Categories

27 Februari 2020

Yogyakarta, Kota yang Penuh Kenangan Masa Perantauan


"Wah..."
Pekik kekaguman saya tertahan tatkala si kecil yang berada di pangkuan, sedikit menggeser badan yang terguncang. Ia memang sedang ada di pangkuan saya, terbaring lelap dengan manjanya. Anak lelaki satu-satunya yang masih berusia 2 tahun ini memang masih kurang enak badan sejak kemarin, maunya bermanja2 dan tak mau jauh dengan saya. Maunya dielus-elus dengan sayang, tak peduli aktivitas lain yang saya lakukan.

Sambil tetap berusaha tenang, saya kembali membuka halaman si album kenangan. Album yang berisi kisah perantauan semasa masih belum menikah. Kisah semasa masih di provinsi sebelah, di kota pelajar yang indah, Yogyakarta. Kisah yang bagi saya penuh duka, tapi oleh karena itulah kini rasa suka begitu meluap. Sebab... roda itu kan berputar.

"Terhanyut aku akan nostalgia
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja ... "

Ingin bepose demikian bersama suami. Sama seperti foto-foto anak muda di Instagram.

Setiap bagian perjalanan hidup anak manusia punya kisah unik tersediri. Penggalan lirik lagu Kla Project tersebut bukan mengartikan bahwa saya rindu pada penggalan kisah bersama seseorang di masa lalu. Masa di mana kami sering menghabiskan waktu di jalanan Malioboro yang ramai sambil bergandengan tangan, bak terpisahkan dan lanjut ke jenjang selanjutnya. Masa di mana tiap langkahnya begitu penuh harapan untuk selalu bersama.
Yogyakarta merupakan kota yang indah.

Ada kesan tersendiri yang menjadi magnet hingga ingin kembali ke daerah kesultanan ini. Bahkan Mama, yang dulu sering pulang pergi Pasuruan - Yogyakarta teruntuk menjenguk saya, putrinya tercinta, berharap ingin menjejakkan kakinya kembali. Saya pun menyanggupi, akan memboyong kami sekeluarga, berikut keturunan saya, kembali menikmati suasana Yogyakarta.

Rencana inipun disetujui oleh suami saya, sekaligus beliau ingin tahu betul bagaimana rutinitas istrinya ini dulu seorang diri di perantauan. Sedikit tak percaya, sebab yang beliau tahu saya adalah sosok manja yang tak pernah mau sendiri. Apalagi Yogyakarta dikenalnya sebagai kota yang keras, bukan sembarang orang yang bisa bertahan. Bahkan mustahil bisa nyaman mendapat pekerjaan sementara tak punya sanak saudara yang bisa diandalkan.

Kami lalu menyusun rencana bagaimana agar bisa hemat saat berkunjung ke Yogyakarta. Dari Sidoarjo, domisili kami sekarang, lebih enak bila bisa naik kereta sampai sana. Nanti turunnya di Stasiun Tugu Yogyakarta, lalu tinggal melangkahkan kaki ke jalan Malioboro. Penginapannya tinggal cari saja di sekitar Malioboro yang tak pernah sepi pengunjung ini.

Tapi saya lalu teringat bagaimana ribetnya dulu mencari penginapan untuk Mama saat beliau tiba-tiba sampai di Yogyakarta tanpa mengabari saya terlebih dahulu. Maunya membuat kejutan, meski memang akhirnya saya jadi terkejut karena bingung Mama kudu bermalam di hotel Jogja mana, sih. Sementara selama ini saya tinggal di tempat kerja, dan pastinya dilarang oleh atasan menambah sosok yang tinggal di dalamnya meski hanya semalam. Akhirnya saya jadi keluar masuk hotel di sekitar Malioboro dan mencari mana yang sesuai budget tapi bisa membuat Mama nyaman beristirahat.

Dulu memang tak secanggih sekarang. Kalau sekarang kan tidak perlu bermuka tebal keluar masuk hotel untuk tanya adakah kamar yang tersisa, berapa harganya dan apa saja fasilitasnya. Ada pencarian Hotel dari Pegipegi sebagai solusi traveling, bahkan bisa dipesan jauh-jauh hari. Tersedia pula banyak promo menarik yang membuat jadi irit karena potongan diskon yang diberikan di hotel Jogja pilihan.

Bisa buka Pegipegi via web ataupun via aplikasi. Pssst! Di aplikasi lebih banyak promo potongan harganya!

Harga yang tertera sudah termasuk pajak, jadi biaya yang ditampilkan itulah biaya yang kita bayarkan.
Hotel di Joga berkolam renang cuma seratus ribuan saja.



"Kutemukan cinta di indahnya Jogjakarta
Buat hidupku berwarna terbuai asmara
Kunikmati cinta berdua selalu denganmu
Menyusuri kota budaya Yogyakarta..."

Selalu akan ada cinta di Yogyakarta, cinta yang terpupuk dan membuatnya semakin penuh kenangan. Inilah yang ingin kami rasakan dengan mengunjungi Yogyakarta sekeluarga, sama seperti lirik lagu dari Bank Nina tersebut. Sama seperti ketika dulu saya memutuskan pergi jauh, namun nyatanya hubungan saya dan Mama membaik di Kota Pelajar ini. Bahkan kami bergandengan tangan penuh rindu sambil menyusuri jalan Malioboro yang penuh pedagang makanan dan pakaian.


Rencana saya dan suami ke Yogyakarta pun sejatinya demi melengkapi tujuan honeymoon kami yang tertunda karena dulu dilarang Mama ke luar provinsi Jawa Timur sebelum usai ngunduh mantu. Padahal cuti suami terbatas, usai acara di pihak pengantin pria tersebut, suami saya kembali bekerja. Honeymoon kami yang maunya sambil berjalan-jalan seperti yang orang-orang lakukan, tertunda. Hingga kemudian saya hamil lalu melahirkan Zril, sampai buah cinta kami usia 2 tahun ini pun keinginan jalan-jalan masih saja tertunda.

Alasan ini pula yang membuat kami nekad membuat target bisa ke Yogyakarta dan inap di hotel Jogja sekeluarga. Tentunya bersama si kecil tercinta agar dia tahu banyak sisi indah di hidup ini. Indahnya hidup ini akan semakin lengkap bila bisa menemukan hotel murah Jogja dengan kolam renang di dalamnya. Caranya? Pakai Pegipegi dan aktifkan fitur cari hotel berkolam renang, donk. Serta set pencarian hotel dari harga termurah, jadi bisa lebih hemat meski bawa semua anggota keluarga. Coba deh ikutan cek link berikut agar tahu mana hotel di Jogja yang murah tapi kaya fasilitas yang menyenangkan.

"Oh, kali ini aku jatuh cinta
Bukan pada orang tapi pada suasana dan kota
Kenangan indah dan manis hias tawaku penuh riang
Hatiku nyaman, hatiku senang..." -- Everyday.





1 komentar :

  1. Duh, Jogja. Mba Artha udah orang keberapa yang bilang ingin balik ke Jogja. Jadi bikin penasaran aku yang belum sekalipun menginjak kaki di sana

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca ^^
Tolong berkomentar dengan sopan yaaa... Maaf kalau ada yang belum terjawab :*

Back to Top