa saat saya menulis tentang ini. Jika nanti ada yang perlu ditambah, pasti tulisan ini saya update. Mohon kritik saran dan koreksi dari teman-teman sekalian. Boleh sekali bagi pengalamannya saat USG agar makin melengkapi tulisan saya ini dan membantu para ibu hamil yang bingung mau bertanya apa pada dokter kandungannya.

Terima kasih sudah membaca, ya.



Salam manis,

tha_





9 komentar:

  1. Balasan
    1. Makasi, Isha.. Tapi kayaknya masih ada yg belum tertulis. Masih belum inget, apaan ya 😂😂

      Hapus
  2. Wah iya ya bener kadang kita pengen banyak tanya tapi bingung pertanyaan tepatnya apa

    BalasHapus
  3. Halo mba. Aku setuju nih kalau pas kontrol ke dokter, kita juga harus banyak bertanya ya demi perkembangan bayi di kandungan :)

    BalasHapus
  4. Bagi ibu-ibu muda, terutama kehamilan pertama, sungguh penting nih panduan.

    BalasHapus
  5. Menarik sekali mbak sharingnya, biasanya saya sampai mencatat pertanyaan di kertas dan selalu sy sampaikan pada dokter kandungan. alhamdulillah dokter sy komunikatif banget, hamil jadi bahagia banget punya dokter spt beliau *curhat :D

    BalasHapus
  6. komplit, thanks banget mbak buat info nya

    BalasHapus
  7. Mba, lengkap banget. Dulu aku kok banyak diamnya. Bingung mau nanya apa. Kecuali ketika ada masalah baru nanya-nanya.

    BalasHapus
  8. Wuaaaa..iya benerrr....aku juga dulu suka bingung mau nanya apa ke dokternya. Pernah malah ganti dokter cuma gara2 dokternya pelit ngomong.
    Lahh...akunya bingung mo ngomong apa eh dokternya juga pasif cuma mau jawab aja nggak berinisiatif buat ngasi informasi.

    BalasHapus

terima kasih sudah membaca ^^
tolong berkomentar dengan sopan yaaa... saya suka membaca komentar kalian semua :*