06 Juli 2019

Terkena Kanker Serviks Saat Hamil, Apa yang Harus Dilakukan?


Kanker serviks bisa dialami juga saat wanita hamil. Kalau sudah begitu, apa yang harus dilakukan?


Sebuah fakta, 1 dari 3 wanita terkena kanker serviks saat hamil atau saat melahirkan. Jika mengalami hal itu, apa yang harus dilakukan oleh wanita?

Menurut dr. Adeline Jaclyn dari KlikDokter, kebanyakan pasien yang terdiagnosis kanker serviks saat hamil berada dalam stadium awal penyakit. Ini bisa ditemukan lewat hasil skrining prenatal yang rutin dilakukan.

Tes pap smear adalah tes yang direkomendasikan untuk dilakukan pada kunjungan awal pemeriksaan kehamilan, kecuali telah dilakukan sebelum kehamilan. Jenis tes ini sangat aman dilakukan saat hamil dan menjadi langkah awal untuk mendeteksi kemungkinan kanker serviks.

Kanker serviks pada masa kehamilan
Sebenarnya kanker serviks pada masa kehamilan cukup jarang terjadi. Akan tetapi, angka kejadian kondisi ini diperkirakan akan meningkat akibat lebih banyaknya wanita yang menunda untuk melahirkan.

Penelitian sejauh ini menduga bahwa kanker serviks yang terdiagnosis saat hamil tumbuh secara lambat dan cenderung tidak menyebar dibandingkan dengan kanker serviks pada wanita yang tidak hamil. Diagnosis tersebut bergantung pada hal-hal berikut:

Tipe kanker serviks yang dimiliki (tipe sel)
Seberapa besar tumor dan apakah sudah menyebar (stadium)
Usia kandungan saat terdiagnosis
Apa yang diharapkan
Risiko tindakan medis yang dipilih

Dalam beberapa kondisi, contohnya jika usia kandungan lebih dari 3 bulan, dokter mungkin menyarankan ibu untuk melahirkan lewat operasi Caesar lebih cepat. Selain itu, dokter juga mungkin akan melakukan pengangkatan rahim dalam waktu yang bersamaan.

Lalu, sang ibu mungkin membutuhkan terapi lebih lanjut untuk mengatasi kanker dengan melakukan kemoterapi dan radioterapi (kemoradioterapi). Tetapi, jika usia kandungan kurang dari 3 bulan, dokter mungkin akan mengambil tindakan secara langsung.

Menurut dr. Adeline, jika keputusannya Anda harus menjalankan terapi, maka kehamilan perlu dihentikan. Namun, bila ibu hamil ingin tetap melahirkan buah hatinya, maka dokter akan menunda terapi hingga usia kandungan lebih dari 3 bulan.

Penundaan ini dilakukan dengan alasan kemoterapi saat trimester pertama tidak dapat dilakukan karena dapat merusak janin atau menyebabkan keguguran.

Jadi, langkah awalnya yang bisa dilakukan adalah hal tersebut di atas. Di sisi lain, jangan lupa lakukan pencegahan lewat tes pap smear sebelum menikah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah membaca ^^
Tolong berkomentar dengan sopan yaaa... Maaf kalau ada yang belum terjawab :*