14 Desember 2018

Dongeng Mak Aten Penginspirasi Hidup Saya





Adalah benar bila nenek adalah sosok yang sangat sayang pada cucunya. Terutama nenek dari pihak ibu.
Mitos katanya, tapi saya merasakan kasih sayang yang ekstra dari beliau. Mungkin karena sikap beliau yang lembut dan ekspresif, berbeda dengan sikap Mama yang kaku sebagai ibu.

Baca Juga: KenanganMasa Kecil (Mantan) Bidan yang Suram Mengajarkan Banyak Hal 


Mak Aten, begitu saya memanggil nenek saya. Tinggalnya di Kabupaten Sidoarjo dekat Terminal Bungurasih, berbeda dengan kami yang berada di tepi Kota Pasuruan. Meski tidak memiliki kendaraan sendiri, Mak Aten sering sekali ke rumah kami. Wanita tua tersebut bahkan berangkat sendiri naik bus! Tidak jarang, beliau membawa banyak buah tangan untuk anak-cucunya di kota seberang.

Hebat ya, padahal tepi jalan raya tempat penurunan penumpang bus, masuk ke jalan kecil daerah rumah kami sampai ke gang rumah, jaraknya lumayan jauh. Walau sekarang saya sudah dewasapun, rasanya tidak mau jalan kaki sejauh itu. Namun Mak Aten dengan suka ria sampai rumah. Sayang ya saat itu belum ada sarana komunikasi seperti ponsel, jadi tidak tahu kapan Mak Aten sampai dan kapan bisa dijemput. Huhu.

Selama Mak Aten di rumah, suasana sungguh menyenangkan. Saya ingat, dulu di Desember begini, beliau datang membawa kue yang besar. Namanya kue ban, teksturnya seperti bolu tapi bentuknya seperti donat raksasa. Sengaja susah-susah dibawa demi merayakan pertambahan usia saya. Ah, sekali itu…hanya sekali itu di masa kecil, saya mendapat kue dan ucapan khusus dari keluarga. Dulu memang Mama tidak pernah merayakan hari istimewa tersebut, baik untuk saya maupun adik. Jadi terkadang ada rasa iri pada teman-teman yang mengundang pesta ulang tahun. Syukurlah Mak Aten membawa roti, jadi ada bayangan,”Oooh begini ya rasa dirayakan pergantian usianya.” Yah, namanya juga anak kecil.

Tiap beliau ke rumah, saya tidur dengannya. Sebelum tidur, beliau mendongeng. Ada si Kancil, Bawang Merah Bawang Putih, Ande-ande Lumut dan masih banyak lagi. Lalu beliau mengajarkan doa sebelum tidur, dan terlelap bersama. Tidak lupa pelukan di waktu tidur, beliau berikan. Ah rasanya hangat dan nyaman.

Perpisahan dengannya pun membawa suasana haru. Agar saya tidak sedih, beliau berjanji membawakan jepit yang banyak, satu kresek besar! Wow! Saya sudah terbayang akan memakai jepit rambut warna-warni saat ke sekolah dan jadi tidak sabar menunggu kunjungan Mak Aten berikutnya. Zonk! Saat yang diharapkan datang, ternyata yang dibawanya ialah jepit, makanan ringan dari tepung yang dibentuk tipis di pemanggang dan diambil menggunakan penjepit. Bukan jepit rambut. Haha, bukannya sedih, saat itu saya terbahak-bahak.

Terima kasih, Mak Aten. Dengan adanya beliau, saya memiliki kenangan masa kecil yang manis. Dan inilah yang kemudian menginspirasi saya, bagaimana baiknya bila sebelum tidur saya juga mendongeng dan mengajarkan doa pada BabyZril. Pun bagaimana bersikap hangat dengan memeluk dan mencium, ini semua saya dapat dari Mak Aten. Rindu, namun sudah tidak bisa bertemu. Semoga beliau tenang di sisiNya.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah membaca ^^
Tolong berkomentar dengan sopan yaaa... Maaf kalau ada yang belum terjawab :*